Hari Rabu, tanggal 15 Syawwal 2007, untuk pertama kalinya, saya memasuki gerbang pintu Pondok Pesantren (PP) al-Amien Prenduan, Sumenep. Pada tahun itu, mungkin segenap jajaran keluarga besar pondok sedang berkabung, karena wafatnya pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantrenal-Amien: K.H Moh. Tidjani Djauhari, MA.

Pondok al-Amien di bawah kepemimpinan dan kepengasuhan beliau ini mengalami banyak perkembangan dari berbagai aspek, mulai dari bangunan, tingkat pendidikan, kurikulum, hingga mendapat pengakuan dari dunia internasional yang menyamakan lulusannya sederat dengan SMP/MTs, SMA/MA.

Secara visual, saya belum bertemu sama sekali dengan kiai yang banyak dikagumi oleh ustaz-ustaz di Pondok al-Amien ini. Dari tahun 2007 hingga 2011, potret dan citra tentang sosok pribadi, kiprah, dan gagasan, serta pemikiran K.H Moh Tidjani Djauhari, baik di tingkat lokal, regional, dan nasional, serta internasional, saya dapati dari cerita-cerita kyai-kyai, alumni, uztaz di kelas dan di masjid. Dilanjutkan membaca langsung warisan gagasan dan pemikiran kiai Tidjani, terutama tentang membangun masyarakat Madura, bukan membangun di Madura.

Potret K.H Moh Tidjani Djauhari

Selanjutnya, potret dan citra lain baik K.H Moh Tidjani Djauhari, saya dapati dari Warkat yang memang setiap tahun diberikan pada santri, dan Majalah Qolam, serta literatur yang mengulas pemikiran dan gagasan beliau. Misalnya, Ulama Negosiator Pesantren: Teladan dan Pengalaman Hidup K.H Moh. Tidjani Djauhari, MA (2011) karya Iwan Kuswandi ini semakin memperkuat dan mempertegas potret dan citra yang saya dapat selama berada di Pondok al-Amien Prenduan.

Kini, potret dan citra sosok pribadi, kiprah, dan gagasan, serta pemikirannya itu terekam lagi dalam Jejak Keteladanan Kiai Moh. Tidjani Djauhari: Pribadinya dalam Kenangan (2020) ini. Inilah catatan dan ingatan penting para santri, alumni, muhubbin tentang sosok kiai Moh. Tidjani Djauhari. Di buku ini, ada 31 santri yang mengawetkan kisah sejarah, pengalaman hidupnya selama berinteraksi dengan sang guru, di mana, pengaruh dan jasa-jasanya sangat besar, dan bahkan sangat terasa hingga kini.

 

Kiai Lokal berlevel Internasional

Tokoh kelahiran Sumenep, Madura 23 Oktober 1945 M ini memiliki nama lengkap Muhammad Tidjani Djauhari, dikenal sebagai santri, guru, ulama, sufi, intelektual visioner, disiplin, dan sangat menghargai ilmu pengetahuan. Kiai Tidjani membentuk diri sejak masa kanak-kanak, ketika masih dalam lingkungan ajaran ayahnya: kiai Djauhari yang tak membatasi dalam mempelajari dan membaca buku-buku ilmu agama dan ilmu-ilmu yang lainnya, maka ia dikenal sebagai santri yang sangat cerdas.

Kiai Tidjani sedari kecil didik secara mandiri, seakan-akan menjadi paket lengkap dalam memahami persoalan-persoalan keagamaan dan kemanusiaan masyarakat Madura. Ia memang berasal dari keluarga berlatar belakang kiai, di mana kesehariannya tetap bekerja giat demi menjaga keberlangsungan pendidikan Islam masyarakat Prenduan. Kebiasaanya, sebelum nyantri ke Pondok Modern Gontor sama seperti kebiasaan anak-anak Madura pada umumnya.

Seperti kebiasaan di zaman dulu, pagi hari belajar pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SD-sekarang), siang harinya belajar agama di Madrasah Mathalabul Ulum al-Washliyah (MMA), dan sore harinya diisi dengan mengaji di surau yang dirintis Kiai djauhari, lalu dikirim ke Pondok Modern Gontor Ponorogo. Setelah tamat dan mengabdi di Gontor selama setahun, ia mendaftarkan diri studi S1 di Jami’ah Islamiyah Madinah, dan lanjut studi S2 ke King Abdul Aziz Universitas Makkah.

Hingga, pada akhirnya, setelah selesai magisternya, kiai Tidjani bergabung dengan organisasi Rabithah Alam Islami Makkah dengan jabatan Direktur Bagian Riset dan Studi Rabithah Alam Islami. Dan, ini menjadi semacam ruang gerak pemikiran dari berbagai bidang, serta membuat keputusan dalam membentuk masa depan PP al-Amien Prenduan sebagai satu-satunya pondok Pesantren modern di Madura.

Meskipun menduduki jabatan tinggi di organisasi Islam terbesar dunia, kiai Tidjani selalu ingin mamajukan sistem pendidikan pondok Pesantren al-Amien. hal itu terbukti, tahun 1989 ketika berada di puncak karirnya, beliau memutuskan kembali pulang ke Prenduan. Kiai Tidjani selain dikenal sebagai ulama alim pengusung sistem pondok modern, juga dikenal sebagai ulama yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat Madura. Bukunya berjudul Membangun Madura (2008) menarasikan secara jujur dan tegas tentang persoalan dan tantangan Madura pasca dibangunnya jembatan Suramadu.

