Alquran diturunkan untuk mengantarkan kehidupan manusia agar memiliki peradaban yang tinggi. Sebab manusia disamping dibekali nafsu, juga dibekali akal dan hati sekaligus.  Dengan nafsunya, manusia memiliki berbagai keinginan untuk berkembang, dan dengan akalnya,  manusia bisa berfikir dan berekreasi. Sementara dengan hatinya,  manusia dapat merasa, bersimpati dan berempati.  Itu sebabnya, Alquran secara fungsional sebagai hidayah juga buat manusia, agar manusia senantiasa berada on the right track.

Sebagai petunjuk Alquran bukan hanya menyediakan berbagai tuntunan , tetapi juga sebagai  sumber inspirasi dan motivasi bagi manusia untuk hidup lebih baik dan lebih maju secara peradaban.

Maka sejak  diturunkannya, Alquran telah memancangkan sendi -sendi reformasi bagi pembangunan peradaban mannusia.

Apa saja reformasi Alquran dalam rangka membangun peradaban manusia?

Pertama,  reformasi di bidang teologis, yaitu min al syirki  ila al tauhid. Min ibadatil ashnam ila ibadatil khaliqil anam. Tauhid sesungguhnya simbol pembebasan  liberasi manusia.  Sebab kita hanya mempertuhankan Allah Swt semata,  tidak kepada yang lain. Segala bentuk ilah tuhan tuhan selain Allah dinafikan. La ilaha illa Allah.  Surat al Ikhlas yang turun di Mekah sangat jelas memperlihatkan bagaimana konsep tauhid yang diajarkan Alquran.

Kedua,  reformasi literasi,  perintah pertama iqra. Iqra bisa berarti membaca,  meneliti, mengamati,  mengumpulkan data untuk dianalisis.  Perintah iqra dapat dikatakan sebagai mukjizat terbesar al Quran untuk umat manusia

Ketiga, reformasi legislasi (hukum) demi tegaknya keadilan. Alquran mengajak untuk menegakkan keadilan.  Masyarakat dikatakan berperadaban manakala mereka taat pada hukum.  Demokrasi yang tidak taat hukum akan menjadikan masyarakat anarkhis dan chaos. Pendek kata,  segala tindakan yang inkonstitusional dapat disebut tidak Qurani. Alquran menegaskan pentingnya taat kepada Allah Swt, Rasulullah dan Ulil amri.

Keempat, reformasi akhlak (karakter). Semua ajaran Alquran dan Sunnah akhirnya dimaksudkan untuk pembentukan karakter.  Agama tanpa akhlak nonsense. Bukankah Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak?. Oleh sebab itu, tugas kita semua baik sebagai orangtua maupun guru atau dosen adalah bagaimana menanamkan karakter yang unggul kepada anak anak, siswa dan mahasiswa, agar generasi generasi kedepan menjadi yang hebat dan bermartabat.

Kelima, reformasi dalam  kesetaraan laki laki dan perempuan (Al musawah bain al jinsain) . Ini adalah cita cita ideal Alquran. Betapun kadang kita menjumpai beberapa ayat Alquran yang terkesan ada ketidaksetaraan antara laki laki dan perempuan. Seperti, ayat tentang warisan, ayat tentang kepemimpinan, ayat tentang perceraian dan lain sebagainya. Padahal jika ayat ayat tersebut  dibaca secara kontekstual maqashidi, kita akan mendapati pemahaman yang lebih humanis dan setara. Wa allahu a’lam bishawab.

 

 

 

606 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini