Nur Rohman*

Disebuah perjalanan kereta dari Solo menuju Surabaya, Rijal duduk bersampingan dengan seorang pria yang usianya kira-kira 50an tahun, Harto namanya. Mereka yang tinggal di kota yang sama pun saling bertegur sapa dengan saling berkenalan dan menanyakan tujuan dan keperluannya. Rijal yang kini diterima menjadi cpns salah satu instansi BUMN mengaku hendak melengkapi pemberkasan dan mengikuti pembekalan. Sedangkan pak Harto berkata hendak menengok cucunya yang tinggal di sekitar Bandara Juanda.

Merasa lebih muda, Rijal pun bertanya tentang profesi dan pengalaman hidup pak Harto. Barangkali ada hal menarik yang dapat diambil dari bapak yang terlukis kisah perjuangan di wajahnya. Benar saja, pak Harto pun bercerita mulai dari perjuangan masa mudanya, menjadi seorang kuli bangunan untuk membiayai sekolahnya dan hidup kakak dan adik-adiknya karena ayahnya meninggal sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Karena harus mencari nafkah dan biaya sendiri itulah pak Harto sering istirahat dan pindah-pindah sekolah. Namun berkat kegigihannya, ia berhasil menuntaskan pendidikannya hingga SMA. Sementara kakak dan adiknya tak ada yang sekolah, karena mereka pasrah tak ada biaya.

Pak Harto muda, menjadi anak ke-4 dari lima bersaudara. Kakaknya yang pertama, kedua dan ketiga semuanya perempuan dan telah menikah ketika itu. Semasa SD, Pak Harto diasuh dan dibiayai oleh kakak pertamanya, namun tak sampai selesai sekolah dasar tuntas, kakaknya meninggal dunia karena kanker payudara stadium 4. ‘untuk makan saja susah, apalagi untuk biaya operasi’, kilahnya. Sementara kakak kedua bersama suaminya merantau ke Sumatera begitu pula kakaknya yang ketiga. Semenjak itulah pak Harto berjuang menghidupi ibu dan adiknya.

Belum usai sekolah SMA, pak Harto berhasil mengumpulkan sejumlah uang dan perhiasan dari hasil kerja kerasnya menjadi kuli bangunan dan mencari ikan (jawa: nyetrum). Akan tetapi, kabar kurang mengenakkan datang dari adiknya yang meminta ijin menikahi seorang gadis. Karena rasa sayang sang kakak kepada adik semata wayangnya, maka semua perhiasan dan uang tabungannya pun diberikan. Bahkan pasir dan batu bata yang ia kumpulkan dari hasil menambang di sungaipun ikut diangkut untuk membangun rumah bersama istrinya. Karena memang sang adik dijanjikan diberi sepetak kebun (pekarangan) oleh calon mertuanya jika mau menikah dengan anaknya. Dengan ketulusan dan kasih sayang, semua diserahkan kepada adiknya. ‘Sangkan paran’ kenang pak Harto.

Ada kisah menarik lain yang menginspirasi Rijal dari perbincangan itu. Suatu ketika, pak Harto mendapat tawaran menjadi pegawai negeri di suatu daerah di Sumatera. Tawaran itu datang dari guru ngajinya yang juga seorang pegawai KUA. Hanya tinggal mengumpulkan syarat-syarat saja dan berangkat, katanya. H-2 tawaran itu ditutup, pak Harto datang kepada Ibunya dengan maksud hendak meminta ijin dan memohon doa restu. Namun alih-alih mendapatkan restu, ibu pak Harto malah menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “saat ini aku sudah tak ada lagi yang menemani selain kamu. Jika kamu ingin berangkat untuk sepiring nasi dan meninggalkan ibumu, pergilah.

Namun jika kau ingin tetap menemaniku, ketahuilah kelak hidupmu akan jauh lebih bahagia dari pada sekarang, mbuh dengan cara apa dan bagaimana, sangkan paran”. Ucap ibunya disertai mengusap air mata.

Dengan perasaan bimbang, pak Harto menghadap kepada guru ngajinya dan mengatakan sama persis yang diucapkan ibunya kepadanya. Dengan sedikit kecewa, sang guru menuruti kata-kata pak Harto.

Setelah kejadian itu, pak Harto melanjutkan hidup dengan menjadi buruh pabrik tekstil dekat rumahnya. Namun ia bertekad suatu saat nanti ia harus mampu merubah nasibnya. Ia ingin sekali menjadi pengusaha. 2 tahun berlalu ia bekerja menjadi buruh. Perasaan bimbang mulai menghantuinya. ‘apakah aku harus terus begini’ gumamnya dalam hati.

Kemudian pak Harto memutuskan untuk keluar dari pabrik, dan mencari pekerjaan lain. Hampir seminggu pak Harto tidak bekerja, pada akhirnya ia kembali lagi menjadi kuli bangunan. Namun ia juga rajin menjalin silaturahmi dengan beberapa orang, dan mulai memikirkan usaha yang cocok.

Singkat cerita, pak Harto pun menemukan sebuah usaha yang telah digelutinya selama 15 tahun hingga kini dan telah mengantarkannya menjadi seorang pengusaha sukses di kotanya. Ia mengatakan semuanya berkat do’a dari ibundanya, yang memintanya menemaninya hingga akhir hayatnya. Pak Harto juga sempat mengutipkan sebuah hadis kepada Rijal, tentang pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah:

“Ya Rasulullah, siapakah orang di dunia ini yang harus aku berbakti kepadanya? Rasulullah menjawab: Ibumu, Ibumu, Ibumu, baru ayahmu” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Rijalpun manggut-manggut sambil dalam hati berkata, “saya menjadi cpns ini juga karena dorongan dan do’a dari ibuku, semoga berkah”.

1,343 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini