Catatan perjalanan Roadshow Ki Ageng Ganjur ke Belanda dan Aljazair #5

Setelah dibuka oleh Dubes Safira, seminar dimulai dengan paparan dari Rektor Universitas Emir Abdulkadir (UEA) Dr. Said Darroji. Dalam paparannya Dr. Said menjelaskan bahwa KAA merupakan mementum penting bagi kemerdekaan Aljazair. Karena di forum itu lahir resolusi untuk kemerdekaan Aljazair dan negara Afrika lainnya. Resolusi itu ditanda tangani oleh sepuluh negara, di antaranya Indonesia, Iraq, Palestina, India. Dari resolusi itulah gerakan kemerdekaan Aljazair bergaung ke dunia internasional bahkan sampai ke PBB. Jasa Soekarno dan bangsa Indonesia sangat besar bagi Aljazair dan sejarah ini tak boleh dilupakan. Generasi muda harus tahu sejarah ini agar hubungan persahabatan Aljazair dan Indonesia tetap bisa dijaga dan dipertahankan.

Narasumber berikutnya, Dr. Ngatawi al-Zastrouw, dosen Pasca Sarjana UNUSIA Jakarta menjelaskan KAA yang dimotori Bung Karno merupakan manifestasi dari spirit memperjuangkan kemerdekaan semua bangsa yang tertulis dalam muqaddimah UUD 45 yang menjadi dasar NKRI. Dalam upaya merealisasikan amanat tersebut Soekarno menggunakan berbagai cara untuk membantu kemerdekaan beberapa negara di kawasan Asia Afrika bahkan sampai Amerika Latin.

Dalam konteks kemerdekaan Aljazair, Zastrouw menyebutkan Soekarno tidak hanya membatu secara politis dan diplomatis di PBB dan forum internasional lainnya, tetapi juga membantu dalam perjuangan fisik. Di antaranya, Soekarno pernah menyelundupkan senjata untuk membantu para pejuang kememerdekaan Aljazair yang tergabung dalam Front Nasional Pembebasan Aljazair (FNPA).

Selain bantuan senjata, menurut Abdelhamid Mehri, salah seorang pejuang FNPA, Bung Karno juga mengirim pasukan TNI untuk melatih para pejuang Aljazair. Spirit KAA menurut Zastrouw bisa menjadi sumber inspirasi membangun solidaritas antar negara berkembang dalam menghadapi berbagai problem dan tekanan global sebagai wujud dari kolonialisme modern. Sebagaimana pernah disampaikan Bung Karno dalam sambutannya di KAA.
Menanggapi paparan narasumber, Prof. Dr. Abdullah Boukhelkhal menyampaikan bahwa kedekatan emosional rakyat Aljazair dan Indonesia tak bisa dimungkiri. Meski tidak saling kenal namun hati mereka sudah tertaut. Ini dibuktikan ketika perjuampaan dua bangsa ini saat ibadah haji.

Rakyat Aljazair selalu terkesan dengan akhlak mulia masyarakat Indonesia. Dari sini mereka bisa paham mengapa Soekarno bisa memiliki akhlak mulia membela bangsa Aljazair secara ikhlas, karena Soekarno berasal dari masyarakat yang berakhlak mulia. “Saya pernah bertanya kepada jamaah Indonesia dari mana bangsa Indonesia belajar akhlak mulia?” Kata Prof. Abdullah. Orang Indonedia itu menjawab dari Islam yang diajarkan oleh para ulama. “Saya perlu pandangan elaboratif masalah ini dari narasumber,” demikian Prof. Abdullah
Tanggapan berikutnya datang dari Ust. Dr. Aziz Haddad. Dia menyatakan bahwa bangsa Indonesia terbangun atas tiga fondasi yang kokoh: bahasa (budaya), agama dan sejarah. Ketiga fondasi ini mampu diintegrasikan secara kokoh dan mendalam. Bagaimana bangsa Indonesia bisa melakukan hal itu?

Seorang wartawati TV, Radia, menanggapi paparan ibu Dubes Safira soal pentingnya mrengajarkan sejarah pada kaum muda. Dia bertanya bagaimana cara efektif melakukan hal itu di tengah fenomena anak muda yg mulai tidak tertarik pada sejarah? Berikutnya dia bertanya soal bantuan senjata Bung Karno pada pejuang FNPA, dia ingin mendalami data-data tersebut. Souad Kesra, seorang dosen UEA yang pernah belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menanggapi bahwa kerjasama Indoneeia dan Aljazair perlu ditingkatkan dengan pertukaran mahasiswa, dosen dan penelitian bersama.

Demikian beberapa tanggapan dari peserta seminar yang kemudian ditanggapi balik oleh narasumber. Berbagai tanggapan inilah yang membuat diskusi menjadi semakin hangat dan menarik. (bersambung)

3,441 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini