Peradaban berkembang sesuai dengan tingkat kemajuan ilmu dan teknologi manusia. Dalam bidang teknologi manusia selalu membuat inovasi demi inovasi yang berkembang pesat, seakan tiada hentinya. Dalam dunia teknologi otomotif, hampir setiap setegah tahun suatu produsen motor maupun mobil mengeluarkan seri terbarunya. Inovasi-inovasi ini pada akhirnya mendorong manusia untuk selalu mengikuti trend kekinian untuk memenuhi kebutuhan gengsi yang menuntut mereka.

Teknologi seharusnya memudahkan manusia dalam pekerjaannya. Namun fenomena terakhir ini justru sebaliknya manusia yang diperbudak oleh teknologi. Misalkan telfon genggam yang kita gunakan secara berlebihan sehingga kita pun sulit untuk lepas darinya. Seakan dunia terasa kurang jika tidak menggunakannya, bahkan ada yang rela mengorbankan hartanya hanya untuk mengikuti trend kekinian ketika HP yang di claim kekinian.

Penggunaan teknologi yang berlebihan menimbulkan efek yang tidak baik bagi penggunanya. Contohnya, minat baca pemuda milenial zaman sekarang menjadi berkurang dan memprihatinkan. Mereka lebih menyukai membaca status media social dari pada membaca buku. Padahal sudah mereka ketahui pula sejak dulu kata-kata yang sering diulang-ualng oleh guru bahasa Indonesia mereka yaitu ”Buku adalah gudang ilmu” mereka tahu jika membaca buku tidak akan menjumpai sesuatu kecuali ilmu yang mereka akan dapatkan. Namun demikian, mereka seakan lupa dengan perkatan itu, seakan sudah tergeser dengan permainan yang ada di dalam HP mereka.

Sedikit demi sedikit buku mulai terasingkan, mulai kehilangan tempat duduk di hati pemuda milenial zaman sekarang. Buku hanya untuk memenuhi tugas kuliah mereka tidak lebih untuk dijadikan seorang sahabat yang menemani ketika waktu yang begitu luangnya. Mereka kehilangan kenikmatan yang terdapat pada proses membaca dan membuka setiap halaman buku yang memiliki rasa nikmat tersendiri, apalagi ditemani secangkir kopi yang dibuatkan oleh istri.

Kembali lagi permasalah minat baca yang sangat minim ini sangatlah berdampak pada pola pikir masyarakat yang tidak jeli dan tidak teliti dalam menerima informasi. Seseorang menjadi sangat mudah terprovokasi ketika ada berita yang ternyata itu bukan berita yang benar. Minimnya minat baca buku ini menyebabkan seseorang mudah percaya terhadap berita-berita dan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sehingga pada akhirnya, berita hoaks dan profokatif mudah menyebar melalui media sosial.

Untuk mengatasi permasalahan ini bisa dilakukan melalui beberapa hal. Di antaranya adalah banyak membaca buku untuk memperluas cakrawala ilmu pengetahuan seseorang. Dengan membaca, seseorang akan memiliki cara pandang yang terstruktur, kritis dan bijak dalam memandang sesuatu.

Selain itu, bijak dalam bermedia sosial adalah cara yang ampuh untuk meningkatkan literasi masyarakat. Bijak di sini adalah menggunakan media sosial dengan wajar dan tidak mudah percaya terhadap berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Dan juga mebiasakan diri untuk mengatur waktu untuk membaca buku dan bermedsos, meski sangat sulit untuk dilakukan namun hal ini perlu dimuali dari niat yang kuat. Dengan membiasakan diri untuk mengatur waktu dengan baik maka minat membaca dapat meningkat kembali.

Hal lain yang paling mudah untuk dilakukan seorang pemuda milenial dalam mengatasi hoaks adalah belajar menulis di media sosial dengan disertai argumen yang kuat sehingga terlatih untuk berfikir kritis dan argumentatif. Dengan demikian, konten-konten hoaks akan tertutupi dengan konten-konten positif yang kita bagikan di media sosial.

 

*Divisi Departemen Pendidikan HMJ PGMI IAIN Surakarta

 1,096 total views,  2 views today