Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Sungguh ungkapan waktu ibarat pedang sangat tepat disandangkan. Satu tahun yang lalu, bulan Rajab dilalui dengan kepanikan menghadapi pandemi yang baru saja terjadi. Saat ini kita pun memasuki bulan Rajab masih dengan kekhawatiran pandemi yang belum usai.

Pergantian waktu seharusnya memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berakal (ulul albab). Sebab, dalam setiap pergantian malam, siang, hari, bulan, bahkan tahun, semuanya memiliki hikmah yang hanya dapat diperoleh bagi orang-orang yang mendayagunakan pikirannya. Allah swt berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 190:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Lantas, apa saja hikmah yang dapat dipelajari dari bulan Rajab. Pertama, bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan, bulan haram, sehingga terlarang untuk melakukan pertumpahan darah di dalamnya. Hal ini sebagaimana tersirat dalam Al-Quran Surat at-Taubah ayat 36:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…”

Dalam berbagai literatur dijelaskan bahwa yang dimaksud empat bulan tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Sebagaimana diketahui, peperangan antar suku dan kabilah telah menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat Arab.

Menurut Jawwad Ali, perang (al-ghazw) adalah mata pencaharian paling penting bagi masyarakat Arab badui, terutama pada masa paceklik. Sebab, kondisi geografis Arab yang tandus nan panas mengharuskan mereka hidup dalam tekanan dan penuh kekerasan. Homo homini lupus, siapa yang kuat, dialah yang menguasai sumber daya.

Meskipun peperangan sudah membudaya, namun setiap memasuki empat bulan haram tersebut, peperangan ditunda karena menghormati waktu yang diagungkan tersebut. Hal ini menarik, di tengah tradisi kekerasan yang mengakar, bulan Rajab dijadikan salah satu bulan untuk mengekang ego kesukuan. Lantas kehadiran Islam tidak menghapus budaya tersebut, justru meneruskan penghormatan pada empat bulan yang ada sebagaimana tercermin dalam Surat at-Taubah di atas.

Inilah salah satu alasan dianjurkan memperbanyak ibadah, berdoa juga berpuasa selama bulan Rajab. Meski demikian, Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menuturkan bahwa larangan menganiaya atau berbuat dosa pada keempat bulan itu bukan berarti pada bulan lainnya dapat dilakukan.

Dengan kata lain, pengharaman melakukan kekerasan pada empat bulan yang dimuliakan tersebut dapat menjadi pendidikan bagi masyarakat Arab agar mengurangi kebiasaan melakukan kekerasan. Menghapuskan secara total sesuatu yang sudah membudaya amatlah sulit, sehingga yang dapat dilakukan adalah membatasi ruang gerak, sedikit demi sedikit.

Kedua, dari segi waktu, bulan Rajab merupakan pintu gerbang utama sebelum masuk bulan Ramadan. Ulama telah mengajarkan lantunan doa yang mulai dibaca pada bulan Rajab, yaitu Allahumma bariklana fi rajab wa sya’ban wa ballighna fi ramadhan. Doa ini cukup familiar, khususnya di kalangan santri, rasanya kurang afdhol memasuki Rajab tanpa membacanya.

Satu hal yang dapat dipetik dari tradisi tersebut adalah bahwasanya dengan kemuliaan bulan Ramadan, perlu dipersiapkan secara matang. Dua bulan sebelum memasuki bulan puasa, kita telah diajarkan untuk menata diri, sehingga dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang dianggap “istimewa”, harus dipersiapkan dengan baik. Misalnya sebagai mahasiswa, jika prosesi wisuda dianggap sesuatu yang sakral, maka dari awal harus dipersiapkan dengan matang agar prosesinya dapat dilalui dengan lancar. Begitu juga dalam memandang kehidupan rumah tangga, tentunya dari awal harus menata diri, jangan sekadar mengejar nikah dini, tetapi minim persiapan pribadi.

Lebih luas lagi, sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa puncak kenikmatan tertinggi adalah ketika di akhirat dapat berjumpa dengan Allah swt. Karenanya untuk mencapai hal tersebut, persiapan harus dilakukan sejak hidup di dunia.

Dengan demikian, bulan Rajab mengajarkan kita untuk bersikap visioner, tidak ada yang instant di dunia ini, jika hendak mencapai puncak, maka tentunya harus mendaki, menapaki jalan setapak demi setapak dengan penuh kesungguhan. Man jadda wajada.

Ketiga, dalam bulan Rajab, terdapat salah satu peristiwa bersejarah bagi umat Islam, yaitu isra mi’raj. Banyak hikmah dari perjalanan Nabi saw tersebut yang telah berulang kali diutarakan oleh para penceramah. Namun, mari kita lihat dari perspektif yang berbeda.

Saat itu Nabi saw melakukan perjalanan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha dalam sebagian malam saja. Jika menggunakan paradigma orang di zaman tersebut, mustahil untuk melakukannya. Tetapi, jika kita menggunakan pandangan saat ini, maka sangat mungkin terjadi.

Hal ini mengajarkan nilai lain dari isra mi’raj, yaitu ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Bisa saja dahulu belum dapat dinalar, tetapi sekarang sudah terbukti. Begitu juga saat ini mungkin belum dapat dirasionalkan, tetapi di masa mendatang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Oleh karena itu, membaca peristiwa isra mi’raj jangan hanya dari sudut pandang teologis, tetapi juga dari sudut pandang keilmuan modern. Dari peristiwa ini, umat Islam diajak untuk selalu peka dan berpikiran terbuka dalam menerima dan menelaah ilmu pengetahuan.

Jangan sampai umat Islam menjadi “alergi” terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sebab, banyak hal keagamaan yang tidak dapat diselesaikan permasalahannya tanpa diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh pandemi yang terjadi saat ini mengharuskan kita menerima pendekatan saintifik dalam beribadah dengan melaksanakan protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi pada saatnya nanti.

Dengan demikian, setidaknya ada tiga pelajaran dari kedatangan bulan Rajab. Pertama, bulan Rajab sebagai simbol perdamaian. Kedua, perlunya bersikap visioner dengan mempersiapkan hal-hal yang dianggap penting untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Ketiga, berusaha menjadi pribadi muslim yang intelek, muslim yang ilmuwan, selaras dengan perkembangan zaman. Wallahu a’lam bish showwab.