Islamsantun.org. Jakarta–Depok, 30 Juli 2021. “Bangsa Indonesia memiliki pandangan yang positif terhadap keragaman suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama. Keragaman adalah bagian dari natural laws dalam ciptaan-Nya,” kata Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, pada kuliah umum bertajuk “Merajut Tolerasi Bangsa Indonesia”. Hal itu disampaikan secara daring kepada lebih kurang 8000 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pada Rabu, 28 Juli 2021.

Kuliah umum itu merupakan bagian dari serangkaian kegiatan acara KAMABA PKKMB UI 2021 guna memperkenalkan tradisi dan budaya akademik yang ada di kampus. “Keragaman terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ke-Indonesia-an kita. Di balik keragaman tersebut terdapat banyak hikmah yang perlu dipahami dan diambil manfaatnya oleh manusia,” ujar Yaqut Kholil.

Sebagai agen kerukunan dan moderasi beragama, Yaqut berharap mahasiswa mampu memberi keteladanan untuk selalu bertindak adil dan seimbang dalam banyak hal. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi milenial juga diharapkan menjadi penjaga utama nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bagi bangsa untuk tetap bersatu dalam meraih kemajuan.

“Jadilah mahasiswa UI yang kreatif, inovatif, produktif, dan berkarakter. Kreatif, dicirikan dengan pribadi yang berpikir out of the box dengan karya-karya yang bermanfaat bagi masa depan bangsa. Inovatif, dicirikan dengan kemampuan bereksperimen yang berdimensi kebaruan dengan menghasilkan karya unggul bagi peradaban. Produktif adalah mahasiswa yang menyukai belajar dan menghasilkan ide-ide segar untuk masa depan. Berkarakter diartikan memiliki jati diri dan berakhlak mulia. Mahasiswa yang penuh kejujuran, integritas, respek, sayang, kerja keras, dan setia dalam mengamalkan nilai-nilai agama,” ujarnya.

Kuliah umum tersebut juga menghadirkan enam tokoh lintas agama yang memperjuangkan kerukunan beragama yakni Prof. Dr. Abdul Mukti, M.Ed. (Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Romo Dr. Andang L. Binawan, SJ (tokoh umat kristiani katolik), Pendeta Jimmy Sormin, Astono Chandra Dana (Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia), Bikkhu Dhammasubho Mahathera, dan Budi Santoso Tanuwibowo (tokoh yang mewakili keyakinan konghuchu). Kuliah umum tersebut dimoderatori oleh Dr. Ngatawi Al-Zastrow (Kepala Makara Art Center UI).

Dalam kesempatan tersebut, Budi Santoso menyampaikan bagaimana menyikapi dan menyaring akses informasi yang berlebih. Menurutnya, bekal-bekal wisdom dari seluruh agama menjadi alat penyaring yang efektif. Ia memaparkan bahwa dengan pendirian rumah ibadah seluruh agama di Universitas, dapat membangun kesadaran atas keberagaman di Indonesia. Harapannya, upaya tersebut akan memperkaya batin bahwa mahasiswa mempunyai kewajiban untuk membangun Indonesia yang bhinneka dan menjadikan satu kekuatan yang utuh. Hal lain yang ia sampaikan adalah mengilhami bahwa masa depan dunia sangat bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya rajin belajar dengan tetap menjaga ke-Indonesia-an tanpa bermaksud meniru orang lain.

Selanjutnya, Prof. Mukti mengatakan bahwa Indonesia milik kita semua. Oleh karena itu, harus saling berbagi dan memperkuat satu sama lain. “Cara merajut keberagaman adalah dengan kebesaran jiwa untuk bisa saling menerima, toleransi saja tidak cukup. Selain itu, sikap saling menerima diikuti saling mengakomodasi antara satu dengan yang lain. Kampus dapat dijadikan model toleransi dan kerukunan dengan didirikannya rumah ibadah dari berbagai agama di Indonesia. Hal tersebut merupakan contoh sikap mengakomodasi, sebagai upaya untuk saling bekerja sama satu dengan yang lain. Selama pandemi Covid-19 kita dapat mengambil hikmah, yaitu umat beragama saling bekerja sama, saling membantu, dan perbedaan yang ada tidak menjadi pemisah dan tidak menjadi persoalan yang dihadapi,” ujarnya.

Sependapat dengan Prof. Mukti dan Dr. Zastrouw, Romo Andang mengatakan bahwa dalam situasi pandemi Covid-19, kita diingatkan bahwa segala macam atribut-atribut kemanusiaan ternyata menjadi tidak relevan. Sekarang kita harus sungguh-sungguh mengingat bahwa kita adalah manusia yang sama, dengan segala macam konsekuensi. Maka dalam situasi yang sangat berat, kita perlu empati, perlu saling menolong. Situasi pandemi ini yang membuat kita menyadari rasa kemanusiaan. Ia berharap setelah pandemi berakhir, rasa kemanusiaan ini dapat terus berlanjut sehingga persaudaraan menjadi lebih kuat. “Persaudaraan menjadi dasar yang diartikan lebih dalam dari pada ideologi. Saling menolong, saling menguatkan, saling berempati dan toleransi,” ujar Romo Andang.

“Kesempatan sebagai mahasiswa ini jangan disia-siakan. Perkuat tali silaturahim diantara sesama anak bangsa. Jangan membedakan suku, agama, dan apapun yang selama ini terlihat sebagai pembeda. Kita semua bersaudara, jaga tali persaudaran tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian anda semua akan menjadi generasi penerus yang akan membawa Indonesia ke iklim yang lebih baik. Selamat untuk adik-adik sekalian, ini adalah pintu masuk awal untuk adik-adik berkarya di republik indonesia ini,” kata Astono Chandra Dana.

Lebih lanjut, Bikkhu Dhammasubho mengatakan bahwa pertemuan ini membangun pagar hati untuk melindungi kehidupan. “Karena seseorang bisa selamat bukan dengan pagar kawat berduri, namun dengan pagar hati. Artinya orang yang takut dengan dirinya sendiri,” ujarnya. Ia berpesan kepada mahasiswa baru untuk bersikap luwes, berwawasan luas, dan memiliki prinsip tegas namun sikap tidak keras.

Pendeta Jimmy Sormin sebagai narasumber terakhir, menyampaikan bahwa perbedaan saat ini tidak bisa kita gugat lagi, namun seharusnya bisa dinikmati dan disyukuri. “Menjadi mahasiswa UI, tidak saja berbasiskan toleransi tetapi lebih dari itu, beyond toleransi, menghargai orang lain. Mulai dari mengenal, inilah kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami yang lain dari sesama kalian. Agar attitude kalian menjadi menghargai orang lain, konstruktif, dan berkelanjutan bagi orang lain,” katanya.

Di akhir sesi, Dr. Zastrouw menyimpulkan kuliah umum yang dilanjutkan sesi diskusi dengan para tokoh lintas agama tersebut. Menurutnya, menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bagi bangsa untuk tetap bersatu merupakan upaya merawat dan merajut keberagaman di Indonesia. Wisdom atau kearifan, toleransi yang menjadi langkah awal merajut kebersamaan, dan empati, merupakan kunci moderasi beragama di Indonesia. Harapannya nilai-nilai tersebut dapat ditiru dan diterapkan oleh mahasiswa baru UI, agar timbul rasa ‘saling’ yaitu saling merasa, saling memberi, dan saling menerima antarsesama (AL/AW).