“Man ‘allamani harfan kuntu lahu ‘abdan”
(Ali Bin Abi Thalib. r.a.)

Siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku (rela) menjadi ‘hamba (budak)’-nya. Demikian kira-kira makna harfiyah dari ungkapan Ali bin Abi Thalib r.a. di atas. Ya, beliau bersedia menjadi ‘abdun’, hamba, budak, atau pelayan bagi siapa saja yang mengajarinya suatu ilmu, meski hanya satu huruf saja.

Ungkapan bijak sarat makna tersebut adalah sebuah bentuk kemuliaan sikap seseorang yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Dari ungkapan tersebut tersirat jelas akhlak yang luhur seorang pencinta ilmu. Padahal kita semua mafhum siapa Ali Bin Abi Thalib itu? Beliau adalah pintu atau gerbang pengetahuan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam salah satu sabdanya: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka siapa saja yang ingin mendapat ilmu, hendaknya ia melewati pintunya.” (HR. Al-Hakim)

Berpijak pada ungkapan tersebut, aku pun ingin mengikuti jejaknya sebagai seorang pencinta ilmu pengetahuan. Aku ingin meneladani sikap luhur, akhlak mulia, serta kerendahan hati (tawaduk)-nya.

Dalam balutan momen istimewa ini, yaitu Hari Guru Nasional, aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam kepada seluruh guruku yang telah mengenalkanku pada dunia ilmu pengetahuan, sejak aku mulai belajar membaca, menulis dan berhitung, hingga aku dapat belajar menjalani hidup dan kehidupan.

Guru yang ku maksud di sini, tidak sebatas mereka yang telah mengajar dan mendidikku di sekolah formal sejak Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi saja, tetapi semua yang telah mengajariku tentang arti dan makna hidup yang sesungguhnya, melalui serangkaian peristiwa dan episode kehidupan yang aku jalani dan dan rasakan hingga saat ini.

Guru pertamaku, tentu saja adalah kedua orang tuaku. Mereka bukan saja ku anggap sebagai guru, tetapi sebagai sekolah kehidupan. Kedua orang tuaku adalah “Al-Madrasat al-Ula”, sekolah pertamaku di dunia ini. Beliau berdualah yang mula-mula menerapkan sistem “Full-Day School”. Dua puluh empat jam waktu yang disediakan Allah adalah seluruhnya menjadi jam belajarku di rumah. Dan kedua orang tuakulah yang menjadi guru utamanya.

Guruku selanjutnya adalah Para Bapak dan Ibu Guru ketika aku belajar dari tingkat kanak-kanak, tingkat dasar, tingkat menengah, hingga tingkat perguruan tinggi. Mereka adalah orang-orang hebat yang telah berjasa membentuk kepribadianku, cara pandangku, serta meluaskan wawasanku hingga aku bisa menjadi seperti ini.

Guruku berikutnya adalah sahabat-sahabatku, teman sepergaulanku, orang-orang di lingkungan tempat aku tinggal, bekerja, serta semua saja yang aku jumpai dalam kehidupanku. Mereka, baik secara langsung ataupun tidak langsung telah mewarnai perjalanan hidupku dengan aneka warna. Aku banyak belajar dari mereka tentang bagaimana menyikapi hidup ini.

Guruku yang tidak kalah pentingnya, atau yang aku sebut sebagai guru imajinerku adalah para penulis buku, baik mereka yang sudah wafat berabad-abad lamanya, maupun yang kini masih hidup, yang karya-karya mereka banyak memberi pengaruh positif dalam kehidupanku. Mereka telah berperan dalam membentuk kepribadianku, baik dalam berpikir, bersikap, maupun berperilaku melalui karya-karya besarnya.

Pada kesempatan yang luar biasa ini, dalam momen Hari Guru Nasional, perkenankan aku sekali lagi untuk menghaturkan rasa terima kasihku yang paling tulus untuk mereka, orang-orang hebat dan mulia. Aku memohon kepada Allah SWT., semoga jasa baik mereka semua dibalas dengan limpahan rahmat dan kasih-sayang Allah, serta diberi kelimpahan berkah kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti. Amiiin….

* Ruang Inspirasi, Kamis, 25 November 2021