Jarir Idris*

 

Kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 9 Ramadan 1364 H (17 Agustus 1945). Hal ini tentunya dipahami oleh para pengamat sejarah atau orang yang setidaknya pernah membaca sejarah tersebut. Perjuangan kemerdekaan melawan penjajah juga diibaratkan orang berpuasa. Para pejuang kemerdekaan menahan rasa lapar, haus bahkan mereka harus menahan untuk menikmati hasil bumi tanah kelahirannya sendiri. Dengan gigih dan semangat, mereka terus berjuang untuk memerdekaan Indonesia.

Tidak hanya sampai di situ, para pejuang ini ternyata juga mencoba untuk melatih anak-anak keturunan mereka untuk bisa berperang melawan penjajah. Teknik gerilya adalah teknik yang menjadi andalan bagi tentara Indonesia yang sudah diakui oleh dunia. Teknik gerilya yakni pertempuran yang berlangsung di hutan rimba.

Para pejuang pun tidak kehabisan akal dalam mendidik anak-anak mereka agar bisa seperti mereka. Pejuang Indonesia tampaknya tidak terlalu dokteriner dalam mendidik anak-anak mereka supaya bisa melakukan peperangan. Karenanya anak-anak mereka diajarkan teknik perang, tetapi dengan hal yang sederhana yaitu lewat permainan. Beberapa permainan yang masih sangat relevan dan perlu untuk dibudidayakan di antaranya yakni :

Petak Umpet

Siapa yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Tentunya semua yang membaca tulisan ini, tahu apa itu petak umpet. Tidak perlu dijelaskan bagaimana cara bermainnya karena hanya beda tipis antara desa satu dengan lainnya. Perlu diketahui, bahwa petak umpet adalah salah satu teknik gerilya yang digunakan para pejuang kemerdekaan Indonesia kala itu. Mereka bersembunyi di hutan belantara dan dimanapun yang penjajah tidak dapat menemukannya.

Meriam Bambu

Salah satu dari kita mungkin pernah mempunyai pengalaman khas tentang permainan yang satu ini. Permainan ini, meskipun terlihat sepele dengan menggunakan bambu, karbit dsb, tetapi jika tidak dengan konsentrasi dan hati-hati, bisa jadi kita sendiri korbannya. Meriam bambu digunakan oleh para pejuang kala itu untuk menakut-nakuti para penjajah bahwa mereka sudah siap dengan ledakan yang besar. Padahal, kita tahu bahwa meriam bambu ini hanya mengeluarkan suara tanpa mengeluarkan misil seperi bom yang sesungguhya meskipun suaranya menggelegar.

Gerobak Sodor

Permainan ini mungkin sedikit berebeda dari yang lain. Inti permainan ini adalah berlatih dengan taktik cara untuk melindungi markas pertempuran. Terdapat penjaga dan juga ada penyusup yang nantinya mencoba untuk memasuki markas dengan menggunakan teknik tertentu. Permainan ini, membutuhkan kerjasama tim agar bisa berjalan dengan baik dan bisa menjaga markas agar tidak ada penyusup yang masuk.

Contoh permainan di atas adalah salah satu bentuk kecintaan para perjuang kemerdekaan Indonesia yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Berharap, bahwa menjaga kedaulatan republik yang kehidupannya multikultural ini, diperlukan adanya latihan dan pengenalan sejak dini, maka mereka mewariskan itu semua kepada kita agar kita sadar pentingnya hal itu. Menjaga kedaulatan negara di tengah cepatnya perubahan zaman, memanglah tidak mudah. Maka dari itu, didiklah anakmu sejak dini untuk cinta NKRI agar kelak ia bisa bersyukur, betapa beruntungnya ia bisa menikmati indahnya bumi Ibu Pertiwi.

 1,107 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini