Rasanya eman-eman sekali kalau tenaga, waktu dan pikiran kita digunakan untuk meributkan hal-hal yang tidak esensial. Seperti meributkan arsitektur masjid bikinan Ridwan Kamil misalnya. Beberapa hari lalu, obrolan di media sosial selain didominasi perbincangan seputar meninggalnya Bu Ani, juga diramaikan dengan ribut-ribut soal masjid segitiga-nya Ridwan Kamil.

Mengagumkan betul energi kebencian yang ditunjukkan sebagain orang Indonesia dalam merespons arsitektur masjid Al-Safar karya arsitektur Ridwan Kamil. Seolah mereka tak punya hal lain lagi yang lebih penting untuk dibahas. Segala teori dijajar, ilmu othak athik gathuk diumbar. Memaksakan pendapat sendiri sebagai yang paling benar.

Saya kira, jika sebagian orang itu bekenan menilik sejarah, perdebatan dan tuduhan itu tak akan berlanjut. Ada banyak desain aritektur masjid di dunia, beberapa bertemu dengan kearifan lokal, tapi selama ini tak pernah dipermasalahkan. Selama esensi masjid itu terpenuhi, arsitektur dengan gaya bermacam-macam tentu bukan persoalan.

Perdebatan terus terjadi, bahkan melebar ke soal politik. Bahwa Ridwan Kamil hari ini diserang karena dianggap beda pilihan politik, beda saat Ridwan Kamil jadi walikota dulu. Perbincangan akhirnya makin tidak produktif dan tak menarik. Lebih banyak kadar kebenciannya dibanding semangat untuk mendudukkan persoalan.

Seakan belum habis, energi kebencian itu muncul lagi dalam kasus Kaesang. Jadi, anak presiden itu datang melayat dan menyampaikan belasungkawa kepergian Bu Ani di KBRI Singapura. Ia tertangkap kamera melayat dengan celana jins dan kaos hitam lengan panjang. Pilihan busana Kaesang itu seketika jadi “gunjingan netizen”, beberapa bahkan mencacinya. Busana itu dianggap tidak sopan untuk melayat.

Tak sedikit yang membela Kaesang. Bagi mereka, itu pakaian yang cukup pantas. Mereka yang membela Kaesang lalu membandingkan dengan pakaian Sandiaga Uno saat melayat. Saat itu Sandi hanya mengenakan pakaian olahraga dan bercelana pendek. Jadilah netizen tenggelam dalam perdebatan pakaian siapa yang lebih pantas. (Bicara soal Sandi, saya jadi ingat belum lama ia mengeluarkan istilah iktikaf run yang juga menuai beragam komentar)

Ramadan kali ini tampaknya menjadi ramadan yang cukup berbeda. Ramadan yang terlalu gaduh, jauh dari hening. Apakah ini dipicu persoalan politik? Apakah ini karena media sosial yang punya daya amplifikasi? Apakah perdebatan tak habis-habis berkaitan dengan literasi (digital)? Mungkin saja iya, tapi tulisan ini belum memadai untuk menguraikan argumennya.

Apapun itu, yang perlu kita perangi saat ini adalah kuatnya energi kebencian yang amat destruktif. Kiranya, kita perlu satu momentum untuk memulainya. Ramadan mestinya bisa menjadi “madrasah” yang mendidik dan mencerdaskan kita, menjadi pembersih “racun-racun” yang mengendap di dalam dada dan kepala. Lalu Idul Fitri menjadi puncaknya: lahir kembali dalam kesucian dan kejernihan jiwa.

Akhir kata, selamat berlebaran. Semoga lebaran menyerap semua energi kebencian itu. Mari bermaaf-maafan, mari bersalam-salaman. Semoga Indonesia selalu diliputi kedamaian.

 

 700 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini