Miftah jailaniy*

“Paduka,” kata Daud, “karena Kau tak butuh kami, kenapa Kau cipta dua dunia ini?” Sang Hakikat menjawab: “Wahai tawanan waktu… Dulu Aku perbendaharaan rahasia Kebaikan dan Kedermawanan, Kurindu perbendaharaan ini dikenali, Maka kucipta cermin: … Mukanya yang cemerlang, hati; Punggungnya yang gelap, dunia. Punggungnya.

Punggungnya kan memesonamu jika tak pernah kau lihat mukanya. Pernahkah ada yang membuat cermin dari lumpur dan jerami? Maka, sapulah lumpur dari jerami itu, sebilah cermin pun kan tersingkap. Ingatlah Tuhan sebanyak-banyaknya hingga kau terlupakan. Biarkan penyeru dan Yang Diseru musnah dalam Seruan…” -Rumi

Inilah sebuah puisi yang bisa dikatakan menjadi sari pati dari inti pemikiran Rumi. Rumi adalah seorang penyair yang luar biasa kaya membahas banyak hal; membahas alam, membahas manusia, membahas dunia fisik, membahas dunia ruhani, dan terutama membahas Tuhan dan hubungan antara manusia dan Tuhan. Puisi ini menggambarkan salah satu inti pandangan Rumi tentang hubungan Tuhan dan manusia, hubungan Tuhan dan alam semesta.

Rumi memang bukanlah seorang penulis ‘irfan seperti Ibn ‘Arabi-yang menulis puluhan jilid buku. Karya utama Rumi adalah Matsnawi. Namun, justru karena efisiensi dari medium puisi ini, Rumi bisa mengungkapkan apa yang diungkapkan dalam berjilid-jilid buku oleh seorang Arif seperti Ibn ‘Arabi, ke dalam puisi-puisi yang relatif jauh lebih pendek.

Nah, sebagaiman Ibn ‘Arabi, Rumi adalah seorang penganut Wahdah al-Wujud. Sebetulnya, Wahdah al-Wujud adalah sebuah istilah yang tidak dipakai oleh Ibn’Arabi sendiri, lebih-lebih lagi oleh Rumi. Istilah yang barangkali lebih sesuai dengan pandangan Dunia Islam adalah Tauhid Wujudi, Tauhid Eksistensial. Namun, meskipun tidak dipakai oleh Rumi, orang tidak akan gagal dari melihat bahwa Rumi adalah seorang penganut Wahdah al-Wujud atau Tauhid Wujudi. Dan, puisi ini menggambarkan prinsip tersebut.

Rumi dikenal gemar memulai apa yang hendak disampaikannya dengan sebuah kisah. Namun, dalam cuplikan puisi pendek diatas, Rumi membukanya dengan dialog antara nabi Daud dan Allah, yang lewat dialog ini Rumi akan mengungkap suatu Hadis Qudsi.

“Paduka,” kata Daud, “karena Kau tak butuh kami, untuk apa Kau-cipta dua dunia ini?” Dua dunia, maksudnya adalah dunia fisik dan dunia ruhani.

Kemudian Sang Hakikat-maksudnya Allah-menjawab: “Wahai tawanan waktu”. Ucapan ini adalah cara Allah yang dipahami atau ditangkap oleh Rumi untuk menunjukkan betapa manusia ini-meskipun sesungguhnya berasal dari Allah, meskipun hakikatnya bersifat ruhani-cenderung terikat pada yang bersifat duniawi. Sebab, waktu itu adalah sifat dari kehidupan duniawi; lebih tepatnya, waktu linier atau yang disebut zaman. Manusia itu terikat oleh zaman. Gerakan hanya mungkin terjadi dalam waktu; waktu kemarin, waktu sekarang, waktu esok dan seterusnya.

Maka, inilah yang digaris bawahi oleh Rumi dalam kata-kata Allah diatas: “Wahai tawanan waktu”. Yakni, wahai makhluk yang terikat oleh kehidupan dunia fisik.

“Dulu Aku perbendaharaan rahasia Kenaikan dan Kedermawanan, Kurindu perbendaharaan ini dikenali, maka Kucipta cermin.” Kalimat ini adalah pengungkapan kembali dari sebuah Hadis Qudsi yang berbunyi: “Dulu Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku rindu untuk dikenali. Maka Kucipta ciptaan agar Aku dikenali.”

Kalimat “Dulu Aku adalah perbendaharaan tersembunyi”, diungkapkan-kembali oleh Rumi dengan “perbendaharaan-rahasia”.

Didalam Hadis Qudsi yang lain, Allah berfirman: “Aku ingin dikenali sebagai Yang Pengasih, Penyayang, Maha Pengampun, Maha Penutup Aib”-dalam puisi Rumi di atas, ini diungkapkan dengan: “Aku ingin dikenali sebagai yang memiliki Kebaikan dan Kedermawanan. Aku ingin kebaikan dan kedermawanan-Ku ini dikenali maka Kucipta cermin.” Lalu, apa yang dimaksud dengan “cermin”?[]

*Santri pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo Kediri, asal kota Bekasi.

 1,509 total views,  4 views today