Tanggal 22 November 2020, saya mendengar kisah seorang tetangga Rois (nama samaran) yang berkisah bahwa beberapa minggu sebelumnya, ia merasakan demam tinggi selama beberapa hari. Rois tiba-tiba tidak bisa mencium bau sesuatu. Menurut laporan medis, demam yang disertai gejala tidak bisa mencium bau sama sekali adalah ciri-ciri orang yang terpapar virus corona. Menurut pengakuan Rois, ia takut untuk periksa ke dokter karena sedang musim korona. Ia memilih diam di rumah dan isolasi mandiri.

Rois melanjutkan ceritanya bahwa ia memiliki teman dekat seorang dokter dan berkonsultasi via telpon. Sang dokter menyarankan agar Rois melakukan isolasi mandiri dengan menghindari kontak dengan orang lain termasuk dengan keluarga. Sang dokter dengan baik hati memberikan obat dan vitamin untuk memulihkan kondisi fisik tetangga saya tersebut. Setelah tiga hari isolasi mandiri dan mengkonsumsi obat dari dokter, Rois akhirnya bisa mencium bau seperti sedia kala. Ia melanjutkan isolasi mandiri hingga batas yang ditentukan tidak terjangkit virus.

Setelah mendengar kisah ini, saya basa-basi bertanya, “Kenapa sampean tidak periksa saja ke dokter, Mas? Biar jelas!”

“Saya belum siap mendapat stigma negatif dari masyarakat jika ketahuan mengidap penyakit korona. Kalau ada yang tahu bisa geger sak kampung” Begitu kelakar Rois saat saya tanya.

Fenomena ini jamak terjadi di masyarakat bahwa orang yang terpapar virus covid-19 dianggap aib yang hina, sehingga perlakuan masyarakat terhadap pasien covid-19 kurang begitu baik. Yang membuat hati miris adalah adanya penolakan terhadap janazah pasien virus tersebut di beberapa daerah beberapa waktu lalu.

Stigma negatif semacam ini adalah tindakan nir-kemanusiaan dan justeru akan memperparah kondisi pasien dan pihak keluarga. Setidaknya ada dua dampak buruk yang ditimbulkan stigma negatif ini. Pertama, secara psikologis, stigma negatif kepada pasien covid akan menimbulkan keresahan dan kecemasan yang berakibat pada turunnya imunitas tubuh. Kedua, keluarga dan orang yang terpapar covid pada akhirnya akan menyembunyikan penyakit mereka dari khalayak. Hal ini tentu berbahaya dan menyulitkan tenaga medis dalam melakukan tracking dan penanganan.

Lantas, bagaimana ajaran agama memandang kondisi semacam ini? Apakah ada tuntunannya? Jika kita kita pahami secara jernih, pasien covid-19 itu sama dengan orang yang terkena penyakit lain, seperti liver, jantung, gula, types dan lain sebagainya. Layaknya orang yang sedang sakit, mereka butuh dukungan motivasi dan doa dari keluarga, kolega dan rekan-rekan.

Dalam banyak hadis, Nabi menyebutkan beberapa keistimewaan orang yang sakit jika bersabar dengan sakit yang diderita. Dalam konteks virus covid-19 ini, sabar bisa dimaknai sabar menjalani perawatan, isolasi mandiri dan melakukan upaya-upaya untuk menjadi sehat kembali. Salah satu yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad terkait orang yang sakit adalah bahwa orang sakit itu doanya maqbul (diistijabah oleh Allah), sakit adalah bagian dari kondisi yang bisa menghapus dosa; sakit boleh jadi adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya agar sang hamba isntrospeksi diri. Bahkan, jika covid-19 disepakati sebagai wabah Tha’un, maka yang meninggal karenanya dinilai mati syahid.

Dari beberapa keistimewaan orang sakit ini, maka tidak pantas bagi kita untuk menstigmasi negatif terhadap orang yang sakit termasuk pasien covid-19. Orang sakit yang bersabar dengan sakitnya dengan berikhtiyar untuk sehat adalah orang-orang mulia yang sangat tidak patut untuk dinistakan. Kita patut memberikan apresiasi dan dukungan secara moril kepada para kolega, rekan kerja atau siapapun yang berbesar hati menjelaskan kondisinya yang terpapar covid-19 dan sedang menjalani proses pemulihan diri. Kita doakan semoga mereka lekas sembuh seperti sedia kala dan semoga kita diselamatkan dari wabah virus ini. Amin.