Abd. Halim*

Dalam salah satu pertemuan kelas tafsir, tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang bertanya, “Kenapa tafsir tidak tunggal saja? Biar tidak terjadi perselisihan!” Saya cukup tergelitik dengan pertanyaan sederhana ini. Kalau tidak salah, kelas ini sedang membahas tentang klasifikasi tafsir yang terbagi menjadi dua, yakni tafsir bil ma’tsur (yang yang mengandalkan jalur periwayatan dari Nabi, sahabat dan tabiin) dan tafsir bil ra’yi (tafsir yang sangat kental dengan analisis logika).

Saat itu, spontan saya jawab. Ya tidak bisa! Tidak mungkin tafsir itu tunggal. Sebab, metode yang digunakan oleh para ulama berbeda-beda dalam memahami al-Quran. Sebut saja, metode ijmali (global), tahlili (terperinci), muqaran (perbandingan), atau maudhui (tematik). Beda metode saja sudah menghasilkan tafsir yang bebeda.

Belum lagi pendekatan yang dipakai, apakah ia memahami al-Quran dengan pendekatan bahasa, filsafat, sejarah, logika, sufistik atau pendekatan fiqih. Hasil penafsiran dengan beda pendekatan dapat dipastikan hasilnya berbeda.

Lain lagi, jika problem yang dihadapi oleh seorang mufassir. Persoalan yang dihadapi oleh Quraish Shihab yang di Indonesia tentu berbeda dengan yang dihadapi oleh Farid Essack di Afrika atau Abdullah Said di tanah kelahirannya Maldiv, India atau Fazlur Rahman di Indo-Pakistan atau Amina Wadud di Amerika. Masing-masing tokoh ini memiliki konteks sosial yang mengitarinya masing-masing sehingga world view yang dihasilkan dalam memandang al-Quran bisa sangat berbeda, meskipun pasti juga ada kesamaan.

Keilmuan sang mufassir (penafsir) pun bisa sangat beragam. Ada yang baru alim (pandai), ada yang alim allamah (sangat alim), ada yang mutabahhir (mendalam ilmunya) , ada yang biasa-biasa saja kayak kita. Ibarat menangkap ikan, seseorang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tergantung kedalaman ilmu dan jam terbang yang dimiliki.

Lantas, kenapa Tuhan menciptakan perbedaan semacam ini? Apakah Tuhan tidak mampu menciptakan yang seragam? Allah mampu tetapi Allah memang menghendaki perbedaan untuk menguji manusia yang manakah hamba-hamba yang bisa memenej perbedaan dan menghargai yang lain yang berbeda. Lagian, kalau manusia diciptakan seragam, nampaknya kurang asyik dan kurang ada tantangan.

Inilah pentingnya belajar dan mengenal perspektif. Orang yang hanya memiliki satu perspektif terkadang cenderung menganggap salah orang lain yang berbeda perspektif. Ada pepatah siapa yang banyak ilmunya, ia akan sedikit menyalahkan orang, sebaliknya yang sedikit ilmunya ia akan banyak menyalahkan orang lain. Semakin banyak kita megenal perspektif, maka semakin bijak kita memandang perbedaan.

Kembali kepada tafsir al-Quran, al-Quran itu disebut-sebut sebagai jamuan hidangan dari Tuhan (ma’dubatullâh). Ia lengkap dan nikmat. Tergantung dari kita masing-masing bagaimana mencicipi hidangan itu, apakah mau pakai sendok, garpu atau pakai tangan langsung. Di situ ada berbagai macam menu kesukaan semua orang, maka kita dipersilahkan untuk mengambil bagian mana yang disenangi dan disukai.

Dalam bahasa lain, Abdullah Darraz dalam kitab An-Nabaul Adzim, menyatakan bahwa al-Quran itu ibarat intan permata yang memiliki beribu-ribu sudut kebenaran. Maka kita juga seharusnya mempersilahkan orang lain melihat sudut kebenaran yang berbeda dengan kita. Wallahu a’lam.

 

 1,208 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini