Muhammad Alfatih Suryadilaga*

Tulisan ini disampaikan dalam Pertemuan Silaturrahim dan Halal Bihalal Keluarga Bani Sanusi Wonosobo ke-21 di Gondang Watumalang Wonosobo. Pertemuan tersebut dilaksanakan setahun sekali dan dilaksanakan secara bergiliran di antara anak-anak Mbah Kyai Sanusi yang jumlahnya 12 orang dari empat orang isteri. Adapun rincian dari putera-puterinya adalah dari isteri pertama dengan empat orang anak Muhammad Hadi Muhsin, Ghozali Shehab, Syamsuri dan Sri Sabariyah, isteri kedua Ngalimah memiliki enam orang anak antara lain Muhammad Muhtar, Siti Marfu’ah, Zaini Imam Siswoyo, Nur Sa’adah, Siti Fatimah, dan Qomaruddin M. Chotim dan ibu ketiga dan keempat masing-masing memiliki seorang anak Sri Suwarsih dan Muhammad Muslih. Di antara putera-puteri Mbah Sanusi tersebut adalah Bapak Qomaruddin M. Chotim, mertua atau bapaknya isteri yang merupakan anak paling termuda dan terakhir walaupun dari isteri kedua dari Mbah Sanusi. Silsilah keluarga jika ditelusuri ke atas adalah sampai pada Mbah Nur Iman Mlangi Yogykarta. Dengan demikian, hubungan kekerabatan keluarga Mbah Sanusi ini menuju ke kerajaan Jawa.

Sosok Kyai Nur Iman Mlangi atau dikenal dengan Raden Mas Sandeyo dan KPA Angabehi Kartosuro ini melahirkan putera yang dikenal dengan Asmoro Sufi. Putera inilah yang kemudian melahirkan beragam ulama yang menyebarkan Islam di Wonosobo. Mereka itu Antara lain puteranya KH Marhamah, KH Abd Fatah (Sigedang Kepil), dan KH. Mustofa. Dari beliaulah Kiyai Sanusi dan Kiyai Qomaruddin M Chotim dilahirkan. Silsilah ke atas di atas Mbah Nur Iman Mlangi adalah Kandjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Djawi ing Kartosuro (Susuhunan Prabu Amangkurat IV), Pangeran Puger bergelar KS. Paku Buwono I ing Surakarta Hadiningrat, Pangeran Harya Wiramenggala I (Menantu Pangeran Kajoran) sinare ing Dalem Kajoran Klaten, Panembahan Raden Sinare ing Dalem Kajoran Klaten + Raden Ayu Panembahan Raden Kajoran, Pangeran Mas Putra Adipati Pajang ( terkenal dengan sebutan Mbah Sambu Lasem ), Pangeran Benowo / Sultan Prabu Adiwijaya I, Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir + Ratu Mas Cempo binti Sultan Trenggono Demak. Silsilah di atas kemudian dapat ditelusuri sampai ke Rasulullah saw.

Silsilah kekeluargaan di Antara umat manusia terjalin erat dalam bantuk perkumpulan yang dikenal Bani atau Trah (Jawa). Jumlah kekerabatan khusus di Bani Sanusi ini ke atas adalah baru sampai kedua yang dikenal dengan Mbah dengan jumlah anggota baru 300-400 orang. Hal ini wajar karena perkumpulan ini dalam konteks mbah. Berbeda dengan Bani Abdul Djabbar (merupakan keturunan ke-5 atau wareng) yang jumlahnya sudah di atas 6000 orang. Jumlah tersebut karena sudah melewati lima generasi Yakni Kyai Abdul Djabbar, Nyai muhsinah, Kiyai Mahbub, Nyai Aminah, Kiyai Miftahul Fattah dan baru ke penulis. Atau dalam konteks Bani Musthofa Kranji Lamongan yang dalam level ketiga buyut. Hal ini karena Kiyai Musthofa mempunyai anak Kyai Amin dan keturunan berikutnya adalah Kiyai Miftahul Fattah Amin dan penulis. Kedua bani terakhir dilaksanakan sekali dalam tiga tahun. Dengan demikian, beragam kegiatan trah dan bani dalam hal ini adalah dalam upaya merajut silaturrahim sesama keluarga besar.

Silaturrahim atau hubungan tali persaudaraan merupakan sesuatu yang senantiasa ditegakkan dalam kehidupan keseharian. Hal tersebut sesuai dengan asal kata tersebut yakni silah dan al-rahim. Kedua istilah tersebut merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Arab yang bermakna menghubungkan tali kekerabatan. Namun, istilah tersebut dalam Bahasa Indonesia cenderung dimaknai secara luas yakni tidak saja menjalin hungan sesama saudara melainkan dengan sesama ummat manusia yang lain. Dengan demikian, istilah silaturrahim merupakan sebuah upaya menjalin kebersamaan dengan sesama ummat manusia baik dengan keluarga maupun secara umum.

Islam sebagai ajaran yang menjadikan manusia bermartabat. Hal ini terlihat dalam pentingnya silaturrahim di antara manusia dalam QS. Al-Nisa (4): 1. Manusia yang jumlahnya milyaran orang di dunia ini adalah merupakan dari seorang Adam dan Hawa. Dari keduanya tersebut, Allah swt. mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan-perempuan yang banyak. Oleh karenanya, Allah swt. menyeru kepada semua makhluk agar bertakwalah kepada-Nya dan memelihara hubungan kekeluargaan. Seruan ini merupakan sesuatu yang harus ditegakkan karena di antara satu dengan yang lainnya sering terjadi pertentangan dan perbedaan. Dengan demikian, melalui seruan ini menjadikan pijakan pentingnya hubungan kekerabatan dan hubungan di antara manusia secara umum.

