Vera Imanti*

“Ramadan tiba… Ramadan tiba…” lirik ini menjadi akrab di telinga beberapa minggu sebelum bulan Ramadan tiba yang didendangkan oleh anak-anak kecil. Mereka menyanyikannya dengan riang gembira. Ya, riang layaknya anak-anak ketika menyanyi. Ekspresi yang ceria ini secara tidak langsung ikut mentransfer semangat Ramadan bagi orang dewasa di sekitarnya.

Anak-anak memang belum mampu memahami sepenuhnya tentang bulan penuh berkah ini. Namun karena stimulus lingkungan yang terus menerus ditemui membuat anak-anak ini familiar akan datangnya bulan penuh berkah.

Dimulai dari televisi, iklan sarung dan sirup mulai bermunculan di tengah-tengah tayangan film kartun mereka. Belum lagi persiapan si ibu yang menimbun bahan-bahan masakan di dapur, hingga ritual yang dilakukan oleh sebagian orang untuk menyambut Ramadan (seperti padusan, ziarah dll). Maka anak-anak mulai mengenal Ramadan dengan ikut berbaur mengikuti ritme lingkungannya.

Anak memang tidak terlibat langsung, namun lingkungan yang hiruk pikuk mempersiapkan penyambutan ini dapat dipantau oleh sang anak. Mungkin terdapat banyak pertanyaan dalam benak mereka, namun urung ditanyakan. Untuk menyusun alur pertanyaan saja mereka masih kesulitan, akhirnya hanya segelintir pertanyaan yang muncul. Belum lagi orang tua speechless dengan pertanyaan-pertanyaan si anak. Lalu apakah sebaiknya diam, sedangkan rasa ingin tahu bagi anak-anak layaknya kekuatan pikiran yang terus tumbuh dan berkembang.

Anak usia dini (usia 0-6 tahun) merupakan masa golden age, dimana mereka akan menyerap sebanyak-banyaknya informasi yang dilihat, didengar, dirasa, atau dari apa yang mereka lakukan. Intinya stimulus yang ada pada lingkungan merupakan sumber informasi yang akurat bagi mereka. Ibarat sponge (spon cuci piring) akan dapat menyerap air, hingga sponge terasa berat karena terisi air. Begitulah ibaratnya otak anak, segala informasi mereka serap tanpa tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang benar-benar akan terserap dan tersimpan dalam memori hingga mempengaruhi persepsi dan perilaku.

Ramadan ini saya melihat ada pergeseran pembiasaan pada anak dari lingkungan. Baik lingkungan keluarga, lingkungan rumah, serta lingkungan sekolah. Lingkungan keluarga, orang tua sebaiknya menjadi rujukan dari rasa ingin tahu yang ada dalam benak anak. Segala macam pertanyaan dijelaskan dengan cukup sederhana sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak.

Berikan kesempatan anak jika ingin mencoba berpuasa tanpa paksaan. Perkuat dengan memotivasi, memberikan pujian, memberikan pelukan dan senyuman meskipun prosesnya belum sesuai. Makan bersama ketika sahur ataupun berbuka, usahakan matikan saja televisinya sehingga acara makan bersama menjadi waktu yang lebih berkualitas.

Begitu juga dengan aktivitas sehari-hari dengan memperbanyak ibadah, maka libatkan juga ibadah untuk anak. Ramadan tidak lagi memberikan iming-iming baju baru atau angpao bagi yang pintar beribadah. Hal tersebut hanyalah bonus semata bukan dijadikan tujuan bagi anak. Memahamkan niat beriman lebih utama daripada sekedar baju baru lebaran. Apalagi sekarang dipermudah dengan adanya olshop, sehingga tidak mengganggu waktu beribadah dan tidak perlu berdesak-desakan.

Lingkungan sekitar rumah, sudah semakin banyak masjid-masjid yang menyediakan takjil setiap sore, diselingi TPA, hingga buka bersama warga. Waktu-waktu ini dijadikan momen yang menyenangkan bagi anak-anak, dimana tidak hanya mereka saja yang berkumpul namun orang tuanya pun menantikan buka bersama di masjid. Ada semacam support bagi anak, karena orang tuanya pun hadir meramaikan. Dilanjutkan dengan ibadah sholat tarawih, bisa dipastikan masjid ramai dari berbagai usia. Kondisi seperti ini tidak mereka temui di bulan-bulan yang lain.

Lingkungan sekolah, beberapa sekolah mengadakan acara untuk menyambut bulan Ramadan yang dikemas menarik. Selain itu, sekolah memberi himbauan pada orang tua untuk tidak membawakan jajanan dan minuman untuk anak. Anak berlatih puasa dengan menyenangkan. Jika ada yang merasa haus atau lapar maka sekolah akan menyediakannya. Orang tua pun diharapkan memberikan informasi apakah anaknya berlatih puasa atau tidak. Adanya informasi yang intens antara orang tua dan sekolah, dapat membantu anak semakin mengenal bulan penuh berkah.

Lingkungan-lingkungan tersebut memberikan stimulus yang positif pada anak. Maka penyerapan informasi pada anak dapat terseleksi dengan baik. Karena anak belum mampu memilah informasi yang baik dan tidak, maka lingkunganlah yang membatasi dan menciptakan stimulus yang layak untuk anak. Sehingga penyerapan informasi layaknya sponge tadi akan banyak menyerap informasi yang baik, yang akan mempengaruhi persepsi dan perilaku.

Imam Bukhari memberi judul salah satu bab dalam kitab Shahih-nya dengan nama Shiyamush Shibyan (puasanya anak-anak), kemudian ia membawakan hadis Umar. Yaitu ketika Umar melihat seorang yang mabuk tidak berpuasa di bulan Ramadan. Umar menghardiknya, “Celakalah engkau! Engkau melakukan ini padahal anak-anak kami sedang puasa!” Betapa pentingnya stimulus lingkungan dalam membentuk karakter, pembelajaran, dan sumber informasi bagi anak-anak, Islam telah mengajarkannya.

Orang-orang dewasa boleh saja sekuat tenaga beribadah pada bulan penuh berkah ini. Namun jangan lupa ada anak-anak yang juga selalu membutuhkan ruang untuk menjawab rasa ingin tahu, dan ruang stimulus yang baik. Karena mereka pun berhak menikmati Ramadan, Ramadannya anak-anak.

*Dosen BKI FUD IAIN Surakarta

1,014 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini