Islamsantun.org. Saya sedang persiapkan paper tentang “Apa itu Injil yang Disebutkan dalam al-Qur’an” untuk dipresentasikan di Notre Dame dan Oxford, awal dan akhir September. Ini bukti saya orang pemalas: satu paper dipresentasikan di dua tempat berbeda.

Saya membaca kitab-kitab tafsir, klasik dan modern. Semua mufassir sepakat bahwa Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa, sementara Injil diturunkan kepada Nabi Isa. Sejauh yg saya baca, tak ada perbedaan pendapat tentang itu.

Sebagai wahyu yang disampaikan Tuhan kepada Musa, dalam pandangan para mufassir, Taurat tidak meliputi seluruh Alkitab Ibrani (dlm Kristen, disebut “Perjanjian Lama”), yang dikenal dengan akronim TANAKH, yakni Taurat (lima kitab pertama), Nevi’im (nabi-nabi), dan Ketuvim (tulisan), melainkan hanya bagian pertama itu, yakni Taurat itu.

Saya meneliti ayat-ayat al-Qur’an secermat mungkin, dan sampai pada kesimpulan berbeda dengan para mufassir. Berikut saya ringkaskan sebagian bacaan saya:

Al-Qur’an tidak pernah menisbatkan Taurat kepada Musa. Kata “taurat” muncul 18 kali dan dikaitkan dengan ahlul kitab, orang-orang Yahudi dan Isa, tapi tdk pernah dikaitkan dengan Musa, walaupun nama Musa muncul 136 kali (nama Nabi paling sering muncul dlm al-Qur’an).

Dlm 14 ayat, al-Qur’an menyebut Tuhan memberikan “kitab” kepada nabi Musa. Pertanyaannya, apakah “kitab” dan “taurat” itu menujuk pada obyek yang sama atau berbeda?

Jawaban saya: Dua kata itu (“kitab”dan “taurat”) merujuk pada dua hal berbeda. Mengikuti logika al-Qur’an, kata “kitab” sebagai wahyu yang diterima Musa merujuk pada lima kitab pertama Perjanjian Lama. Sementara kata “taurat” dalam al-Qur’an merujuk pada keseluruhan Perjanjian Lama.

Karena itulah al-Qur’an mengasosiasikan “Taurat” dengan ahlul kitab (Yahudi dan Kristen), Yahudi dan Isa, tapi tidak dengan Musa. Sebab, Taurat yang disebutkan dalam al-Qur’an ini meliputi bukan hanya kitab-kitab yang dikaitkan dengan Musa, melainkan juga kitab-kitab lain yang terkandung dalam Perjanjian Lama.

Pemahaman al-Qur’an ini bukan sesuatu yang aneh. Dalam tradisi Yahudi, kendati taurat memang sering diasosiasikan dengan ajaran yang dibawa Musa, namun kata itu juga diberi konotasi luas meliputi keseluruhan ajaran Nabi-nabi. Jadi, secara historis, keseluruhan Alkitab Ibrani atau Perjanjian lama dalam istilah Kristen itu juga sering disebut Taurat.

Kesimpulan ini diperkuat oleh data al-Qur’an sendiri. Misalnya, 2 ayat (Q 3:48 dan 5:110) menyebutkan Isa diberikan atau diajarkan “kitab”, “hikmah”, “taurat” dan “injil”. Di sini tampak jelas bahwa “kitab”, “taurat” dan “injil” disebutkan secara terpisah.

Kedua ayat itu juga menunjukkan bahwa “Injil” merujuk pada ajaran inti Isa yang kemudian dimasukkan ke dalam kitab-kitab injil, dan bukan “kitab injil” yang diterima oleh Isa. Pertama, sulit dibayangkan Isa menerima injil dalam bentuk kitab langsung. Kedua, injil selalu disebutkan dlm bentuk singular, yang merujuk pada ajaran, bukan the actual book.

Jadi, ketika al-Qur’an menyebutkan Isa menerima “injil” dari Tuhan, jangan dibayangkan bahwa ia menerima kitab injil. Dalam bacaan saya, al-Qur’an tidak melihat “injil” sebagai kitab, tapi semata sebagai ajaran Isa yang diterima dari Tuhan.

Tentu, ajaran-ajaran Isa itu kemudian dimasukkan ke dalam kitab Injil yang ditulis oleh para pengikut Isa. Pemahaman ini sejalan dengan makna awal kata “injil”, yang berasal dari kata Yunani “euangelion” (menurut para ahli, versi Arabnya diadopsi dari bahasa Etiopia), yang berarti “kabar baik.”

Dgn demikian, kita dapat memahami kenapa kata “injil” tidak pernah muncul dlm bentuk jamak dalam al-Qur’an, padahal ada empat kitab injil. Tentu saja, “kabar baik” yang diajarkan Isa itu pada akhirnya “termaktub” (berasal dari kata “kitab”) dalam kitab Injil yang empat itu. Dan ketermaktuban itu juga bisa dipahami dari ayat-ayat al-Qur’an.

Misalnya, Q 7:157 mengatakan bahwa “orang-orang yang mengikuti Nabi yang ummi (merujuk pada Muhammad) akan menemukannya tertulis dalam Taurat dan Injil.” Lihat, “menemukannya tertulis.” Kenyataannya, sejumlah ulama Muslim menafsirkan beberapa ayat dalam Taurat dan Injil sebagai isyarat tentang kedatangan Muhammad. Ya, namanya juga menafsirkan. Orang Kristen bebas menafsirkan dengan caranya sendiri, orang Islam pun demikian.

Poin saya ialah, jika merujuk pada al-Qur’an, pandangan yang menyebutkan Taurat dan Injil sebagai dua kitab yang diturunkan kepada Musa dan Isa itu tidak terkonfirmasi dalam ayat-ayat al-Qur’an sendiri. Saya mencoba memahami pandangan al-Qur’an in its own terms.

Memang, saya masih perlu menerungkan kesimpulan ini lebih jauh, dan merumuskannya dalam tulisan akademis untuk didiskusikan. Jika ada ahli studi Quran dan tafsir yang berminat mendiskusikannya di sini, ya silakan. Saya akan belajar sebelum menuliskannya dalam paper.