Bahkan dalam hadis Nabi saw. dijelaskan bahwa silaturrahim merupakan bagian dari keimanan seorang muslim. Hal ini merupakan salah satu tanda keimanan kepada Allah swt. dan hari akhir. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Kitab Sahih Bukhari. Dengan demikian, silaturrahim merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan keberagamaan seseorang. Seorang yang beriman kepada dua hal tersebut terlihat menjaga hubungan yang baik dengan baik di Antara kerabat dan manusia yang lain. Dengan demikian, silaturrahmi juga dianggap sebagai tanda keimanan sesorang.

Manusia sering menganggap silaturrahim adalah dapat ditunjukkan dengan membalas kebaikan kepada seseorang, Hal tersebut adalah sebagai sesuatu yang baik namun belum dianggap sebsagai dalam bentuk silaturrahim yang sesungguhnya. Sebagaimana dalam sebuah hadis yang terdapat di Sahih Bukhari yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Orang yang menyambung bukanlah orang yang membalas kebaikan orang akan tetapi ia adalah orang yang apabila hubungan kekerabatannya diputuskan maka ia menyambungnya.” Untuk melaksanakan hadis tersebut sangatlah sulit bahkan sering terjadi adanya upaya yang hanya bertepuk tangan sebelah. Dengan demikian, tingkatan silaturrahim seperti gambaran tersbeut lebih sulit ketimbang hanya memeberikan dan membalas kebaikan saja.

Dalam penjelasan hadis lain, diperoleh bahwa silaturrahim menjadi bagian dari penegakan agama Islam. Kegiatan silaturrahim ini disetarakan dengan keimanan dan sekaligus keIslaman seseorang. Hal tersebut sebagiaman dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal. “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyambung silaturrahim. Dengan demikian, silaturrahim merupakan bagian dari keimanan seseorang dan sekaligus implementasi rukun Islam yakni shalat dan zakat.

Silaturrahim sebagaimana tergambar di atas juga dapat dijadikan sebagai sarana meningkatkan rizki dan memanjangkan umur. Hal tersebut sebagaimana dalam hadis Nabi saw. yang menjelaskan bahwa barangsiapa berkehendak agar Allah meluaskan rizkinya dan memanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi. Kedua manfaat tersebut adalah dapat diperoleh manusia yang selalu menjalin sislaturrahim di Antara ummat manusia. Dengan demikian, seseorang yang menjaga silaturrahim dapat mendapatkan kemuliaan yakni dipanjangkan usianya dan diluaskan rizkinya.

Demikian juga dalam hal hukuman seseorang yang memutuskan silaturrahim. Nabi Muhammad saw. menjelaskan: “Tidak ada suatu dosa yang lebih layak dipercepat hukumannya didunia oleh Allah kepada pelakunya di samping (adzab) yang disimpan baginya di akhirat daripada zina dan memutus silaturrahim. Hadis tersebut menunjukkan akan kerugian di dunia. Memutuskan silaturrahim secara nyata di dunia sering terjadi kehilangan persaudaraan dan bahkan lebih dari itu terdapat kebencian satu dengan yang lain sehingga bias menyebabkan dimensi kemanusiaan hilang. Dengan demikian, melalui memutus silaturrahim ini di dunia dapat langsung mendapat hukuman.

Keburukan memutus silaturrahim juga berimbas ke kehidupan selanjutnya, di akhirat. Hadis tersebut ditemukan di dalam kitab Sunan al-Tirmidzi. Bahkan dalam hadis lain disebutkan mereka yang memutus silaturrahim tidak akan dimasukkan ke dalam surga. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dengan demikian, memutus silaturrahim adalah bagian dari mmerusak kehidupan kebersamaan di antara manusia sehingga mereka yang merontokkan hubungan kemanusiaan dengan memutusnya maka Allah swt.

Beratnya menjaga tali persaudaraan juga dapat dilihat dalam sejarah kehidupan di masa Rasulullah saw. Hal tersebut dikisahkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwasanya seorang laki-laki pernah berkata; “Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat. Saya selalu berupaya untuk menyambung silaturahim kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Sahabt tersebut ingin berbuat baik, namun, mereka selalu menyakiti saya. Saya selalu berupaya untuk lemah lembut terhadap mereka, tetapi mereka tak acuh kepada saya.” Atas peristiwa tersebut, Rasulullah saw. bersabda: ‘Jika benar seperti apa yang kamu katakan, maka kamu seperti memberi makan mereka debu yang panas, dan selama kamu berbuat demikian maka pertolongan Allah akan selalu bersamamu. Dengan demikian, untuk menjadi pemersatu lebih baik harus sebagai inisiasi pertama dalam silaturrahim walaupun tidak ditanggapi dengan baik.

Silaturrahmi menjadi penting dalam merajut kemanusiaan seiring dengan beragamnya potensi perpecahan. Hal ini setidaknya terkait erat dengan pileg dan pilpress atau beragam pilihan pejabat atau pimpinan lainnya. Pilihan yang berbeda menjadikan kedekatan itu semakin menjauh bahkan cenderung berpotensi disintegrasi. Dengan momentum ini, silaturrahim dan syawalan serta halal bihalal menjadikan hubungan yang kurang baik tersebut terjalin utuh dan erat kembali. (MAS)

 2,470 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini