Salah satu tantangan manusia Indonesia kini ada di pendidikan. Mengingat, pendidikan di Indonesia sedang dihadapkan pada pertarungan ideologi. Dari ideologi yang memandang pentingnya “Indonesianisasi Islam” dengan non-indigenous Islam Indonesia yang memandang perlunya “Islamisasi Indonesia”.

Gayutnya pertarungan ideologi itu menyebabkan pendidikan Islam mengalami pergeseran visi atau wajah. Pendidikan Islam Indonesia yang dulunya toleran, menjadi intoleran. Yang dulunya anak didik/orang/kelompok/organisasi ramah, bergeser menjadi marah. Yang dulunya ingklusif menjadi eksklusif. Yang dulunya moderat menjadi ekstrem (h 4). Demikian itu terjadi di lembaga-lembaga seperti pendidikan Islam swasta transnasional, atau lembaga pendidikan berbasis masyarakat organik yang mandiri dan otonomi kebijakannya, seperti  madrasah, sekolah Islam, dan pesantren (h 10).

Fenomena itu yang menjadi kegelisahan Prof.Toto Suharto selama ini. Bahkan, dalam pidato pengukuhan guru besarnya besok pada 20 Februari 2020, di bidang Ilmu Filsafat Pendidikan Islam mengangkat tema “Remoderasi Pendidikan Islam di Indonesia: Tantangan Ideologis.”

Selama menjadi peneliti yang konsen di bidang pendidikan, Toto menemukan beberapa perubahan yang mencemaskan, mungkin memiriskan. Melalui pisau analisis ideologi, Toto menemukan di tiga lembaga tersebut (madrasah, sekolah Islam, dan pesantren), sebagian telah terjadi pertarungan ideologis yang mengarah pada konservatisme Islam (h 11). Bahkan, pertarungan ideologi ini menghapus “cintra” atau “norma baik” yang dimiliki lembaga itu, yang dulunya berfungsi sebagai pengawal moderasi Islam dan mencerdaskan manusia yang toleran, malah sebaliknya (h 12).

Mengapa itu terjadi? Toto berpendapat bahwa, karena pendidikan swasta yang di kelola oleh organisasi/yayasan tertentu memiliki jejaring Islam transnasional, memiliki ideologi tersembunyi (ideologi Salafi yang menginginkan negara Islam dan penerapan syariah dan tambahan penulis ajang kontestasi politik praktis), dan lembaga ini lepas dari pengawasan pemerintah (h 14-15).

Bukti dari adanya ideologi tersembunyi itu adalah, lembaga-lembaga ini secara samar menerima Pancasila meski hanya sebagai taqiyyah saja, agar pendidikannya tetap eksis, menolak mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang memuat Pancasila, dan bahkan di ekstrakulikuler seperti Pramuka, ideologi tersembunyi itu gencar diajarkan (16-17). Misalnya, di materi-materi dan lagu-lagunya, “Islam Yes, Kafir, No”.

Oleh sebab itu, Toto dalam teks makalah pidato pengukuhan ini menawarkan rekomendasi, agar menjadi lembaga pendidikan moderat yang menciptakan insan-insan cendekia santun, dengan  sebutan “remoderasi pendidikan Islam” yang dibagi  menjadi tiga bagian.

Pertama, merumuskan tujuan pendidikan Islam moderat.

Karena tujuan pendidikan diharapkan menciptakan hasil yang baik atau menghasilkan lembaga pendidikan yang moderat, maka rumusan tujuan pendidikan harus memperhatikan konsep dan filsafat “baik”, dalam arti etiket (adab-sopan santun), conduct (prilaku terpuji), virtualis (watak terpuji), practical values, dan living values. Rumusan tujuan lembaga pendidikan Islam setidaknya memuat empat hal: (1) komitmen kebangsaan; (2) toleransi; (3) anti kekerasan; (4) akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Toto berharap keempat rumusan diatas dapat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan Islam di Indonesia (h 21).

Kedua, merancang kurikulum pendidikan Islam moderat.

Melihat materi pendidikan tersebar lewat media cetak dan digital, dan ini juga dilakukan oleh kelompok Islam transnasional, maka kurikulum pendidikan moderat harus memuat diantaranya dua belas pemahaman Islam moderat, yaitu:

  • Pemahaman bahwa ajaran Islam itu normal, tidak memudahkan juga tidak memberatkan.
  • Pemahaman bahwa Islam agama toleran dan terbuka terhadap perbedaan.
  • Pemahaman bahwa rukun terhadap perbedaan pendapat adalah bagian ajaran Islam.
  • Pemahaman bahwa Islam sangan kooperatif terhadap perbedaan pendapat.
  • Pemahaman bahwa Islam agama tidak menotelerir terhadap kekerasan.
  • Pemahaman bahwa Islam memprioritaskan dialog dalam menyelesaikan masalah.
  • Pemahaman bahwa Islam agama yang menghargai modernitas untuk kemaslahatan umat.
  • Pemaham bahwa Islam agama yang mengandung demokrasi untuk kemaslahatan umat.
  • Pemahaman bahwa Islam agama yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).
  • Pemahaman bahwa Islam menganjurkan berfikir rasional berdasarkan wahyu.
  • Pemahaman bahwa dalam menafsirkan teks-teks Qur’an dan Sunnah tidak hanya theosentris tetapi juga harus antroposentris dan kontekstual.
  • Pemahaman bahwa Islam memetingkan Ijtihad dalam menafsirkan apa yang termaktub dalam Qur’an dan Sunnah (21-23).

Ketiga, menginternalisasikan Islam moderat dalam kurikulum tersembunyi.

Karena ajaran tersembunyi (tidak tertulis dalam dokumen kurikulum) sangat efektif dalam membentuk watak dan kepribadian peserta didik, maka penyelenggara pendidikan harus menginternalisasikan norma-nilai keislaman dan keindonesiaan (Pencasila), baik melalui proses intrakulekuler, kokurikuler maupun ekstrakurikulernya. Harapan Toto, nilai dua belas diatas dapat diinternalisasikan dalam proses pendidikan, karena merupakan abstraksi dari paham Islam moderat yang juga menjadi karakter Islam Indonesia (h 23). Pengatahuan Islam moderat memungkinkan dapat menjadi official knowlegde. Bahkan mungkin menentukan arah masa depan Islam Indonesia (h 25).

Pertanyaannya, jika rekomendasi “remoderasi pendidikan Islam” yang ditawarkan Prof.Toto meniscayakan arah Islam Indonesia dan negara-bangsa yang makin cerah, apakah pemerintah tetap ingin mewacanakan Penataran Pedoman Penghayat dan Pendidikan Pancasila (P4, meski dalam format baru), lagi?

Selamat atas pengukuhan Guru Besar Pak Toto Suharto, semoga berkah dan sehat selalu. Amien!

 

 

 1,213 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini