Kleptokrasi? Hm.
Istilah yang lucu.
Klepto, terdengar seperti nama penyakit. Dan “-krasi” di belakangnya, terdengar seperti sebuah sistem operasional pemerintahan.
Istilah ini saya dengar pertama kali dari video YouTube Ruth Ben-Ghiat beberapa hari lalu dan jujur, langsung bikin saya tertarik.
Btw, Ben-Ghiat merupakan Profesor Sejarah dan Studi Italia di New York University. Hasil dari mesin pencari yang saya lakukan, profesor ini banyak membahas kajian tentang fasisme, otoritarianisme, dan propaganda.
Termasuk istilah baru (buat saya yang masih cukup awam soal istilah-istilah politik), yang cukup menarik karena—ya tadi saya sebut di awal—cukup lucu.
Saya penasaran, lalu coba melacak istilah itu. Ternyata istilah itu sudah ada sejak tahun 1819. Buset, lawas betul.
Diksi ini “diciptakan” oleh seorang penyair, sastrawan, sekaligus jurnalis Inggris. Leigh Hunt, namanya. Seperti nama tokoh dalam karya sains-fiksi, buat saya, hehe.
Hunt, “hanya” menggabungkan saja dua akar kata dari bahasa Yunani Kuno.
Klepto yang berarti “mencuri” atau “pencurian”, dengan akhiran -cracy atau kratia yang berarti “kekuasaan” atau “pembagian pemerintahan”. Secara literal, Hunt merangkainya menjadi pengertian baru: “pemerintahan oleh para pencuri”.
Tapi, istilah itu tidak langsung bisa dipahami semudah itu juga ketika muncul pertama kali. Wajar sih, ini karena Hunt membuat istilah ini ke dalam esai sastra untuk mengkritik Kerajaan Spanyol di bawah Raja Ferdinand VII.
Coba aja bayangin, menulis untuk media di Inggris (Oxford lebih tepatnya), tapi ngomongin Spanyol. Dalam bentuk esai sastra lagi. Ya tentu tidak banyak orang tertarik.
Jadi Si Raja Spanyol ini, dulunya merupakan mantan narapidana dari Pemerintahan Napoleon Bonaparte, iya, Jenderal-Pemimpin Perancis yang legendaris itu. Si Raja bisa bebas, karena militer Perancis waktu itu sedang goyah.
Kalau kamu tahu, Napoleon termasuk orang yang mewarisi ide bahwa orang biasa (bukan keturunan bangsawan) bisa menjadi pemimpin suatu negara dan menjadikan negaranya begitu powerfull.
Jadi Napoleon cukup merevolusi pemikiran masyarakat sipil Eropa, bahwa mereka ternyata bisa “bersaing” dengan para bangsawan dan bisa memenangkan kontestasi politik (kalau dalam kasus Napoleon sih, lebih ke kudeta kali ya).
Balik ke Raja Ferdinand VII yang bebas tadi. Begitu bebas, Si Raja melakukan segala macam cara untuk mengembalikan kekuasaan monarkinya. Ada beberapa langkah yang dilakukan.
Membatasi universitas yang berisiko mencerdaskan kelompok sipil, menghilangkan kebebasan media (pers), dan—tentu saja—mengembalikan kekuasaan ke golongan elite dan oligarki lagi.
Si Raja juga dikelilingi oleh penasihat-penasihat korup, yang diistilahkan dengan sebutan “Camarilla”. Isinya? Politisi oportunis tukang menjilat dan tokoh agama yang suka memperkaya diri.
Dari sini, praktik jual-beli jabatan jadi lumrah terjadi. Suap jadi hal biasa. Bahkan kas negara/kerajaan jadi bancakan ramai-ramai, seolah-olah itu adalah duit mereka.
Itu juga berbarengan dengan wilayah kolonial Spanyol di Amerika Selatan yang mulai berontak. Bukannya memperbaiki itu semua, oligarki kerajaan malah mencekik rakyat Spanyol dengan memeras sisa-sisa anggaran negara.
Dari sana, lalu kepastian hukum jadi berantakan. Rakyat sipil yang mencuri karena kelaparan dihukum gantung, pejabat dan oligarki bermewah-mewahan; membeli perhiasan-perhiasan, jalan-jalan ke luar negeri, suka mengadakan pesta pakai anggaran negara.
Timbangan yang terlalu curam itu lantas melahirkan preman-preman pasar. Mereka yang terdesak di tengah-tengah negeri yang dipimpin perampok model Raja Ferdinand VII ini, akhirnya melakukan apa yang pemimpin mereka lakukan juga ke kelompok yang lebih lemah.
Akhirnya, rakyat bukannya bersatu untuk menggulingkan pemerintah mereka yang klepto, tapi malah saling klepto satu sama lain untuk bertahan hidup.
Kondisi inilah yang lantas ditulis oleh Hunt dengan judul “Thieves, Ancient and Modern” (Pencuri, Kuno dan Modern), yang di dalamnya tersebutkan istilah “Spanish Kleptocracy”.
Namun, istilah itu tidak begitu dikenal. Baru di era modern seorang sosiolog keturunan Polandia-Inggris bernama Stanislav Andreski pada tahun 1968. Lewat karya klasiknya yang berjudul “Kleptocracy or Corruption as a System of Government”, istilah ini meluas.
Di sini, Andreski mengupas tuntas fenomena di mana korupsi bukan lagi sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan telah menjadi sebuah sistem pemerintahan yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).
Saking TSM-nya, bahkan kadang orang-orang sampai pada perasaan putus asa; ini cara mbenerinnya gimana?
Satu hal yang menjadi garis batas pembeda antara negara korup dengan negara klepto adalah dalam negara yang korup hukum masih bisa sesekali bekerja.
Pejabat masih bisa dipenjara, media masih bisa mengawasi, dan lembaga negara masih memiliki ruang untuk mengoreksi penyimpangan. Dalam kleptokrasi, justru hukum dan aparat-lah yang digunakan untuk melindungi praktik curi-mencuri itu semua.
Okelah, Hunt memang menulis tentang Spanyol sekitar dua abad lalu. Kemudian Andreski menjelaskan dan memopulerkan teori itu enam puluh tahun yang lalu.
Lucunya, ketika saya membaca soal kleptokrasi hari ini, saya merasa bukan sedang membacanya sebagai pelajaran sejarah, tapi malah terasa seperti sedang membaca berita. Terasa aktual dan faktual saja.
Fiuh, tapi semoga itu semua cuma perasaan saya saja. Semoga ya.
Kamu gimana?
