Salah satu ciri khas keistimewaan Puasa Ramadan adalah adanya malam yang penuh berkah. Malam tersebut dikenal dengan malam lailatul qadar. Sebuah malam yang selalu dihidupkan guna menggapai kesempurnaan ibadah di dalamnya. Ibadah yang dilakukan di malam tersebut setara dengan 1000 bulan atau 83 tahun lamanya.

Satu-satunya informasi malam lailatul qadar yang valid dan tidak pernah terulang lagi adalah bersamaan turunnya Alquran. Hal tersebut dijelaskan dalam Q.S. al-Qadar (97): 1, bahwa turunnya Alquran adalah di malam lailatul qadar. Peristiwa tersebut yang pertama kali mengetahui adalah Nabi saw. di saat menerima wahyu Alquran Q.S al-Alaq (96): 1-5. Peristiwa pertama kali yang mengetahui hanya Nabi saw. di mana beliau bertemu langsung dengan Malaikat Jibril a.s. Saat itu usia Nabi Muhammad saw. dalam hitungan kalender Syamsiyah adalah 40 tahun 6 bulan 8 hari atau dalam bulan Qamariyah 39 tahun 3 bulan 8 hari.

Peristiwa turunnya wahyu dijelaskan dalam kitab Sahih Bukhari di bagian awal kitab sahihnya. Hal yang baru tersebut membuat Muhammad saw. menjadi gemetar dan berkeringat dingin. Isteri beliau Khadijahlah yang menenangkan suaminya atas peristiwa tersebut. Kenyataan kebersamaan antara Nabi Muhammad saw. dalam tiap Ramadan selalu dijaganya. Kebiasaan tersebut dikenal tadarrus Alquran. Membaca Alquran secara bilgaib dengan disimak Malaikat Jibril a.s. Sampai di sini, tadarrus Alquran merupakan tradisi yang dibangun dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. dan terpelihara sampai sekarang.

Untuk mendapatkan kemuliaan yang ada dalam lailatul qadar tidaklah mudah. Malam tersebut tidak dijelaskan dalam Alquran maupun hadis secara jelas. Hal tersebut adalah untuk menjadikan setiap umat Islam selalu menjaga kebiasaan kesehariannya dalam setiap malamnya dengan kedasadan pribadinya. Rasulullah saw. melalui hadisnya hanya bercerita bahwa kebiasaan di sepuluh hari terakhir adalah melakulan i’tikaf di masjid dan mengisinya dengan ibadah shalat maupun tadarus Alquran.

Kebiasaan Nabi saw. di atas dilakukan terutama di malam ganjil yakni malam ke 21, 23, 25, 27, dan 29. Beliau sendiri selalu mengajak seluruh keluarganya untuk ikit serta dalam meramaikan malam akhir Ramadan. Tentu ini biasanya terbalik di masyarakat sebelum adanya Covid-19 yaitu mempersiapkan lebaran dengan memakai baju baru dan meramaikan pusat perbelanjaan dan persiapan mudik dengan ramainya bandara dan kerata api serta moda transportasi lainnya.

Hadis tentang pencarian lailatulqadar disampaikan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda “Carilah ia (lailatulqadar) di malam ganjil sepuluh akhir” (HR. Bukhari Muslim). Kapan keberadaan malam tersebut? Untuk awal Lailatulqadar yang terjadi adalah 17 Ramadhan bersamaan turunnya Alquran ulama sepakat akan hal tersebut.

Untuk lailatulqadar setelahnya dapat dilihat dari hadis di atas melahirkan beragam pendapat tentang kapan turunnya lailatul qadar tersebut. Setidaknya terdapat prediksi-prediksi Lailatul Qadar dengan cara hari apa dimulainya pelaksanaan puasa itu sendiri. Imam Ghazali dan Abul Hasan Asy-Syadzili menjelaskan bahwa awal puasa dimulai pada hari Jumat maka prediksi Lailatul Qadar pada malam 17, malam 27, atau malam 29.

Jika awal puasa dimulai hari Sabtu maka malam 21 atau 23. Demikian juga jika mulai hari Minggu maka malam 27 atau 29 dan jika permulaan hari Senin maka malam Lailatul Qadar terdapat di malam ke 21 atau 29. Adapun jika hari Selasa sebagai permulaan Ramadan maka Lailatul Qadar pada malam ke 25 atau malam ke 27. Jika mulai Rabu maka malam 19 atau 27. Jika mulai Kamis maka malam 25 atau malam-malam ganjil sepuluh akhir.

Dari pendapat di atas sebaiknya mengikuti pendapat umum saja sesuai hadis Nabi saw. Setidaknya sepuluh hari terakhir tetap melakukan ibadah lebih sungguh dan meningkat terus. Kejelasan pendapat tentang hal ini
Kebanyakan prediksi Lailatul Qadar adalah di akhir Ramadan dan di malam yang ganjil. Malam itulah semua umat Islam harus selalu memeliharanya dengan amalan yang baik.

 811 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini