Nuklir adalah primadona. Seolah-olah harapan baru. Dan bom atom memukau banyak pimpinan negara. Siapa berhasil menguasai akan jadi raja yang disegani. Soekarno berani bersaing. Ia pemimpin politik karismatik. Ia berambisi. Ia nyaris sukses.

Buku ini amatlah menggoda. Tidak cuma karena bicara politik nuklir. Tapi karena menaruh informasi alternatif. Di sana ada tiga tautan penuh teka teki. Soekarno, nuklir dan Muhammadiyah.

Soekarno adalah anggota Muhammadiyah sejak 1938. Dia pernah jadi ketua majelis pendidikan Muhammadiyah Bengkulu. Juga pernah berkata bahwa jenazahnya harus ditutupi bendera Muhammadiyah.

Soekarno muda adalah santri KH. Ahmad Dahlan. Ia menguntit ceramah pendiri Muhammadiyah itu di berbagai tempat. Karena ia merasa sang kiai punya pemikiran Islam yang maju.

Pada perayaan jelang setengah abad organisasi Islam ini. Soekarno pernah marah ke Muhammadiyah. Sebab ia tak pernah ditagih iuran keanggotaan. Ia berkata, meski merupakan presiden Republik Indonesia, ia tetap anggota Muhammadiyah. Jadi wajiblah ia ditagih. Muhammadiyah tak boleh sungkan.

Hubungan Soekarno dan Muhammadiyah adalah rahasia politik. Jarang ditampilkan. Karena Soekarno adalah simbol bagi banyak pergerakan antikolonialisme nusantara. Di satu sisi juga karena ia pernah mengecewakan simpatisannya dari kelompok Islam.

Tapi sejarah politik nuklir menghubungkan lagi relasi Soekarno dan Muhammadiyah. Meski tentu bukan fokus utama buku ini. Ada dua spekulasi yang dapat dikembangkan.

Soekarno awalnya menolak senjata nuklir. Selama awal tahun 1950an ia pegang teguh sikap ini. Bahkan pada 1958 ia mengkritik persaingan pengembangan senjata berbasis tenaga atom.

Bagi Soekarno perdamaian adalah pilihan akhir. Negara-negara di dunia harusnya damai. Tak mengulang tragedi Hiroshima dan Nagasaki.

Tapi sejarah berubah. Terekam justru pada muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung tahun 1965. Menurut Teuku Reza Fadeli si penulis Nuklir Soekarno, pada momen ini Soekarno berpidato tegas tentang pengembangan senjata nuklir.

Memang bukan pernyataan publik pertama. Tapi ini merupakan sinyalemen kuat pertama di hadapan publik muslim terkait perubahan sikap yang disampaikan langsung Soekarno. Utamanya orientasi pengembangan energi nuklir oleh Soekarno. Tapi kenapa di hadapan Muhammadiyah. Itu pertanyaan saya pribadi.

Saya sendiri pernah baca dokumen berjudul Himpunan Prasaran-prasaran dalam Mu’tamar Muhammadijah ke 36 tahun 1965. Menurut saya isinya sangat Soekarnois. Kecaman pada imperialisme, kapitalisme dan kolonialisme sangat kental.

Jika kita menelusuri setiap jengkal dokumen prasaran itu, kita akan tahu bahwa isinya mengakomodir gagasan revolusi ala Soekarno.

Salah satu dokumen yang terselip di himpunan itu berjudul Menudju Ekonomi Sosialis Indonesia. Entah ditulis oleh siapa. Mungkin salah seorang panelis. Mungkin juga bikinan orang Majelis di Muhammadiyah. Tapi jelas ini agak aneh. Tak bisa dibayangkan. Ini organisasi yang sering dianggap kurang nasionalis. Sering dipinggirkan dari gerakan antikolonial.

Gagasan-gagasan di dokumen itu mengarahkan spekulasi. Muhammadiyah adalah tempat Soekarno melempar gagasan ke kaum muslim. Sebagaimana yang dikutip Teuku Reza Fadeli, ada harapan Soekarno pada Muhammadiyah. Bung Besar itu berharap Muhammadiyah membantunya mewujudkan visi politik. Salah satunya adalah politik nuklir.

Soekarno tidak anti teknologi nuklir. Karena ia sendiri pernah membentuk Dewan Tenaga Atom tahun 1958. Tujuannya untuk meneliti radioaktif di sekitar kepulauan Indonesia. Karena Amerika pernah melepas bom hidrogen di Samudra Pasifik pada 1952. Pembentukan itu terjadi pada era kabinet Djuanda.

Jadi spekulasi berikutnya ada di hubungan Soekarno dan Ir. Djuanda. Kita tahu keduanya adalah anggota Muhammadiyah. Djuanda mirip Soekarno. Pernah bergiat di bidang pendidikan Muhammadiyah. Ir. Djuanda adalah bekas guru SMA Muhammadiyah Jakarta pada 1937. Konon orang tua Djuanda sendiri adalah aktivis Muhammadiyah.

Mengapa Soekarno menunjuk Ir. Djuanda juga adalah pertanyaan. Mungkin tak ada kaitan dengan latar sebagai sesama anggota Muhammadiyah. Mungkin juga ada. Karena Ir. Djuanda dianggap dihormati di kalangan muslim modernis. Sehingga resistensi pengembangan teknologi nuklir bisa diredam.

Sulit ditebak apa tali temali antara Soekarno, Muhammadiyah dan nuklir. Tapi jelas bahwa ketiganya muncul dalam kajian awal politik nuklir tak bisa dikesampingkan. Apalagi pada 1957, organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, tengah gencar kampanye ancaman kerusakan lingkungan. Informasi ini konon disampaikan oleh almarhum George Aditjondro.

Ini buku sejarah yang ringkas dan menarik. Kisah tentang politik teknologi, penegasan jati diri dan awal peralihan politik. Buku yang sungguh informatif.