75 tahun sudah Indonesia merdeka. Generasi muda semakin lama semakin tidak kenal tokoh penting dalam awal pemerintahan. Salah satu tokoh yang berperan aktif tersebut adalah Sirajuddin Abbas (SA). Beliau ulama dengan segudang karya tulis dan aktivis di pemerintahan. Selain itu, ia menjadi bagian penting dalam organisasi PERTI.

Sosok Sirojuddin Abbas (SA) adalah tokoh penting dalam kancah kehidupan bangsa dan negara di Indonesia . Setidaknya, sebagai seorang ulama yang mendapatkan pendidikan di Makkah dan diasuh oleh ulama besar memiliki pemahaman khas atas ajaran Islam. Selain itu, melalui organisasi yang dikenal PERTI menjadikan SA sebagai pengusung pemikiran kaum tradisionalis yang bermadzhab Imam Syafi’i.

Dalam kancah nasional, sosok SA juga menjadi seorang menteri dalam kabinet Ali Sastroaminoyo tahun 1950-1953. Posisi dalam kabinet tersebut adalah menteri kesejahteraan umum.

Siapakah Tokoh SA tersebut dan mengapa iaa menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan benegara. Bagaimana gagasan dan aplikasi paham kebangsaan dalam kehidupan kebangsaan nasional dan internasional. Kedua hal menjadi bagian kajian dalam tulisan ini.

Lahir dan Belajar

Sosok SA menjadi seorang alim didik oleh beragam ulama besar selama hidupnya. Sejak kecil 1910 artinya baru berusia lima sampai delapan tahun, ia belajar al-Qur’an yang diasuh ibunya sendiri. Ayahnya juga mendidik dengan memperkuat kepiawaiannya dalam berbahasa Arab dan kitab kuning yaitu KH. Abbas. Selain itu, SA dididik pula ulama Minangkabau yang sezaman dengan ayahnya yakni Syaikh Husein dan Tuanku Imran Payakumbuh. Tahun 1920 memulai juga pendidikan di Syaikh Abdul Malik Bukittinggi sampai 1923 M.

SA Merantau ke Makkah selama enam tahun yakni tahun 1927-1933. Pengalaman selama enam tahun dilalui dengan tujuh kali berhaji dan menjadi staf konsulat Belanda di Makkah. Selama di Makkah, SA belajar kepada beragam ulama baik Madzhab Syafi’i maupun Hanbali dan Maliki. Belajar bahasa Inggris pun dilakukan SA dengan Ali Basya seorang dari Tapanuli.

Sesampai kembalinya ke tanah air, SA masih mencari ilmu di Bukittinggi. Beliau belajar dan mendapatkan ilmu yang banyak dari Syekh Sulaiman al-Rasuli. Sosok SA menjadi pemuda yang berilmu dan diperhitungkan oleh ulama pada masanya. Akhirnya, SA dipercaya sebagai ketua PERTI. Akhirnya organisasi tersebut berafiliasi dengan PPP di tahun 1973.

Tradisi SA duduk dalam pemerintahan merupakan sesuatu yang biasa baginya. SA pernah menduduki staf diplomat Belanda di dalam perjalaann belajar di luar negeri. Kepiawaian SA juga dilengkapi dengan aktif dalam dunia tulis menulis buku. SA banyak melahirkan buku dalam bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Selama di Makkah, ia melahirkan enam buku berbahasa Arab. Keenam buku tersebut tidak hanya tentang fiqih saja melainkan ilmu lain seperti tafsir dan balaghah.

Buku SA dalam bahasa Indonesia dapat beragam keilmuan. Setidaknya selain fiqih juga menulis sejarah dalam buku yang tebal halamannya. Jumlahnya dalam hal ini 10 judul buku.

Paham Kebangsaan

Sebagaimana perjalan hidup dalam menempuh pendidikan baik di Minangkabau maupun Makkah, SA merupakan seorang bermadzhab Syafi’i. Hal tersebut juga didukung melalui beragam tulisannya baik yang berbahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Hal tersebut senada dengan Alaidin Koto yang menyebut dalam dua karyanya bahwa SA adalah sosok ulama yang tidak saja menerapkan ajaran mazhab Imam Syafi’i dalam ibadah mu’amalah melainkan dalam tatanan politik yakni al-siyasah dan kenegaraan.

Sosok SA dalam ketatanegaraan cenderung ikut kesepakatan yang ada. SA bahkan menjadi salah satu menteri di pemerintahannya. Paham kebangsaan SA adalah Indonesia harus merdeka tanpa menunggu Belanda kembali ke Den Haaq. Selain itu bentuk negara adalah jumhuriyah dengan kepala negara seorang muslim. Baginya, Islam Sunni mengajarkan perlindungan atas ummat lain seperti dalam Piagam Madinah.

Kehebatan SA tidak saja dalam konteks nasional melainkan juga di tingkat internasional. SA juga mengangkat isu Palestina tahun 1951. Komitmen tersebut disampaikan untuk membela pembebasan rakyat Palestina bahkan ikut serta dalam konggres di Yerussalem pada 1953. Sikap tersebut PERTI mendapatkan simpati yang banyak di masyarakat Jawa.

Gagasan SA dalam politik internasional adalah OSRA. Sebuah organisasi kesetiakawanan Asia Afrika yang diadakan di Bandung tahun 1965. Bahkan, SA menjadi salah satu pimpinan konferensi. Ide tersebut disetujui oleh Soekarno yang ingin menghapus imprealisme dan kolonialisme.

Dalam konteks lain, SA menolak PRRI. Sebuah organisasi yang didirikan di Padang dalam rangka berseberangan dengan pemerintah. Diplomasi internasional SA juga berhasil bertemu Gamal Abdul Baser Presiden Mesir dalam rangka mengusir kapal induk Karel Doorman ke Indonesia. Mengapa ke Mesir? karena untuk menuju Indonesia yang paling cepat adalah lewat Terusan Suez.

Kepiawaian diplomasi dilanjutkan dengan membuat organisasi baru. SA bersama Wahid Hasyim dari NU dan Abi Kusno dari PSII membuat Liga Muslim Indonesia. Ketika itu SA sebagai ketua PERTI yang akhirnya organisasi ini bubar.

Beragam kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh SA menunjuklan bahwa sosok SA memiliki dedikasi yang tinggi. Setidaknya kepada umat Islam dalam rangka penyebaran Madzhab Syafi’i. Sebagaimana hal tersebut dipelajari sejak kecil melalui ayahnya dan pendiri PERTI lainnya. Keilmuan tersebut diperkuat dengan belajar di Makkah dengan sambil nenulis dan berkarier sebagai staf.

Sekembalinya ke tanah air, SA menjadi piawai dalam beragam kegiatan. Dakwah dan politik menjadi pilihan SA. Lewat PERTI dan pemerintahan Soekarno capaian ide dan gebrakan SA dapat dinikmati seluruh anak bangsa Indonesia. Pemikiran dan gagasan SA menjadi kajian menarik dan menginspirasi kalangan belakangan dalam penelitian baik di tingkat skripsi, tesis maupun disertasi.

 134 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini