Ada satu kisah populer yang barangkali pernah kita dengar saat kita kecil dulu. Kisah tentang penggembala dan serigala. Suatu hari, seorang penggembala sedang menggembalakan kambingnya di padang rumput. Tiba-tiba ia berteriak minta tolong, “Ada serigala! Kambingku diserang serigala! Tolong!”

Mendengar teriakan itu warga desa berbondong-bondong datang ke padang rumput. Tapi tak ada serigala. Penggembala itu telah berbohong. Warga desa marah dan kecewa. Keesokan harinya, teriakan itu terdengar lagi. “Serigala! Serigala!” Warga desa kembali hendak menolong penggembala.

Namun, seperti bisa diduga, tak ada serigala. Penggembala itu kembali berdusta. Hari ketiga, teriakan minta tolong itu terdengar lagi. Kali ini teriakan terdengar lebih lantang dan menyayat. Hanya saja, tak ada seorang pun warga desa yang datang menolong. Mereka sudah muak dibohongi. Padahal hari itu sekawanan serigala benar-benar datang menyerang kambing-kambing di padang rumput.

Cerita penggembala dan serigala ini menarik, apalagi jika dikaitkan dengan kondisi kita hari ini. Berita bohong alias hoaks enteng saja disebarkan, bahkan ada industrinya. Mulai dari hoaks soal politik, agama sampai kesehatan, semua ada. Para penyebar hoaks itu seharusnya bernasib seperti penggembala yang berdusta itu: ditinggalkan, tidak ditolong warga dan kambing-kambingnya benar-benar dimangsa serigala.

Ironisnya, hoaks juga disebarkan seorang yang terpelajar. Seorang teman pernah bercerita, ia tergabung di grup Whatsapp yang salah satu anggotanya adalah lulusan S3. Namun seseorang yang sudah S3 itu justru sangat ringan menyebar kabar bohong dan narasi kebencian.

Saya kira, hoaks memang tak pandang bulu. Artinya, bisa saja hoaks disebar orang berpendidikan tinggi karena yang disasar hoaks adalah emosi. Apalagi kita hidup di era post truth yang mengkhawatirkan. Jika tak hati-hati, lulusan S3 tukang sebar hoaks akan menjadi penggembala yang kambing-kambingnya dimakan serigala. Orang-orang tak percaya lagi omongannya karena kredibilitas dan integritasnya telah hancur.

Sayangnya, tak semua “raja hoaks” berakhir seperti penggembala yang malang itu. Sejumlah kalangan menyatakan kemenangan Trump di Amerika dan Bolsonaro di Brazil adalah karena hoaks yang masif disebarkan. Teknik yang mereka pakai sering disebut Firehouse of Falsehood (FoF) atau semburan dusta.

Perihal semburan dusta, Ahmad M Firdaus menyajikan utas yang menarik di akun twitternya (@amflife). Menurutnya, pada pemilu kali ini, Indonesia termasuk salah satu negara yang sadar dan berhasil menangkal Firehouse of Falsehood/semburan dusta. Sebelumnya, Prancis juga berhasil melawan semburan dusta. Itu karena Prancis punya kultur membaca tradisi jurnalistik yang kuat. Kultur membaca menajamkan logika, membuat orang tak mudah terperdaya.

Semburan dusta menjadikan masyarakat tidak percaya lagi media arus utama dan hanya mengandalkan media sosial. Caranya, dengan terus menerum menyemburkan dusta (kabar bohong). Pola itu terbaca di pilpres Indonesia tahun ini, namun dapat diantisipasi dengan baik. Banyak tokoh yang memberikan penyadaran sehingga masyarakat tercerahkan.

Lantas, apa yang perlu dilakukan? Penguatan literasi menjadi salah satu kunci. Jika budaya membaca kuat, semburan dusta dapat ditangkal, Prancis contohnya. Literasi media dan literasi digital juga harus dikuatkan. Kalau perlu menjadi mata kuliah wajib yang diajarkan di semua kampus.

Ariel Heryanto mengatakan hoaks seperti debu-debu yang berhamburan. Udara yang kita hirup mustahil bebas dari debu. Jika tak ingin menghirup debu itu kita perlu masker. Informasi adalah udara, dan hoaks adalah debunya. Kini udara kita sedang sangat berdebu. Kita musti menyiapkan masker-masker itu.

 

 2,998 total views,  98 views today