Koran yang ada di depan saya saat ini sebetulnya adalah koran hari kemarin. Koran edisi Senin (20/5) yang baru bisa saya baca di hari Selasa (21/5). Sering kali begitu: koran pagi dibaca sore atau malam hari, koran kemarin dibaca hari ini.

Untungnya saya menemukan artikel menarik di Kompas edisi Senin (20/5). Artikel itu ditulis Andy Budiman. Ia menyoal politik identitas dan menyoroti bagaimana media sosial bekerja. Inilah menariknya langganan Kompas, kita disodori artikel-artikel menarik hampir tiap hari.

Menurut Andy, anak-anak muda yang kecewa dengan politik rawan menoleh pada politik identitas. Kekecewaan terhadap politik ini bisa disebabkan banyak hal, di antaranya politisi-politisi yang dianggap sebagai kelompok korup, elite-elite politik muka lama tak membawa perubahan apa-apa dan jutsru sering mengumbar pernyataan bombastis tanpa substansi, lebih dari itu secara umum ada anggapan bahwa politik itu kotor.

Anak-anak muda, yang jumlahnya tak bisa dianggap remeh itu sudah putus asa dan kecewa dengan politik. Jangankan masuk ke dunia politik, sekadar berpartisipasi saja mereka malas. Lalu muncullah politisi-politisi yang kemudian memaikan politik identitas, bermain-main dengan “agama”. Andy menyodorkan data bahwa menurut survei LSI 2018, sebanyak 59% orang Indonesia tak mau dipimpin oleh presiden yang beda agama.

Bagi saya itu kabar buruk bagi Indonesia yang majemuk. Karena sebagus apapun prestasi seseorang, sekeren apapun leadership-nya, jika ia “orang lain” alias orang yang tak seagama tentu tak akan dipilih. Lebih baik kualitas seadanya, yang penting seagama. Pada level tertentu, yang ditakutkan, cara pandang serupa itu bisa berdampak pada maraknya intoleransi.

Menguatnya politik identitas ini tak kunjung reda tersebab oleh media sosial. Ada fenomena echo chamber yang terjadi di media sosial. Echo chamber diibaratkan seperti kita berteriak di dalam gua. Karena memantul, suara itu kembali kepada kita sendiri. Begitu jugalah cara kerja algoritma media sosial.

Andy menulis: kalkulasi matematika memengaruhi kita dalam mengambil keputusan. Kita tak sadar ketika algoritma bekerja. Informasi yang kita lihat di medsos adalah hasil perhitungan algoritma yang secara terus menerus mempelajari apa yang kita sukai: memasok informasi sesuai standar yang kita sukai dan riwayat pencarian kita sebelumya. Perhitungan matematis ini pada akhirnya memandu kita menentukan apa yang kita baca.

Inilah yang juga dikhawatirkan Noor Huda Ismail terjadi pada kelompok radikal. Mereka-mereka yang sedang belajar agama “online” dan tersesat ke kanal-kanal garis keras akan terus menerus terpapar informasi seputar radikalisme. Tak lain karena kerja algoritma media sosial. Mereka seperti hidup dalam goa dan meneriakkan jargon yang sama, terus menerus berpantulan gemanya, menelusup ke dalam telinga dan pikiran mereka.

Begitu juga dalam persoalan copras capres ini. Mereka yang terlalu serius di medsos, yang menghabiskan berjam-jam dalam sehari di medsos, berpotensi menjadi “manusia goa”. Informasi yang datang kepadanya hanya soal capres pilihannya. Kalau tidak bisa berpikir waras, maka yang timbul hanya fanatisme buta yang membuatnya tampak konyol dan naif.

Lantas bagaimana menghadapi gelombang politik identitas yang bertemu masifnya penggunaan media sosial? Andy, dalam tulisannya, menawarkan “solidaritas” sebagai solusi. Solidaritas atas nama kemanusiaan, yang didirikan di atas politik yang bersih. Harus ada yang mengubah budaya politik kita, bahwa politik bukan soal tipu-tipu lima tahunan, bukan tentang elite yang korup, bukan tentang janji yang diumbar tanpa diwujudkan.

Jika kepercayaan itu telah dibangun, politik identitas akan tumbang juga. Sila ketiga pun akan tegak sebagaimana mestinya.

 

 

 910 total views,  4 views today