Sekian banyak pengalaman dan pemikiran yang diwariskan kiai Tidjani pada masyarakat maduru, khususnya santri-santrinya seperti, Koordinator Pusat Badan Silaturrahmi Ulama Madura, Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Pendirian Badan Silaturrahmi Ulama Madura, Pendirian Koperasi Jasa Usaha Bersama, serta Ketua Tim Penyusun Buku Pegangan dan Pedoman Manasik Haji, diterbitkan depatemen agama RI dan lainnya.

Forum-forum diskusi ilmiah, baik di tingkat lokal, regional, dan nasional, serta internasional sudah dilakukan oleh Kiai Tidjani dan ini mendapatkan pengakuan. Makanya, kiai Tidjani juga dikenal sebagai kiai lokal berlevel internasional. Ghufron Cholid, misalnya, dalam tulisannya, “al-Amien Prenduan meski berpusat di Madura tepatnya di sebuah kawasan yang berada di bawah naungan Kabupaten Sumenep, soal hubungan internasional bukan hanya kabar burung melainkan sudah mendapat isapan jempol (halaman 203).”

Kiai Tradisionalis-Modernis

Setelah pulang dari Mekkah, dan menjadi pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren al-Amien Prenduan, serta hidup bahkan berkawan lama dengan kalangan kaum modernis, seperti Nurcholis Madjid atau Cak Nur di Gontor, tidak serta merta membuat kiai Tidjani menghilangkan sikap dan sifat tradisional yang ada di masyarakat dan lingkungannya. Dalam membangun pondok Pesantren, kiai Tidjani tetap mempertahankan tradisi religio-tradisional sebagai kerangka pendidikan Islam.

Gagasan besar kiai Tidjani ada pada perpaduan sistem pondok Pesantren tradisional dan sistem pondok modern yang  dapat dilihat dalam dinamika perjuangan pendirian Ma’had Tahfidh Al-Quran dalam lingkungan Pondok Pesantren al-Amien Prenduan. Pendirianya dapat dikatakan sebagai anti tesis dari negatifisme modernitas di kalangan ulama Madura.

Tradisi tradisionalis dan modernis oleh kiai Tidjani disatupadukan dalam wadah Ma’had Tahfidh Al-Quran. Encung selaku santri yang sering berinteraksi dengan kiai Tidjani menuliskan, “cita-cita pendirian Mahad Tahfidh Al-Quran al-Amien Prenduan merupakan salah semangat beliau dalam mengembangkan wawasan tradisional keberagamaan yang didapuk sebagai benteng tegaknya modernistas yang lahir dengan membawa sisi negatifitasnya tersebut. Pada hafidh al-Quran di Ma’had Tahfidh Al-Quran al-AmienPrenduan diorientasikan untuk kekosongan sudut-sudut modernitas yang selama ini ditenggarai menjadi ladang tumbuh suburnya materialisme, sekularisme dan liberalisme (hal. 98)”.

Dari integralisme sistem pendidikan tersebut, pada akhirnya setiap lulusan pondok Pesantren al-Amien bisa menjadi pemimpin umat dalam berbagai aspek. Sidiq Mustakim menulis, “Melihat tujuan dari lembaga Ma’had Tahfidh Al-Quran mencetak kader-kader mundzirul qaum yang matafaqqih fid-din, berjiwa IMTAQ, berbekal IPTEK dan memiliki ciri khusus sebagai haffadz/hamalatul quran yang mampu mengimplementasikan nilai, ajaran dan isi kandungan Al-Quran dalam kehidupan (hal 167).”

Tentu gagasan sistem pendidikan integral yang dikonsepkan kiai Tidjani tidak berasal dari Gontor dan juga bukan copy paste dari pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia, akan tetapi sebagai bagian dari interaksi dan pergaulan serta pembacaan realitas umat Islam dikala masih berada di Rabithah Alam Islami.

Pandangannya ini disamakan dengan Natsir Muda yang sangat progresif. Kamil Alfi Arifin, misalnya dalam tulisan “…saya kira tidak berlebihan, jika seumpama KH. Tidjani Djauhari itu dijuluki sebagai “Natsir Muda”, terutama ya “Natsir Muda dari Madura” untuk membedakan tokoh-tokoh lain yang juga sempat dijuluki Natsir Muda (hal. 188)”.

Pada akhirnya, melihat potret dan citra lain tentang pribadi, kiprah, dan gagasan serta pemikiran kiai Moh. Tidjani Djauhari tak hanya dapat dikatakan kiai “lokal”, dan “tradisional” akan tetapi juga dapat dikatakan sebagai kiai “modernis” bahkan kiai “internasional” sekaligus. Dikatakan “lokal” secara biologis ia lahir di tengah-tengah kehidupan masyarakat desa Prenduan, “tradisional” karena masih memegang teguh nilai-nilai Pesantren tradisional. Dikatakan kiai “modernis” karena berhasil melakukan usaha-usaha memodenisasi pondok Pesantren, mendirikan perguruan tinggi Islam. Dan, dikatakan kiai “internasional” ketika melihat aktivitas dan interaksi serta organisasi yang dijabat selama ini. Gitu