islamsantun.org-Pada tahun-tahun terakhir, bisnis kreatif berkembang sangat pesat, terutama ketika dunia memasuki era digital. Banyak orang tidak lagi bergantung pada sebuah instansi untuk mendapatkan penghasilan. Industri kreatif pun menjadi salah satu industri yang menjanjikan. Apakah santri bisa berkiprah di bidang ini?

Dalam rangka merespons persoalan ini, PCNU Sleman mengadakan webinar series yang bertajuk Santri Berbisnis Kreatif Why Not? Acara ini dilaksanakan secara daring via zoom meeting dan disiarkan live FB dan Yuoyube TVNU pada tanggal 13 Oktober 2021 jam 15.30 Acara ini adalah bagian dari semarak hari Santri 2021 yang digelar oleh PCNU Sleman Yogyakarta.

Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni Kang Anas Syahrul Alimi, Faounder Rajawali Indonesia, CEO Prambanan Jazz Festival, dan Founder/Owner iKonser Channel Indihome. Hadir juga dalam seminar ini Kalis Mardiasih seorang Social Media Influencer, Penulis Buku Muslimah yang Diperdebatkan, Founder Kelas Kalis, dan Penulis di Berbagai Media. Acara ini dipandu oleh Sarjoko S, salah satu pegiat Jaringan Gusdurian.

K.H. Sidik Pramono, Ketua PCNU Sleman, dalam sambutannya menyatakan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Selama ini, ungkapnya, kepercayaan diri para santri berkurang di saat berkiprah di dunia non keagamaan. Padahal jika dilihat dari aspek sejarah, para santri memiliki kiprah yang tidak bisa diremehkan dalam banyak hal. Pada berkembangan zaman seperti sekarang ini, para santri diharapkan juga ikut aktif berkiprah dalam bidang industri dan bisnis kreatif. Acara webinar ini, kata Kiai Sidik, adalah untuk membangkitkan kepercayaan diri para santri dalam berkiprah dalam dunia bisnis kreatif.

Bagaimana Santri Aktif dalam Bisnis Kreatif?

Anas Syahrul Alimi, pemateri pertama, menceritakan latar belakang kenapa ia aktif di bidang musik dan industri kreatif. Bermula dari menjadi seorang sopir saat di pesantren, ia sangat gandrung terhadap music. Ia menabung dan membeli kaset dan buku kemudian ia bermimpi untuk menjadi aktif di dunia musik. Sejak di persantren ia sudah aktif memburu konser musik dan memiliki keinginan untukk mengadakan konser musik sendiri. Kang Anas menceritakan pengalaman pertemuannya dengan Grand fredly dan kisah lika-likunya dalam dunia bisnis kreatif. Satu hal yang menarik yang disampaikan, bahwa Rajawali Indonesia yang didirikannya itu bukan diambil dari nama burung tetapi terinspirasi dari Syekh Abdul Qodir al-Jailani yang mempunyai julukan Sulthonul Awliya, peminpin/raja para wali. Anas menjelaskan bahwa dalam bisnis kreatif, seseorang harus selalu berpikir kreatif, adaptif, kolaboratif dan tidak mudah menyerah. Ini semua adalah sikap-sikap yang sudah ditanamkan sejak menjadi santri.

Pembicara kedua, Kalis Mardiasih, memulai diskusinya dengan menyatakan keberatannya pada stigma masyarakat yang mengatakan bahwa santri tidak terbiasa berbisnis. Ia menyatakan bahwa bisnis bagi santri adalah sebuah keniscayaan. Ia memcontohkan salah satu pondok pesantren yakni pesantren Khozinatul Ulum di Blora yang kaya raya berkat bisnis dan masih banyak contoh-contoh lain yang semisal. Kalis menjelaskan bahwa Indonesia juga memiliki banyak tokoh dan contoh santri yang bisa aktif dalam dunia kreatif. Di Dunia literasi pun, kata Kalis, santri juga memiliki tokoh-tokoh panutan seperti Gusdur yang menulis banyak hal; Gusmus sebagai penyair sufi dan lain sebagainya. Hubungan santri dengan literasi ibarat hubungan orang tua dengan anak kandung. Literasi itu adalah anak kandung pesantren, begitu ungkap Kalis.

Kalis juga memaparkan bahwa kalau mau terjun ke dunia kreatif, seseorang harus berfikir bahwa dunia kreatif itu berbeda dengan dunia PNS/ASN yang gajinya sudah dipatok dan konstan. Seorang pebisnis kreatif harus selalu berpikir dan bertindak kreatif. Salah satunya adalah dengan selalu berusaha menjadi relevan bagi audiens atau masyarakat. Menjadi relevan adalah ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kalau dalam dunia penulisan, ungkap Kalis, seseorang harus mengikuti dunia bergerak kemana? Dunia sedang membicarakan apa? Maka menulis dan mengambil tema-tema yang sedang up date adalah satu bagian dari menjadi relevan. Kalis mencontohkan bahwa salah satu yang menjadi kebutuhan masyarakat era sekarang adalah kesehatan mental. Maka menulis tema-tema tentang kesehatan mental berupa pendampingan pemulihan atau tawaran solusi bagi masyarakat yang sedang membutuhkan akan menjadi karya yang dicari banyak orang.