Bulan Ramadan selain sebagai Syahrul Qur’an, merupakan bulan yang didalamnya penuh dengan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah suku Jawa yang mempunyai banyak tradisi ketika Ramadan tiba, seperti halnya nyadran, megengan, dan padusan. Tepatnya di Dusun Klepu, Desa Kalak terdapat sebuah tradisi yang dinamakan dengan Tempelangan. Tradisi tempelangan merupakan suatu ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. dengan membawa makanan ke masjid yang dibungkus dengan daun pisang.

Tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun dan selalu dilaksanakan oleh masyarakat sekitar penulis, ketika sudah memasuki bulan Ramadan. Terdapat hal unik dari tradisi ini, yaitu serba-serbi kelakar dari para bapak maupun ibu ketika berangkat membawa makanan dengan mengatakan buat sangu mindho. Sesuai informasi yang penulis dapat, bahwa sejarahnya tradisi tempelangan mengalami perubahan dalam bentuk pembawan makanan.

Awalnya makanan ditempatkan dalam wadah ceting bersamaan dengan daun pisang yang dibawa oleh per kelompok. Namun, dengan berjalannya waktu menimbulkan permasalahan berupa banyaknya makanan yang mubazir. Sehingga, terdapat salah satu masyarakat yang mengusulkan membawa makanan tempelangan per bungkus sesuai jumlah anggota keluarga dan akhirnya hal tersebut dilakukan sampai sekarang ini.

Penerapan tradisi tempelangan seiring berkembangnya zaman, bungkus daun pisang terkikis tergantikan oleh kertas minyak tetapi masyarakat tetap menjaga keutuhan ciri khas budaya jawa tersebut. Adanya perubahan pembawaan makanan tersebut tidak mengurangi dan merubah kegiatan yang ada di dalamnya, serta pelaksanannya tetap khusyuk.

Tradisi tempelangan dilaksanakan setelah shalat tarawih, yang diawali dengan lantunan shalawat nabi khas logat jawa serta diiringi irama tabuhan bedug yang bertujuan untuk memohon keberkahan dari Allah Swt. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan dzikir tahlil dengan khidmat dan sebagai sarana mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal. Kegiatan ini membuat para jamaah meresapi hidupnya, bahwasanya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita semua pasti akan kembali.

Tradisi tempelangan dalam tujuan pelaksanaanya terdapat dua pembagian. Pertama, tradisi tempelangan dengan tujuan untuk kegiatan khataman Al-Qur’an dan memperingati Nuzulul Qur’an serta mengharapkan keberkahan keutamaan malam 17 Ramadan. Sebelum diadakan hal tersebut, terdapat kegiatan tadarusan yang menargetkan khatam Al-Qur’an pada tanggal 15 Ramadan.

Kedua, tradisi tempelangan ini dilaksanakan pada malam sepuluh hari terakhir yang terkenal dengan sebutan Maleman yang tujuannya sebagai nyadong malam Lailatul Qadr. Dalam istilah masyarakat sekitar penulis, maleman di ibaratkan seperti ayam yang dibagi menjadi tiga bagian pelaksanan, yaitu malam 21 Ramadan (kepala), 25 Ramadan (tengah), dan 29 Ramadan (ekor). Hal ini dipercayai masyarakat bahwa jatuhnya malam Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadan, namun di malam 23 dan 27 Ramadan tidak diadakan tradisi tempelangan tetapi masyarakat akan menyambutnya dengan doa. Sesuai hadits riwayat Bukhari “Carilah lailatul Qadr itu malam-malam ganjil di sepuluh terakhir dari bulan Ramadan”.

Analisa penulis, tradisi tempelangan menghasilkan kebiasaan unik bagi anak-anak yang sering dikenal dengan titen tempelangan. Sesuai pengalaman hal ini dilakukan anak-anak dengan menempatkan dirinya di dekat pintu masuk masjid dengan titen siapa yang membawa, lalu ditaruh disebelah mana. Ketika kegiatan sudah selesai dilakukan, anak-anak langsung eksekusi dengan tujuan mendapatkan makanan yang diinginkan. Tradisi ini juga berdampak positif, karena mengundang banyak jamaah shalat Tarawih yang berdatangan memenuhi masjid.

Tidak perlu kita permasalahkan apakah niat jamaah tersebut untuk beribadah atau mendapatkan makanan, karena hanya Allah Swt yang dapat mengetahuinya. Tradisi tempelangan memberikan makna sosial bahwasanya dalam kehidupan masyarakat tidak terdapat perbedaan golongan, dengan bertukar tempelangan penuh dengan rasa kesederhanaan dan kerukunan. Tradisi ini juga mengajarkan untuk selalu mendoakan para leluhur yang telah menghadap kepada Sang Khalik. Di bulan suci Ramadan dengan tangan menengadah penuh keikhlasan semoga kita mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

*Tulisan ini merupakan kerja sama antara UKM LPM Dinamika dengan media islamsantun.org.

Achfan Aziz, mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.