Surakarta – Wajah Solo bisa dilihat dari ragam bentuk. Dari segi keagamaan, Solo begitu kompleks. Ada yang melihat bahwa Solo kota yang toleran. Tetapi anggapan yang lain, Solo dianggap kota yang intoleran-radikal.

Dalam beberapa visul dan pemberitaan, Solo sering dipotret dari hal yang pertama. Berbeda dengan itu, Islamsantun melalui film Reresik memotret dari sisi yang lain. Di mana itu sering terlewatkan dari media ekstrem: toleransi.

Pegiat Islamsantun menggambarkan Solo kota toleran. Bersandar dengan fakta bahwa toleransi telah lama dirajut oleh pemeluk Muslim dan Kristiani dalam wujud pembagian ruang masjid dan gereja yang begitu harmoni. Keberadaan itu kemudan divisualisasi melalui film Reresik.

“Anak-anak muda yang menggarap film Reresik sebenarnya ingin menunjukkan kepada orang di luar Solo, bahwa toleransi antar-umat beragama masih ada di sini,” ujar Dosen UIN RMS, Syafawi Ahmad Qadzafi, pada acara pemutaran perdana film Reresik di Aula FUD UIN RMS, (18/3).

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa film Reresik cukup berhasil menunjukkan kepada penonton bahwa harmoni antar-agama di Solo masih terawat dengan baik. Setidaknya itu bisa dilihat dari cerita di film ini lewat persahabatan antara Kevin yang merupakan representasi non-muslim sebagai minoritas dengan Abror sebagai kelompok mayoritas.

Dalam kesempatan yang sama, Sutradara film Reresik Agus Wedi bercerita mengenai ide awal pembuatan film Reresik. Ia mengatakan bawah Kota Solo kerap dicap sebagai kota yang intoleran. Padahal, menurutnya, Solo masih banyak menyimpan nilai-nilai luhur dan semangat persaudaraan yang sangat dijaga oleh penduduknya.

Ditanya soal pilihan judul, Agus mengaku Reresik memiliki makna yang luas. Termasuk bahwa dalam beragama kita harus membersihkan hati dan pikiran kita dari segala rasa prasangka dan permusuhan.

Sedangkan Wakil Direktur PPM-PIN UIN RMS Surakarta, Nur Rohman mengatakan, melalui film ini pihaknya ingin turut serta dalam upaya penguatan moderasi beragama di Indonesia. “Kami juga berterima kasih kepada sejumlah lembaga yang telah membantu dalam pembuatan film Reresik. Kolaborasi antar lembaga seperti ini penting untuk mewujudkan Indonesia yang damai dan toleran,” pungkasnya.