Ramadan 1441 H. Era Covid-19 memaksa model kegiatan dalam mengisi waktu luang di dalamnya berubah. Pelaksanaan kegiatan sekarang dilakukan secara online dan dapat diikuti oleh masyarakat luas siapapun dia asal memiliki kuota dan mendapatkan akses darinya. Beragam model kegiatan dapat dilihat di medsos seperti Instagram, youtube, facebook, atau dengan aplikasi tertentu seperti zoom dan aplikasi lainnya. Atau ada juga lewat whatsapp jika ingin lebih hemat.

Bentuk kegiatan dalam hal ini berupa mengaji kitab-kitab khas pesantren lebih banyak yakni melalui model sorogan. Di antara kitab tersebut adalah Riyadus Shalihin, Bulugh al-Maram, Shahih Bukhari, Arba’in Nawawi, Safinatun Najah dan lain sebagainya. Selain itu ada juga semaan al-Quran baik berwujud tadarrus bil gaib maupun belajar qira’ah Alquran dengan suara merdu (nagham). Bentuk kajian lain atas al-Quran adalah tafsirnya seperti Tafsir Jalalayn dan kajian ilmiah yang mendiskuskan tema-tema aktual dan menarik di masyarakat.

Lembaga yang selama ini melakukan kajian rutin tidak hanya di lingkungan pesantren saja. Mereka yang aktif antara lain PP. al-Karimi Tebuwung Gresik, PP. Qomaruddin Sampurnan Gresik, PP. Lirboyo, PP Muallimat Cukir, PP Tebireng Jombang, PP Tarbiyatut Tholabah Kranji, PP al-Nur Ngrukem Bantul di antara contoh pesantren yang lakukan pengajian kitab online. Kajian juga dilakukan oleh prodi di kampus seperti HMJ Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atau lainnya atau di lingkunga fakultas di IIQ an-Nur Bantul khususnya lewat Fak. Ushuluddin. Para alumni perguruan tinggi seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam @deresbareng. Mereka kini sudah menjadi dosen muda di PTKIN seluruh Indonesia dan di antaranya sedang belajar di luar negeri.

Kajian online juga dilaksanakan oleh Diktis Kemenag RI. Kajian ini mengupas isu-isu menarik dan merupakan hasil penelitian tebaik di seluruh Indonesia di kalangan PTKIN. Mereka ini melakukan kajian lewat aplikasi Zoom dan dapat dilihat materinya lewat link yang dibagi setelah acara. Selain itu, naskah hasilnya juga dimuat di websites arrahim.id sebuah media online milik akademisi muda dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Kreativitas ini tidak terlepas dari tangan kreatif kawan-kawan yang berkantor di lantai 8 Kemenag RI.

Kajian lain diprakarsai oleh lembaga dakwah NU. Mereka yang aktif antara lain dosen-dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan tokoh lain di Yogyakarta. Hal yang sama juga dapat dilihat oleh lembaga yang sama di daerah lain yang bisa dinikmati langsung lewat facebook atau live inatagram.

Bentuk lain adalah kajian online secara personal oleh individu-individu yang memiliki konsep pengetahuan tertentu dan ahli di bidangnya. Contohnya adalah konsep maqasid al-syari’ah, tasawuf, fiqih agraria, filsafat dan sebagainya. Mereka ini secara individu menjadi penceramah di masjid tertentu atau membuka kajian tersendiri. Model lain dari ini dapat berwujud tulisan opini atas Ramadhan 1441 yang tersebar di media cetak maupun online. Model tulisan ini banyak sekali bahkan di antaranya ada yang dilombakan. Terkadang juga terdapat bentuk lain dengan membuat buku bersama-sama dan diterbitkan melalui group whatsapp.

Respons atas beragam model semarak di masa Romadan di era korona ini sangat beragam. Model siaran langsung dapat dilihat jumlah yang menonton. Fenomena jumlah yang menonton ini terlihat berbeda-beda jumlahnya. Segmentasi penonton dalam hal ini khusus di pesantren tertentu kurang banyak hanya dalam hitungan jari di telapak tangan. Namun, diskusi serupa dengan narasumber tertentu bisa mencapai 500 orang. Jumlah tersebut dapat dilihat dalam pengajian di PP Lirboyo atau pengajian yang digelar oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dan tokoh serta pesantren lainnya.

Respons warganet yang beragam menunjukkan bahwa kegiatan online ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jarang individu yang menghabiskan kuota sedikit di saat kebutuhan akan pembelajaran online berjalan. Mereka juga menimbang agar dapat berselancar di medsos dengan kuota yang yang biasa dibeli setiap bulannya. Hal tersebut memaksa masa Ramadan ini menggunakan kuota data yang lebih untuk mengikuti beragam kegiatan di dalam bulan ini.

Kenyataan era Covid-19 melahirkan kreativitas dalam mengungkap ajaran Islam dalam berbagai aspeknya. Setidaknya kajian utama tetap berasal dari sumber utama ajaran Islam yakni al-Quran dan Hadis. Selain itu, kajian lain adalah merupakan pengembangan atas keilmuan yang ada sampai sekarang seperti agraria, coaching bisnis atau jenis lainnya.

 394 total views,  2 views today