“Jangan pernah berhenti belajar.” Demikian pesan Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri) dalam suatu kesempatan.

Ya, saya sepakat 100% dengan Gus Mus. Terus belajar dan belajar terus akan membuat kita sadar kebodohan kita. Terus belajar dan belajar terus juga akan menjadikan kita lebih arif dan bijak dalam menyikapi sesuatu.

Orang-orang seperti ini termasuk kategori “rajulun yadri annahu la yadri”. Dia tahu dan sadar bahwa dirinya tidak tahu. Artinya, orang tersebut menyadari kebodohannya. Sehingga mau terus belajar membenahi diri dan membuka diri dengan mencari ilmu sebanyak- banyaknya. Walhasil, dia tidak mudah menghukumi dan menghakimi orang lain yang berbeda dengannya.

Mengapa seseorang mudah menyalahkan orang lain yang berbeda pandangan dengannya, sekaligus merasa paling benar sendiri? Salah satu alasannya adalah karena dia sudah berhenti belajar. Dia berhenti belajar karena sudah merasa pintar dan tidak butuh dengan ilmu-ilmu baru. Atau dia tetap belajar, tetapi merasa cukup dengan satu referensi yang sesuai dengan pandangannya saja, tidak mau membuka diri untuk belajar hal yang berbeda dari yang dia pahami. Orang-orang seperti ini termasuk ke dalam kategori “rajulun la yadri annahu la yadri”. Orang yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu. Atau dengan kata lain, orang yang tidak menyadari kebodohannya.

Dari kedua kategori tersebut, tentu yang lebih baik adalah kategori pertama, yaitu orang yang tahu dan sadar bahwa dirinya tidak tahu, sehingga mau terus belajar. Orang-orang seperti ini adalah orang yang tahu diri dan sadar diri.

So.. jadilah manusia pembelajar yang terus menerus belajar, sebagaimana dawuh Gus Mus yang saya kutip di awal tulisan ini: “Jangan pernah berhenti belajar”.

* Ruang Inspirasi, Selasa, 8 Juni 2021.