Abd. Halim*

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai seseorang—yang secara sengaja atau tidak–mengejek orang lain. Entah ejekan itu dimaksudkan hanya untuk bercanda atau memang dimaksudkan untuk menghina dan meremehkan orang lain. Dalam kehidupan Rasulullah pun ada sebagian orang yang suka mengejek dan merendahkan orang lain.

Kelompok Bani Tamîm misalnya pernah mengejek Bilâl, Suhaib dan Ammar karena mereka orang-orang tidak punya. Kisah lain adalah Tsabit bin Qais. Ia adalah sahabat Rasulullah yang terganggu pendengarannya. Di setiap majlis Rasulullah, dia selalu melangkahi banyak orang untuk dapat duduk di dekat Rasulullah. Suatu ketika, ia ditegur oleh seorang sahabat yang lain, karena jengkel, Tsabit memaki-maki orang yang menegurnya dan mengata-ngatainya dangan kata-kata yang kurang enak didengar yakni dengan menyebut-nyebut ibunya si penegur yang punya aib. Orang yang dikata-katai tersebut merasa dipermalukan oleh Tsabit.

Bahkan, ada riwayat yang menyatakan bahwa ejekan pernah dilontarkan oleh istri-istri Nabi kepada Ummu Salamah yang merupakan madu mereka. Ummu Salamah diejek sebagai wanita pendek. Berkenaan dengan beberapa kasus ejekan ini, Allah Swt menurunkan sebuah ayat agar Nabi Muhammad mengajarkan kepada mereka untuk tidak merendahkan orang lain. Berikut ayatnya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Q.S al-Hujurat :11)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam Islam tidak ada ruang sedikitpun untuk merendahkan orang lain sebab kita tidak pernah mengetahui sisi terdalam dari kehidupan seseorang.

Alangkah indahnya pesan hikmah yang disampaikan oleh Sulthan al-Auliya Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani tentang bagaimana seharusnya bersikap dan menilai orang lain.

Berikut pesan Syeikh AQJ:
Jika kamu berjumpa dengan orang yang memiliki keutamaan, maka katakanlah (dalam hati) bahwa dia pasti lebih baik dariku di sisi Allah! Jika kamu bertemu anak kecil, maka katakanlah, “Anak ini tidak punya dosa sedangkan saya sudah berdosa, tak diragukan lagi dia lebih baik dariku!” Jika bertemu dengan orang yang lebih tua, katakanlah, “Orang ini sudah lebih lama beribadah kepada Allah katimbang saya, maka pastilah dia lebih baik dariku” Jika bertemu orang alim, katakanlah “orang ini dianugerahi sesuatu yang belum saya miliki, dia paham apa yang saya tidak paham dan dia mengamalkan ilmunya” Jika bertemu dengan orang bodoh, maka katakanlah, “Dia bermaksiat karena ketidaktahuannya sedang saya bermaksiat padahal saya tahu, saya tidak tahu bagaimana Allah akan mengakhiri (perbuatan)nya dan mengakhiri amalku!” Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah “Saya tidak tahu barangkali dia masuk Islam kemudian husnul khatimah, saya juga tidak tahu apakah saya akan kufur dan meninggal dalam keburukan amal!” (Syeikh Abdul Qodir al-Jailani)

Syeikh AQJ mengajarkan kepada kita tentang berbaik sangka dan tawadhu’ serta menjauhi sikap-sikap sombong dengan merendahkan orang lain Semoga bermanfaat.

*Dosen IAIN Surakarta

 13,548 total views,  30 views today