Boyolali-Nahdlatul Ulama’ yang hampir berusia satu abad, memiliki peran penting bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sepanjang sejarahnya, NU turut serta dalam perjuangan kemerdekaan, merumuskan berdirinya negara dan hingga saat ini juga turut mewarnai laju negara. Kesemua itu bertujuan untuk mengawal jalannya agama dan tegaknya berdirinya negara. Demikian disampaikan Rais Syuriah PCNU Boyolali, K.H. Achmad Harir dalam rangkaian agenda penguatan organisasi dan ideologi Aswaja An-Nahdliyah. Kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan dengan langsung keliling ke 21 MWC di Boyolali.

Kiprah NU yang sangat penting ini, pada gilirannya mengantarkannya menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Jumlah warga NU yang besar, seringkali menjadi daya tarik tersendiri dalam segala aspek. Dalam bidang politik, NU seringkali menjadi satu organisasi penentu. Demikian juga dalam bidang sosial, budaya, pendidikan dan lainnya. Oleh karena itu, NU mempunyai peran yang signifikan dalam mengembangkan wawasan keagamaan dan kebangsaan. Sayangnya, hal ini belum begitu banyak disadari oleh sebagian besar warga NU di pedesaan.

Pada saat yang sama, Islam dan negara Indonesia secara umum mendapat tantangan yang cukup berat baik dari dalam, maupun dari luar. Dalam segi ke-Islaman, tantangan dari kelompok paham ekstrim kiri yang diusung dari Barat, seperti Liberalisme, Sekulerisme, Apatisme, Hedonisme, Egoisme, dan lainnya menjadi hal yang harus disikapi. Sementara dari kelompok kanan yang dipengaruhi oleh budaya negara lain, seperti paham-paham wahabisme dengan budaya takfiri, membid’ahkan kelompok yang berseberangan dengan mereka, juga menjadi satu hal yang perlu diantisipasi. Beragam tantangan tersebut tentu saja saling terkait antara kepentingan agama dan juga kepentingan keutuhan bangsa dan negara.

Berangkat dari fenomena tersebut, kegiatan ini mendesak dilakukan. Sehingga K.H. Joko Parwoto yang juga menjadi Katib Syuriah PCNU Boyolali, memberikan penguatan dalam bidang paham aswaja an-Nahdliyah. Hal ini meliputi tentang fikrah, ubudiyah, dan harakah NU. Sejauh ini, banyak warga NU yang baru sebatas pengamalan dalam bidang ubudiyah, namun fikrah dan harakahnya masih jauh dari paham aswaja an-Nahdliyah. Fakta ini menjadikan sejumlah warga NU terombang-ambing oleh arus modernisasi yang semakin kompleks.

Selain problem di atas, warga NU juga perlu melakukan pembenahan dan penguatan dalam gerak organisasi. Dalam hal ini, K.H. Jamal Yazid yang juga menjadi Wakil Syuriah PCNU Boyolali, mengulasnya secara tuntas. Ini semua dilakukan agar gerak orgasnisasi NU dapat berjalan dan terus maju. Kyai Jamal juga menjelaskan bagaimana paham aswaja harus disebarluaskan dengan kemasan yang sesuai konteks zamannya. Hal ini penting dilakukan dalam rangka mengantisipasi kemunculan aktifitas dakwah dengan keilmuan dangkal, namun karena kemasannya menarik justru itu banyak digemari saat ini. Oleh karena itu, pengurus NU harus tampil memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Agenda penguatan keorganisasian dan ideologi Aswaja an-Nahdliyah oleh PCNU ini nampaknya juga mendapat sambutan hangat oleh pengurus NU di beberapa MWC. Hal ini terlihat dari diskusi yang dilakukan di setiap sesinya. Agenda ini nampaknya juga dimanfaatkan oleh sejumlah pengurus untuk saling menyampaikan permasalahan, rencana aksi, komitmen dan lain sebagainya. “Ini menjadi semacam media untuk recharge (mengisi kembali) semangat para pengurus NU agar lebih baik ke depannya”, ungkap salah satu peserta. Dengan begitu, harapannya semoga semua pengurus dan warga NU di Kabupaten Boyolali, semakin baik dalam semua aspeknya. (Lakpesdam, Boyolali).