“Eh, ada ninja tuh.”

Gek opo ora sumuk ya?” (Apa tidak gerah ya?)

“Masa sprei dipakai buat kerudung sih.”

Kiranya, itulah komentar yang sering kita temui manakala seseorang melihat perempuan bercadar dengan baju longgar. Stigma perempuan bercadar sebagai sosok tertutup dan berjarak tampaknya masih sukar terhapus. Tak terkecuali di kampus sekalipun. Ketika ramai pelarangan mahasiswa bercadar, seorang dosen membuat penyataan: kuliah itu tatap muka, bukan tatap mata. Meskipun ada pula yang mengatakan: soal pakaian mah bebas-bebas aja.

Saya termasuk yang “membebaskan” mahasiswa berpakaian di kelas (luring). Eh, tidak sepenuhnya bebas sih. Saya melarang mahasiswa pakai jersey/kaos/jaket MU di kelas. Karena saya tidak suka MU. Hehe. Mohon maaf.

Bicara soal cadar, belum lama saya nonton video social ads berdurasi dua menit yang diproduksi kawan-kawan islami.co. Video itu bertajuk Menjadi Aku Tak Harus Kaku. Video dibuka dengan kemunculan perempuan bercadar berpakaian serba hitam. Menariknya, ia berjalan sambil menenteng skateboard. Tak lama kemudian, ia pun memainkannya. Maka gambar yang hadir pun cukup unik: seorang perempuan bercadar meluncur di jalan dengan skarteboard.

Pada adegan berikutnya kita bisa melihat perempuan itu membantu seorang laki-laki menaikkan koper. Ada pula scene ketika ia ngopi-ngopi cantik dengan perempuan lain yang dan tak bercadar. Mereka tampak akrab seolah cadar tak berhasil menjadi sekat. Juga scene ketika ia memainkan gitar (ini mengingatkan saya pada film Secret Superstar).

Menariknya, ada bagian di mana perempuan bercadar itu jalan-jalan dengan seekor anjing. Gambar yang tampil pun terasa manis: perempuan bercadar berjalan santai memegang tali dengan anjing terikat di tali itu. Seolah hal itu sudah biasa ia lakukan. Jika mau dibaca secara semiotik, gambar itu mengirim pesan yang penting, bahwa perempuan bercadar tidak selalu sama dengan yang selama ini dipersepsikan.

Rupanya, ia tidak sekadar jalan-jalan dengan anjing, gambar berikutnya menunjukkan si perempuan bercadar bermain dengan anjing. Bermain dalam arti sebenernya, ada interaksi dan kontak fisik. Gestur tubuh perempuan itu tampak biasa saja, nyaman-nyaman saja, tidak risih bermain dengan anjing.

Saya membayangkan penonton akan “terbelah” demi melihat adegan itu. Mereka yang, katakanlah, sedikit konservatif mungkin akan mencibir: ih video apa sih ini, masa perempuan berhijab dan bercadar kok digambarkan bermain dengan anjing. Kampanye JIL ini! Sementara itu, ada kelompok lain yang menonton sambil manggut-manggut dan senyum-senyum. Akankah kolom komentar menjadi arena “pertukaran gagasan”?

Lepas dari respons penonton, islami.co kiranya telah menghadirkan video yang (akan) menambah panjang diskusi tentang hijab, jilbab dan cadar. Sebelumnya sudah terhampar banyak diskusi, mulai dari larangan cadar masuk kampus hingga Najwa Shihab yang tidak memakai jilbab.

Menonton video pendek itu kita belajar tentang stigma, persepsi, cap, label, prasangka. Tentu kita tak bisa gegabah memberi cap kepada perempuan bercadar sebagai teroris. Dan yang pakai celana cingkrang, berjenggot tebal, berkening hitam sebagai ekstremis. Sama halnya tidak boleh memberi label mereka yang gemar bersongkok hitam dan bersarung sebagai orang NU yang ahli bida’ah.

Social ads yang dibikin kawan-kawan islami.co mengajak kita merenungkan kembali makna “adil sejak dalam pikiran”.