Pemuda menjadi simbol yang teramat penting bagi kehidupan suatu negara karena pertumbuhan serta perkembangan suatu negara bisa dilihat dari tingkat kemajuan pemudanya. Pemuda menjadi fokus perhatian yang sentral ketika sebuah negara menginginkan kemajuan. Kemajuan inilah yang nantinya akan berdampak baik pada seluruh warga masyarakat dan menjadi nilai penting bagi generasi penerus bangsa. Dahulu, pada saat pemuda masih fanatik terhadap suku, daerah, bahasa, dan keturunannya, tidak perah terlahir sebuah semangat dalam persatuan dan kesatuan untuk kemerdekaan negeri ini.

Dalam perjalanannya menuju kemerdekaan, Indonesia tidak akan pernah bisa melupakan peran penting pemuda didalamnya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai usaha pemuda dalam megobarkan semangat perlawanan meskipun masih dalam ruang lingkup kesukuan. Pada 7 Maret 1915, lahirlah organisasi Tri Koro Dormo yang menjadi awal kebangkitan serta kesadaran para pemuda Jawa dan Madura akan persatuan dan kesatuan. Meskipun mereka berbeda keyakinan, tetap saja jiwa nasionalisme yang mereka kobarkan karena pandangan mereka fokus kepada keadaan Indonesia pada saat itu. Sehingga di dalam hati tertancap niat untuk mengubah keadaa tersebut mejadi lebih baik. Organisasi Tri Koro Dormo menjadi cikal bakal Jong Java yang menjadi perkumpulan kepemudaan yang besar.

Sejarah mecatat bahwa pemuda Indonesia mengadakan dua kali kongres yang berhasil menyatukan seluruh pemuda Indonesia. Kongres Pemuda II yang dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) pada tanggal 27-28 Oktober 1928 yang diikuti oleh 9 organisasi pemuda kedaerahan. Diantaranya jong Java, jong Ambon, jong Batak, jong Islamieten Bond, jong Sumatranen Bond, dan lain-lain. Hasil dari kongres ini adalah deklarasi yang sangat penting dan dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda tidak hanya berisi tentang nilai-nilai persatuan dan kesatuan saja, tetapi nilai toleransi dalam kehidupan beragama, keberagaman dalam  keberagamaan yang diangkat menjadi isu hangat yang belakangan ini terjadi di masyarakat Indonesia menjadi realita, bukan hanya sebagai teori yang dibutuhkan untuk meredam amarah atau mengklarifikasi suatu kasus rasisme dan diskriminasi. Banyak sekali pemuda yang kembali kepada fanatisme kedaerahan seperti saat penjajahan. Ini menjadi sebuah kemunduran yang sangat signifikan dan bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya perpecahan dikalangan kaum muda Indonesia dan mencederai nilai-nilai sumpah pemuda.

Jika kita lihat dari isi sumpah pemuda, terdapat tiga butir ikrar atau janji yang kesemuanya mempunyai satu tujuan yaitu bersatu. Mari kita sejenak renungkan isi sumpah pemuda berikut

Sumpah Pemuda

Kami Putra dan Putri Indonesia,

Mengaku bertumpah darah satu

Tanah air Indonesia

 

Kami Putra dan Putri Indonesia,

Mengaku berbangsa satu

Bangsa Indonesia

 

Kami Putra dan Putri Indonesia

Menjunjung Bahasa Persatuan

Bahasa Indonesia

 

Tiap butir ikrar dalam sumpah pemuda menunjukan satu tekad, satu tujuan, satu ambisi dan satu harapan. Kesampingkan daerah untuk tanah air Indonesia, kesampingkan asal kelahiran dan suku untuk bangsa Indonesia, kesampingkan bahasa daerah untuk bahasa Indonesia!

Pemuda yang dulu mengikrarkan janji setia kepada bendera Indonesia serta hidup dan mati untuk ibu pertiwi, mereka banyak sekali mengenyampingkan kepentingan pribadi bahkan kepentingan agamanya hanya untuk satu kata, Merdeka!. Persatuan pemuda ini bukanlah hal yang mudah karena mereka bukan terdiri dari orang-orang dengan suku, bahasa, adat istiadat dan agama yang sama melainkan berbeda. Islam, Kristen, Budha, Katolik, bersatu padu demi Indonesia bukan demi agama. Meskipun dalam bernegara tetap harus berlandaskan kepada agama. Namun dalam praktiknya, agama direduksi menjadi nilai moral masyarakat.

Dalam sumpah pemuda, agama tidak ambil bagian dalam pengikraran karena agama tidak bisa disatukan. Mereka mengetahui hal yang paling vital dalam diri seserorang adalah kepercayaan sehingga mereka tidak mempunyai keinginan menjadikan agama yang satu seperti halnya tanah air, bangsa dan bahasa. Hal inilah yang menjadi momok bagi generasi penerus bangsa yang hari ini muncul kembali keegoisan untuk menjadikan agama satu di Indonesia dengan mengubah hukum serta peraturan yang berlaku dalam agama menjadi peraturan negara. Banyak sekali pemuda yang tidak sadar akan kekuatan persatuan sehingga mulai banyak yang terpecah belah dan tercerai berai.

Saat ini, persoalan agama menjadi sangat sensitif. Sedikit saja salah dalam menyinggung agama lain, maka akibatnya akan muncul isu-isu intimidasi, deskriminasi yang menghebohkan seluruh Indonesia. Oleh karena itu, nilai sumpah pemuda harus dihidupkan kembali terlebih adanya paham-paham radikalisme yang sedang menjaring anak-anak muda yang masih polos dan kurang jiwa nasionalisme. Serangan-serangan gaya hidup seperti Westernisasi, Arabisasi dan lain-lain harus difahami dan disikapi dengan bijak. Karena jika hal ini dibiarkan akan menimbulkan suatu permasalahan besar pada kemudian hari.

Sebagai generasi pemuda Indonesia, seyogyanya kita bisa memahami keadaan bangsa ini yang sedang dilanda krisis moral, paham-paham radikal dan fanatisme agama. Dalam momentum sumpah pemuda, revitalisasi nilai-nilai sumpah pemuda perlu dilakukan guna mempertebal sikap toleransi dan persatuan demi kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta keberagaman dalam keberagamaan. Jiwa nasionalisme harus dibangun kembali untuk membentengi aliran-aliran yang ingin mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjadikan satu agama, budaya dan bahasa sebagai identitas negara plural itu kesalahan besar. Tetapi menjadikan keberagaman dan keberagamaan sebagai alat persatuan dalam suatu negara plural adalah pemikiran yang cerdas. Jadikan keberagaman agama, budaya dan bahasa sebagai alat pemersatu bangsa.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-91

 

 

 1,900 total views,  21 views today