Pada hari Ahad pagi (4/5), masyarakat di Desa Pucangan Kartasura tepatnya warga di Pedukuhan Gerjen dan sekitarnya menggelar kegiatan doa bersama yang diselenggarakan di area makam Sasonoloyo Gerjen RW 03 Desa Pucangan Kartasura Sukoharjo. Mengikuti aturan Pemerintah, kegiatan ini diikuti secara terbatas dan menjalankan protokol kesehatan.

Kegiatan ini dimulai dengan pembacaan Surat Yasin yang dipimpin Bapak M. Zainal Anwar, lalu zikir tahlil dipimpin Bapak Munawwir dan doa dipimpin Bapak Afifuddin.

Selanjutnya ada sambutan dari Ketua Sasonoloyo Gerjen Bapak Joko Riyanto yang menjelaskan bahwa kegiatan ini biasanya diikuti oleh banyak orang. Tetapi, mengingat kondisi Pandemi Covid-19 dan adanya aturan pembatasan perkumpulan, maka kegiatan Sadranan dilakukan secara terbatas. “Kalau tahun 2020 lalu malah tidak ada. Semoga tahun depan bisa dilakukan secara normal kembali,” kata Pak Joko.

Sementara Kepala Desa Pucangan, Bapak Budiyono merasa gembira adanya acara Sadranan ini karena menjadi acara silaturahim antar warga dan dilakukan secara terbatas sesuai aturan pemerintah.

Sebelum ditutup, acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Bapak Kiai Ahsanul Haq dari Gerjen. Beliau menjelaskan bahwa kata Sadranan memang tidak ada dalam Al-Quran atau Hadis.

Tetapi, Sadranan adalah kebiasaan warga yang tidak bertentangan dengan syariat. Dalam kegiatan Sadranan, isinya adalah ziarah kubur yang didalamnya membaca surat Yasin, zikir dan tahlil. “Karena itulah, kegiatan Sadranan tidak bertentangan dengan syariat,” ujar Kiai Ahsan.

Menurut otak atik Kiai Ahsan, bisa jadi kata sadranan berasal dari bahasa arab yakni sodroni, artinya dua dada. “Maksudnya adalah dadanya orang hidup dan dadanya orang yang sudah meninggal. Bisa jadi, sadranan dimaksudkan agar orang yang hidup menghadapkan dadanya ke makam orang yang dikunjungi,” imbuhnya.

Dulu, lanjut Kiai Ahsan, pada masa awal Islam, Nabi Muhammad memang melarang ziarah kubur karena kondisi ke-Tauhid-an masyarakat Arab yang belum kokoh. “Tetapi setelah keyakinan masyarakat Arab saat itu sudah kuat dan kokoh, maka Nabi memperbolehkan ziarah kubur,” tambah Kiai Ahsan. Dalam ziarah, maka kita akan diingatkan pada kematian dan bersikap zuhud.(ZA).