Apa makna sebuah rumah? Apakah ia hanya seonggok bangunan berlantai, berdinding, beratap? Apakah ia sebatas tempat untuk berpulang? Tempat untuk berteduh atau tempat beristirahat setelah penat seharian bekerja? Atau ia menjadi sesuatu yang diidamkan banyak orang namun kian lama harganya kian membubung tinggi tak terjangkau? Barangkali, sebuah rumah bisa mengandung seribu makna. Kini, mari kita tengok “makna rumah” bagi Ajip Rosidi, Joko Pinurbo dan Sapardi Djoko Damono.

Pada 21 Juni 1993 Ajip Rosidi mengirim surat dari Osaka, Jepang kepada Asahan Alham. Di antara isi surat, ada ‘curhat’ Ajip tentang rumah: Aku sendiri sedang bermimpi mempunyai ‘hutan’ di puncak gunung, sebab kupikir kalau nanti aku kembali ke tanahair, aku tak mau tinggal di Jakarta yang sudah penuh polusi itu. Rumahku di Pasar Minggu meskipun masih rimbun dengan pohon buah-buahan, namun ditembus debu dari jalan raya yang tak henti-hentinya dilewati mobil, karena hubungan Depok-Pasar Minggu umumnya menggunakan jalan di dekat rumahku itu.

Membaca nukilan surat Ajip tersebut tampak bahwa Ajip tak ingin sembarangan memilih rumah untuk ia tempati sekembalinya dari Jepang. Di bagian lain surat ia menyatakan ingin rumah yang tenang untuknya menghabiskan waktu dengan membaca buku. Di Jepang Ajip membeli banyak buku dan sebagian besar belum sempat ia baca.

Lalu di mana Ajip ingin tinggal? Kata Ajip di surat itu: Masih belum kuputuskan di mana aku akan tinggal. Pilihannya di daerah Cikole, di sebelah utara Lembang, sebelum Kawah Tangkuban Baru. Atau di daerah Magelang. Mengingat kegiatanku yang erat dengan soal kebudayaan Sunda, memang seharusnya aku tinggal di daerah Jawa Barat. Tetapi aku sudah lihat betapa bobroknya birokrasi pemerintahan di Jawa Barat, sedangkan kulihat di Jawa Tengah dan di Jawa Timur juga, keadaannya jauh lebih baik. Juga polusi belum seburuk di Jawa Barat.

Ajip memang punya pengalaman buruk dengan birokrasi. Ketika di Jatiwangi ia pernah didatangi petugas desa yang meminta ‘surat tugas’, yang menurut Ajip sebetulnya oknum itu meminta uang rokok belaka. Hal lain yang membuat Ajip condong memilih Magelang adalah karena anak sulungnya berada di sana. Sehingga ia tak akan jauh dari cucu-cucu.

Dalam mencari lokasi rumah, Ajip tampak berhitung betul. Semua mesti pas, mulai dari kondisi lingkungan hingga kedekatan dengan anak cucu. Boleh jadi ini berkaitan dengan pencarian atmosfir terbaik untuk berkarya. Tidak dimungkiri setiap sastrawan/penulis membutuhkan kondisi tertentu dalam menghasilkan karya. Sehingga dalam memilih ruang kreatif atau ruang penciptaan tak bisa asal-asalan. Ajip adalah contoh.

Tak terbayangkan betapa “berjasa” sebuah rumah bagi penulis. Rumah menjadi tempat menimang ide, mengayun gagasan. Karya-karya lahir dan menemukan tadirnya masing-masing. Rumah memberi energi, juga mungkin inspirasi. Penulis hari ini bisa jadi memilih  berkarya di cafe, mal dan tempat selain rumah. Mereka boleh jadi tak perlu “tempat khusus” karena toh menulis bisa dilkukan di mana saja dengan gawai. Pun demikian rumah tak akan kehilangan arti. Memuliakan rumah dilakukan sebagai bentuk penghormatan.

 

Rumah Sapardi, Rumah Jokpin

Bandung Mawardi pernah menulis telaah menarik kaitan rumah dan penyair. Ia misalnya mencermati hubungan rumah dengan Sapardi. Bandung mencatat: Sapardi lahir di rumah di kampung Baturono lalu pindah rumah di kampung Ngadijayan, lalu pindah ke rumah di kampung Komplang. Rumah yang terakhir itu layak dikatakan sebagai rumah biografis dan rumah puisi awal Sapardi sebelum dia melakukan perpindahan ke rumah-rumah yang lain. Kampung Komplang, sebagaimana digambarkan Bakdi Soemanto, adalah kampung yang gelap, sepi dan tidak menjanjikan ‘apa pun’ untuk dinikmati sehingga membuat Sapardi memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. Sapardi pun memiliki waktu luang dan kesendirian, sesuatu yang tak ia dapatkan jika ia tinggal di tengah kota.

Lalu bagaimana kisah rumah penyair Joko Pinurbo? Masih menurut catatan Bandung, penyair yang biasa dipanggil Jokpin itu mengaku membeli rumah yang sekarang ditinggali di Yogyakarta dengan susah payah. Sebelumnya ia tinggal di rumah kontrakan selama 14 tahun. Di rumah, ia suka menulis puisi di salah satu sudut di ruang tamu dan di bawah pohon sawo kecik.

Menarik mencermati hubungan para penyair dan rumahnya. Sapardi yang ‘beruntung’ karena tinggal di kampung sepi sehingga bisa bersunyi-sunyi dengan puisi. Adapun Jokpin gemar berkontemplasi di bawah pohon sawo kecik dan di ruang tamu. Tak salah jika kita membayangkan karya-karya terbaik dua penyair itu lahir di tempat-tempat tersebut. Membayangkan Sapardi dan Jokpin menulis di selembar kertas dengan pena sembari menyerap aura positif dari lingkungan tempat mereka menulis. Puisi-puisi pun lahir di ruang kreatif bernama rumah.

Boleh jadi kita lantas terkenang selarik puisi Chairil Anwar: Rumahku dari unggun-timbun sajak / Kaca jernih dari luar segala nampak. Atau mungkin kita akan terkenang sebait lirik lagu Dialog Dini Hari: Adakah yang lebih indah dari semua ini / Rumah mungil dan cerita cinta yang megah / bermandi cahaya di padang bintang / Aku bahagia.

 

#dirumahaja

 656 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini