Islamsantun.org. Hari ini kita membuka lembar ketiga kehidupan kita di tahun baru ‎‎2022. Suasana gegap gempita perayaan tahun baru perlahan mulai pudar. ‎

Ya, hari ini kita kembali menjalani rutinitas pekerjaan sehari-hari ‎setelah melewati libur akhir pekan, bertepatan dengan tahun baru itu. Kita singsingkan kembali lengan baju untuk menjalani aktivitas kehidupan ‎penuh semangat dan optimisme.‎

Hasan al-Bashri dalam sebuah kesempatan pernah berkata, “Wahai ‎anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila ‎berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu.” ‎

Tepat sekali pernyataan Hasan Al-Bashri tersebut. Kita ini bagian dari ‎hari. Hidup kita ini selalu diliputi oleh waktu, dan tak pernah lepas darinya. ‎Dalam menjalani kehidupan ini, sejak kita bangun tidur hingga tidur lagi, ‎selalu disertai oleh detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tidak ‎pernah kita dapat melepaskan diri dari waktu. ‎

Meski kita diam seharian, waktu tetap bergerak dan berjalan. Waktu ‎tidak pernah kompromi. Apakah kita tengah diliputi rasa suka cita ataukah ‎duka cita, waktu terus berlalu. Apakah kita memenuhi hari-hari dengan dosa ‎dan maksiat ataukah dengan amal shalih, waktu tetap berjalan. Ketika sang ‎waktu telah beranjak dari kehidupan kita, maka sampai kapan pun ia tak akan ‎pernah kembali lagi. Lan tarji’a al-ayyam al-lati madhat, sungguh tidak akan ‎pernah kembali lagi hari-hari yang telah berlalu. Demikian sebuah syair dalam ‎bahasa Arab menyebutkan. ‎

Persoalannya adalah apakah waktu-waktu yang telah berlalu kita isi ‎dengan aktivitas positif, amal shalih, serta goresan tinta emas, ataukah justru ‎kita penuhi dengan lembaran-lembaran kelam serta catatan hitam dosa-dosa ‎kita?‎

Kita tentu sering mendengar ungkapan: “Penyesalan selalu datang ‎terlambat.” Jika kita mengisi masa lalu kita dengan hal-hal yang sia-sia, ‎apalagi berdampak buruk bagi diri kita, lebih-lebih terhadap orang lain, tentu ‎kita akan menyesal. Dan tentu, penyesalan itu baru datang setelah kita ‎menyadari kesalahan kita tersebut.‎

Sebaliknya, jika masa lalu kita, hari-hari yang telah kita lewati kita isi ‎dengan hal-hal positif, dengan catatan prestasi, dan juga serangkaian ‎kesuksesan, tentu kita akan mengenangnya dengan penuh suka cita.‎

Untuk menghindari penyesalan yang selalu datang terlambat, maka ‎alangkah bijaknya jika kita selalu berpikir dulu sebelum bertindak, karena ‎sesal kemudian tiada guna.‎

Adapun jika kita sudah terlanjur melakukan tindakan di masa lalu yang ‎membuat kita menyesal saat ini, maka tidak ada cara lain yang dapat kita ‎lakukan selain bertaubat, yaitu memohon ampun kepada Allah Swt., mengakui ‎dosa-dosa kita di masa lalu, disertai niat untuk memperbaiki diri, dengan ‎terlebih dahulu membuat komitmen dengan diri sendiri untuk tidak ‎mengulanginya di kemudian hari.‎

* Ruang Inspirasi, Senin, 3 Januari 2022.