Di detik-detik terakhir bedah buku Saring sebelum Sharing  di Graha IAIN Surakarta 13 Maret 2019 kemarin, Gus Nadir membacakan puisi yang beliau tulis di salah satu sub bab bukunya. Sontak, semua audien menjadi senyap mendengarkan puisi yang beliau baca langsung di hadapan para audien. Berikut cuplikan puisinya.

 

Nabiku yang welas asih: Islam rahmatan lil ‘alamin 

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan bahwa Allah melarang kita membakar sarang semut dan lebah. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang untuk menebang pohon yang tengah berbuah. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang, bahkan dalam peperangan sekalipun, untuk membunuh anak, perempuan, dan orang tua. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengatakan bahwa mereka yang membunuh kafir zimi itu tak akan mencium bau surga. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang menakut-nakuti binatang yang akan disembelih dengan mengasah pisau di sampingnya. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengatakan bahwa aku diutus bukan untuk melaknat, melainkan menebar rahmat. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih memberi nasehat, “Jangan marah, jangan marah, jangan marah!” Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih tak sedikitpun pernah protes terhadap pembantunya di rumah. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang kita membalas kejahatan dengan kejahatan lagi. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang merusak gereja dan rumah ibadah lainnya. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang kita untuk memaki Tuhan dan sesembahan agama lain. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan, bahkan dalam kondisi perang, kita harus mematuhi etika dan tidak melampaui batas. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan untuk memilih perkara yang mudah dan tidak menyulitkan diri. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan bahwa Muslim itu yang orang lain selamat dari lidah dan tangan kita. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan kepada kita berbuat baik pada tetangga meskipu non-muslim. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan untuk menolong dan memberi tanpa berharap endapat lebih banyak. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan untuk menebarkan salam kepada orang yang kita kenal atau tidak. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan kepada kita berjalan dengan rendah hati, tidak menghiraukan mereka yang benci, dan menghindari perdebatan. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih melarang kita merusak kehormatan sesama Muslim dengan gibah, fitnah dan kebohongan. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Nabiku yang welas asih mengajarkan kita untuk berbuat adil meski terhadap orang yang tidak kita sukai. Inilah Islam rahmatan lil ‘alamin.

 

Inilah Nabi yang menjadi junjungan kita semua. Namun, mengapa kita, yang mengaku sebagai umat beliau, justru lebih mirip Abu Jahal dalam akhlak?

 

Islam Rahmatan lil ‘alamin itu membuat semua nyaman dan aman, bukan membuat orang lain ketakutan dan merasa dilecehkan atau dizalimi.

 

 3,081 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini