Pada gelaran ISRL 2020 Aris Munandar dan Didid Haryadi mempresentasikan paper bertajuk Interpretation of Social Piety In Hijrah Group: A Case Study of the Terang Jakarta & Shift Bandung Hijrah Communities. Riset tersebut menemukan bahwa gerakan hijrah memunculkan fenomena hadirnya ustaz baru yang menggeser otoritas agama tradisional yang selama ini mendapat pengakuan masyarakat. Gerakan hijrah juga menghadirkan wajah baru, yakni Islam ringan (light Islam).

Mengenai pergeseran otoritas keagamaan kiranya sudah diperbincangkan sejumlah sarjana. Hanya saja istilah Islam ringan (Munandar dan Haryadi juga menggunakan istilah Islam ready to use/Islam siap saji) boleh jadi adalah istilah yang cukup segar untuk menggambarkan fenomena komunitas hijrah. Istilah itu setidaknya untuk menggambarkan dua komunitas hijrah yang diamati Munandar dan Haryadi, Terang Jakarta dan Shift Bandung.

Apa yang disebut Munandar dan Haryadi sebagai Islam Ringan, menurut saya, sebetulnya juga cukup relevan untuk melukiskan komunitas-komunitas hijrah di berbagai tempat yang marak bermunculan beberapa tahun terakhir ini. Beberapa komunitas hijrah dalam kajian-kajian yang mereka adakan memang menampilkan tema-tema yang tidak berat. Tema-tema seperti Dulu Nakal Sekarang Tawakal, Agar Hijrah Tak Salah Arah, Kajian Pra Nikah mudah kita temui.

Kenapa tema-tema kajian di komunitas hijrah cenderung ringan? Bagi saya, ini terkait dengan segmen yang disasar oleh komunintas hijrah, yaitu anak-anak muda. Kajian yang berat, yang membuat kening berkerut, seperti Islam dan filsafat misalnya, tampaknya tidak terlalu diminati oleh anak-anak muda muslim masa kini.  Anak-anak muda, salah satunya karena pengaruh sosial media, menggemari budaya populer. Komunitas hijrah masuk ke wilayah itu.

Suatu waktu saya pernah datang ke pengajian salah satu komunitas hijrah di Solo. Pemandangan menarik yang saya lihat adalah anak-anak muda yang datang sebagian besar berpakaian kasual. Ada yang bahkan memakai kaus dan celana jins. Memang tidak ada aturan tentang cara berpakaian di komunitas itu, bahkan boleh jadi cenderung dibebaskan. Praktik “Islam ringan” begitu terlihat dalam cara mereka menampilkan diri dengan pakaian yang dikenakan. Soal pakaian menarik disoroti karena lazimnya mereka yang datang ke pengajian mengenakan baju koko dan peci, sedang di komunitas hijrah cenderung cair.

Perihal Islam yang ringan juga bisa kita amati dari akun-akun media sosial komunitas hijrah. Unggahan-unggahan mereka menunjukkan betapa karib mereka dengan hal-hal kekinian. Poster undangan mengikuti kajian misalnya, didesain seperti poster film yang sedang tren, atau seperti game yang sedang ramai dimainkan dst. Terbaca upaya untuk tetap relate dengan anak-anak muda. Bahkan, di penelitian Munandar dan Haryadi disebutkan bahwa komunitas Terang Jakarta dan Shift Bandung influencer, selebritis dan tokoh terkenal untuk menarik anggota baru di media sosial.

Penggunaan media sosial sebagai sarana dakwah tentu sudah jamak diketahui. Sifatnya yang timeless dan borderless menjadikan media sosial sebagai primadona. Lebih-lebih mengingat anak-anak muda masa kini seolah tak bisa lepas dari gawai dan terus terkoneksi. Maka kemampuan menghadirkan gambar dan video yang eye catching di media sosial berusaha dipenuhi admin-admin medsos komunitas hijrah. Hasilnya cukup efektif, terlihat dari jumlah follower yang tak sedikit. Media sosial yang berdetak seiring denyut nadi terus dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, bisnis, politik dll. Media sosial sebagai medan dakwah makin menenguhkan istilah Islam ringan.

Islam ringan, sebagaimana makanan ringan, bisa jadi camilan yang mengasyikkan, cocok di kudap kapanpun dan di manapun. Tapi, terlalu banyak mengonsumsi makanan ringan kurang baik juga untuk kesehatan. Tubuh perlu makanan bergizi, dari sayur mayur misalnya. Sayur yang rasanya mungkin tidak seenak makanan ringan dalam kemasan. Analogi ini kiranya dapat dipahami generasi muda muslim masa kini, agar mereka tetap sehat, kuat dan bugar dalam beragama.

 

 

 

 

 

 

 274 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini