Muhammad Alfatih Suryadilaga*

Hari ini umat Islam sudah memasuki Bulan Suci Ramadan. Seluruh ummat Islam baik anak-anak maupun dewasa dan bahkan tua yang merasa kuat dalam mengerjakan puasa selalu gembira dalam melakukan perintah Allah swt. Melalui puasa inilah umat Islam menjalankam ibadah dengan baik menuju peningkatan taqwa.

Untuk mendapatkan kesuksesan puasa, diperlukan pemahaman tentang puasa itu sendiri. Salah satunya adalah dengan melakukan sahur. Kegiatan ini dilakukan di sepertiga akhir malam dengan memakan makanan untuk mendapatkan keberkahan dalam puasa. Hal tersebut merupakan tradisi yang disunnahkan Rasulullah saw. Dengan kegiatan puasa yang diawali makan sebagai bentuk keberkahan ini menjadikan kegiatan sahur tidak pernah ditinggalkan.

Sunnah sahur ini merupakan bagian penting untuk keberhakan. Sahur tetap harus dilakukan walaupun keadaan seseorang yang kuat secara fisik dalam menjalankan puasa tidak memerlukan sahur. Seidaknya, sahur ini dilakukan tidak dengan memakan makanan lengkap atau hanya sekedar memakan buah-buahan dan bahkan hanya minuman air putih atau teh/kopi pahit. Dengan demikian, kegiatan sahur ini menjadi penting dalam puasa Ramadan.

Fenomena sahur yang dilakukan umat Islam yang menjalankan ibadah puasa menjadi menarik untuk diperbincangkan. Hal ini terkait erat dengan kebiasaan dalam membangunkan ketika akan memulai sahur maupun mengakhirinya yang dikenal imsak. Cara yang ditempuh di masyarakat Indonesia dapat berbeda-beda sesuai kearifan lokal.

Secara sederhana cara kepedulian masyarakat dalam menjalankan puasa ketika waktu sahur ditandai oleh para pemuda kaum laki-laki membangunkan untuk sahur. Model ini bisa dilakukan secara sederhana dengan mengumumkan di speaker masjid atau musholla kampung bahwa jam 03.00 waktunya makan sahur. Atau jika sudah menjelang imsak selesai sahur dengan diperingatkan waktu sahur tinggal 30 menit lagi dan waktu sahur tinggal 10 menit lagi. Dengan demikian, upaya pemberitahuan waktu sahur ini adalah bagian dari upaya membangunkan masyarakat Islam agar dapat melaksanakan puasa dengan baik dan sempurna.

Dalam konteks tradisi lokal di Lamongan, kegiatan untuk mengingatkan sahur dilakukan sekolompok pemuda. Mereka biasanya berkeliling kampung dengan membawa alat musik yang biasa dipakai dalam drumb band. Musikalisasi ini dibarengi dengan ucapan sahur… sahur…. sahur….. dengan sedikit nada dan begitu seterusnya. Tentu saja dengan suara merdu dan keras intensitasnya maka menjadikan semua masyarakat yang berpuasa menjalankan sahur sebagai bagian bentuk sunnah.

Hal di atas adalah penting bagi masyatakat luas. Hal ini dikarenakan tidak semua orang terbiasa bangun pagi sebelum shubuh. Sehingga terkadang untuk sahur saja sebagian umat Islam kurang memperhatikannya. Misalnya  untuk anak-anak kecil yang butuh waktu sampai bangun dan mau makan dengan sempurna. Dengan demikian, diperlukan upaya secara kebersamaan di masyarakat untuk saling mengingatkan agar dapat bersahur sehingga puasanya dapat berjalan dengan baik.

Hal tersebut akan berbeda di kota atau dilingkungan mahasiswa. Hal ini terlihat dalam beberapa mahasiswa di perkotaan yang tidak menjalankan sahur karena bangun sudah adzan shubuh. Apalagi dalam tradisi untuk membangunkan sahur tidak dilakukan maka kebanyakan masyarakat tertentu yang belum terbiasa dengan bangun dini hari menjadi sebuah kesulitan.

Selain kelupaan dalam sahur, sering dijumpai di kalangan masyarakat tertentu yang tidak ada tanda-tanda imsak cenderung makan sahurnya sampai Adzan Shubuh. Pemberitauan imsak ini diperlukan untuk menandakan bahwa puasa akan segera dimulai. Hal ini dikarenakan agar tersisa waktu itu digunakan untuk mempersiapkan shalat shubuh dan membaca al-Qur’an. Dengan demikian, imsak dan shubuh merupakan kesatuan yang penting bagi mereka yang berpuasa sehingga mereka dapat mengerti kapan mulai dan berakhirnya sahur.

Pelaksanaan sahur dapat dilakukan walau tanpa adanya tradisi membangunkan dan peringatan di atas. Hal ini banyak masyarakat yang memiliki smart phones yang dapat digunakan sebagai petanda kegiatan sahur dilaksanakan. Namun, sering kali  alarm ini tidak dapat membangunkan seseorang untuk melakukan sahur. Jadi, cara membangunkan sahur untuk kegiatan puasa menjadi penting bagi masyarakat secara umum.

Problem berakhirnya sahur di bulan puasa ini seiring dengan adzan shubuh diperlukan peringatan ketika imsak tiba. Traidisi tersebut tidak ada dalam masa Rasulullah saw. Namun, Nabi Muhammad saw. menjelaskan jarak antara imsak dan adzan shubuh adalah sekitar pembacaan ayat al-Qur’an sebanyak 50 ayat. Atau dapat dikira-kirakan antara 15 menit. Dengan mempelajari kebiasaan pada zaman Nabi saw. dengan traidisi yang baik dalam sahur ini menjadikan puasa ini dapat berjalan dengan baik.

Jarak imsak dengan shalat shubuh sebagaimana digambarkan dalam hadis di atas di masyarakat Indonesia dapat beragam bentuk pemberitahuannya. Rata-rata di Jawa Timur masjid dan musholla dengan memutar kaset sholawat tarhim. Sholawat ini sebagai petanda saat imsak sudah mulai dan akan memasuki adzan shubuh dengan memulai puasa. Dengan demikian, melalui tradisi peringatan imsak ini dengan memakai sholawat tarhim menjadikan keindahan dan kearifan lokal dalam kegiatan puasa.

 

*Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia dan Ketua Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 2,624 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini