Ada serial yang cukup menarik dari tayangan MNC TV setiap hari jam 3.30 sampai jam 4 pagi. Serial tersebut berjudul Omar. Nampaknya, serial ini akan ditayangkan sebulan penuh selama bulan Ramadhan, menemani kaum muslim Indonesia menyantap sahur. Berikut sedikit pelajaran yang saya dapatkan dari tontotan serial ini:

Sosok Umar bin Khattab yang ditampilkan dalam serial itu sesuai dengan kodrat kemanusiaan, yaitu ada sisi baiknya, dan jahatnya. Disini, Umar digambarkan sebagai sosok yang memiliki komitmen, tegas, jujur, setia dan keras, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudahnya. Hal ini berbeda dengan cerita-cerita yang menggambarkan Umar sebagai sosok yang berbeda 180 derajat, antara sebelum dan sesudah masuk Islam. Sebelum masuk Islam, Umar adalah orang yang tidak ada benarnya sama sekali, hingga tega mengubur anaknya hidup-hidup.

Masyarakat Arab khususnya Suku Quraisy sudah mengenal Allah sebelum kenabian Muhammad. Hal ini bisa dilihat dari komunikasi para aktor yang seringkali menggunakan kata “Demi Allah”. Meskipun begitu, mereka juga menuhankan berhala (latta Uzza dan Manat). Selain itu, ritual haji juga sudah menjadi tradisi masyarakat Arab, sebelum kenabian Muhammad. Hal ini untuk merespons beberapa mahasiswa saya yang dulu menolak, kalau kata “Allah” itu sudah dikenal masyarakat Arab, sebelum kenabian Nabi Muhammad. Selain itu, ada fakta bahwa beberapa ritual Islam merupakan kelanjutan dari ritual yang sudah menjadi tradisi Bangsa Arab.

Proses diterimanya Islam ke tanah Arab melalui proses manusiawi, yang bisa dipahami secara akal, bukan hanya karena “mukjizat” semata. Serial itu mengungkap alasan kenapa pembesar Quraisy tidak memaksa Nabi menghentikan dakwahnya melalui jalan kekerasan, padahal mereka bisa melakukannya, mengingat komunitas Muslim masih minoritas. Serial itu menceritakan, bahwa tradisi Arab adalah tradisi yang membela keluarga/ klan, sebagai harga diri keluarga. Klan Nabi adalah klan terhormat dari Bani Hasyim. Paman Nabi Abu Tholib yang belum sempat menyatakan diri masuk Islam pun, akan siap mempertaruhkan nyawanya dalam melindungi Nabi. Karenanya, para pembesar Quraisy yang kepentigannya terganggu dengan dakwah Nabi, lebih memilih menyiksa pengikut Nabi yang lemah seperti para budak, ketimbang konfrontasi langsung dengan Nab. Jika dakwah Nabi dihentikan secara paksa, bisa terjadi pertumpahan darah antar keluarga dalam satu suku.

Film seringkali tidak bebas kepentingan, dijadikan media untuk menyebarkan paham tertentu. Misalnya saja film Rambo, dijadikan propaganda Amerika untuk menutupi fakta kekalahan mereka dari perang Vietnam. Meskipun serial ini juga bisa jadi tidak bebas kepentingan, namun serial ini cukup menggambarkan kepada kita, tentang beberapa “fakta sejarah”. Anehnya, fakta sejarah ini seringkali kita pungkiri, karena alasan dapat mengurangi keagungan agama. Agama itu justru untuk melindungi bahkan mengembangkan peran akal, sebagai potensi kemanusiaan terbesar yang membedakan manusia dengan makhuk lainnya.

Selamat mengungkap makna kehidupan melalui ibadah puasa. Wallahu A’lam bisshowab..

 4,038 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini