OPINI – Di zaman ini, menjadi orang baik saja ternyata tidak cukup. Dunia sudah terlalu rumit untuk diselamatkan hanya dengan niat tulus, unggahan penuh empati, atau kata-kata bermoral di kolom komentar media sosial.
Kita hidup di era ketika dunia dipenuhi banyak orang yang merasa paling benar, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mampu mengubah keadaan. Semua orang sibuk tampak peduli, tetapi lupa bertanya apakah kepedulian yang telah mereka berikan benar-benar mampu mengubah kenyataan.
Moralitas yang dibanggakan itu akhirnya berubah menjadi sekadar identitas, bukan tindakan.
Narasi di atas menjadi alasan munculnya seluruh kegelisahan dalam tulisan ini. Kegelisahan tentang bagaimana seharusnya membuat dunia menjadi lebih baik tanpa terjebak dalam kepuasan moralitas palsu.
Kesadaran
Ketika masih muda dahulu, termasuk juga anak-anak muda sekarang, kita percaya bahwa dunia dapat diubah dengan gerakan aktivisme, slogan, atau idealisme. Namun, semakin dewasa, kita mulai sadar bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan kebaikan. Ada begitu banyak gerakan sosial yang terdengar apik, tetapi pada akhirnya gagal total. Ada perjuangan yang tampak benar, tetapi justru melahirkan “monster” baru. Ada pula orang-orang yang sepanjang hidupnya sibuk berbicara tentang keadilan, tetapi tidak pernah benar-benar menghadirkan keadilan dalam kehidupan siapa pun.
Kita kemudian sadar bahwa sejarah ternyata tidak selalu digerakkan hanya oleh aksi turun ke jalan, retorika, dan kata-kata. Sejarah sering kali diubah oleh orang-orang yang tahu cara membangun perubahan.
Contoh Penghapusan Perbudakan
Gerakan penghapusan perbudakan di Inggris, misalnya, adalah gerakan yang strategis. Yang menarik dari gerakan itu bukan hanya semangat moral para abolitionist, tetapi juga cara para aktornya membuat isu tersebut bekerja.
Para aktor gerakan bukan sekadar menulis pamflet yang mengecam ketidakadilan. Banyak dari mereka justru berlatar belakang pengusaha, organisator, dan orang-orang yang memahami jaringan kekuasaan. Mereka pragmatis. Mereka sadar bahwa manusia tidak selalu bergerak karena belas kasihan. Kadang manusia justru bergerak karena kepentingannya sendiri.
Oleh sebab itu, salah satu argumen paling efektif yang digunakan para aktor gerakan untuk melawan perbudakan saat itu bukanlah penderitaan budak kulit hitam. Mereka justru mengangkat isu kematian pelaut kulit putih Inggris di kapal-kapal perdagangan budak. Secara moral, tentu penderitaan budak jauh lebih besar. Namun, secara politik, kematian “anak-anak mereka sendiri” lebih mudah mengguncang parlemen Inggris.
Di sini kita belajar sesuatu yang sering dilupakan para aktivis modern: manusia tidak selalu berubah karena kebenaran faktual. Kadang manusia berubah karena adanya narasi yang mampu menyentuh ketakutan, kepentingan, atau identitas mereka.
Itulah sebabnya moralitas tanpa strategi sering kali hanya menghasilkan kesalehan sosial, tetapi tidak memiliki kegunaan apa pun terhadap perubahan.
Jebakan Gerakan
Banyak gerakan hari ini terjebak pada obsesi terhadap isu moral yang dianggap murni. Orang bahkan dibuat takut memakai argumen yang “kurang sempurna” karena khawatir dianggap mengkhianati perjuangan. Akibatnya, gerakan hanya berbicara di antara kelompoknya sendiri. Mereka menang dalam diskusi internal, tetapi kalah di dunia nyata.
Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari kompromi antara idealisme dan pragmatisme. Mereka yang hanya pragmatis akan kehilangan arah moral. Namun, mereka yang hanya idealis sering kali tidak pernah sampai ke tujuan.
Kita juga sering terlalu percaya bahwa semua perjuangan moral pasti baik. Padahal sejarah, di sisi lain, juga penuh dengan tragedi yang dilakukan atas nama cita-cita mulia.
Komunisme pernah dijanjikan sebagai jalan menuju kesetaraan universal, tetapi berubah menjadi mesin kekerasan. Liberalisasi tanpa batas juga kadang melahirkan industri baru yang justru memperdagangkan kecanduan manusia, merusak lingkungan, dan menjatuhkan martabat pekerja. Bahkan gerakan progresif pun tidak selalu menghasilkan arah perubahan yang benar.
Karena itu, gerakan moral membutuhkan strategi, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Gerakan harus berani mengkritik dirinya sendiri dan mengakui bahwa niat baik saja bisa gagal. Bahwa strategi yang terlihat manusiawi belum tentu efektif. Bahwa suatu gerakan yang awalnya memperjuangkan keadilan bisa saja berakhir dengan melahirkan kerusakan baru yang tidak pernah diperkirakan.
Paradoks
Dunia modern saat ini sebenarnya menghadapi paradoks besar. Kita hidup di era yang sangat moralistik, tetapi sekaligus miskin tindakan keberanian moral. Orang mudah menghakimi, tetapi sulit berkorban. Mudah membuat narasi, tetapi sulit membangun institusi. Mudah marah, tetapi malas bekerja.
Padahal perubahan sosial hampir selalu membutuhkan kerja yang membosankan. Kerja itu berupa menyusun organisasi, membangun jaringan, mempelajari hukum, memahami ekonomi, melobi kekuasaan, bahkan memahami logika pasar. Dunia tidak berubah hanya oleh kecaman. Dunia berubah ketika moralitas bertemu dengan kompetensi.
Rutger Bregman pernah melontarkan kritik bahwa banyak aktor hari ini lebih sibuk menjaga citra moral dirinya sendiri daripada benar-benar membantu orang-orang yang mereka bela. Kalimat itu terdengar kasar, tetapi mengandung kebenaran yang sulit ditolak.
Korban perang tidak membutuhkan unggahan emosional. Orang miskin tidak membutuhkan debat akademik tanpa ujung. Hewan-hewan di peternakan industri tidak membutuhkan manusia yang sekadar merasa bersalah saat makan malam. Mereka membutuhkan perubahan nyata: dunia tanpa perang, meningkatnya kesejahteraan, dan perlindungan terhadap lingkungan.
Dan mungkin di situlah moralitas abad ini seharusnya dimulai. Bukan dari keinginan terlihat paling baik, melainkan dari keberanian untuk sungguh-sungguh memberikan dampak dan manfaat.
Moralitas bukanlah kompetisi kesucian. Moralitas adalah kemampuan bertindak untuk mengurangi penderitaan secara nyata.
Maka pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi soal, “Apa pendapat moralmu?”, melainkan: “Apa yang benar-benar telah berubah karena keberadaanmu?”
