OPINI – Terus terang, selama proses Muktamar ke-35 berlangsung, saya sebagai istri salah satu kandidat Ketua Umum PBNU (Gus Rozin), berusaha untuk “ngempet” agar tidak ikut membuat status bernada “lincip” di media sosial. Selain sejak awal saya menyadari bahwa ini adalah proses pemilihan yang melibatkan teman dan sanak saudara kita sendiri, secara pribadi saya juga mengenal hampir semua istri para kandidat Ketua Umum PBNU.

Garwo Gus Yahya. Saya beberapa kali bertemu dan ngobrol panjang dengan Bu Nyai Nunik (garwo Gus Yahya), terutama terkait pesantren. Hal ini karena putra beliau pernah sekitar dua tahun mondok di Maslakul Huda, Kajen, yang diasuh oleh Gus Rozin. Demikian pula keponakan dan kerabat beliau sampai saat ini masih nyantri di Pesantren Maslakul Huda, Kajen.

Sewaktu pembukaan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, saya dan Bu Nyai Nunik juga sempat bertukar sapa, meski tak sempat berswafoto karena Bu Nyai Nunik terburu-buru dan sudah ditunggu suami di halaman tempat acara.

Garwo Gus Kikin. Saya beberapa kali bertemu Bu Nyai Lely (garwo Gus Kikin). Pada salah satu kesempatan, kami juga sempat ngobrol lama sembari menikmati semangkuk bakso di ruang makan ndalem kasepuhan Pesantren Tebuireng.

Ruangan yang berada di depan kamar KH Hasyim Asy’ari itu dipenuhi foto-foto bersejarah tentang perjalanan penting para kiai dan Bu Nyai dzurriyah muassis Pesantren Tebuireng yang luar biasa. Saya banyak bertanya dan meminta beliau untuk bercerita mengenai foto-foto tersebut.

Garwo Gus Yusuf Hudlori. Saya juga beberapa kali bertemu dengan Ning Fina (garwo Gus Yusuf), meski sebagian besar pertemuan tersebut terjadi tanpa disengaja. Garwo Gus Yusuf, Ning Fina, pernah mondok posonan di Pesantren Al-Badi’iyyah, Kajen. Meski hanya beberapa waktu, beliau tampak sangat akrab dengan ibunda Nafisah Sahal (ibunda mertua saya yang juga pengasuh Pesantren Al-Badi’iyyah, Kajen).

Saya pertama bertemu dengan Ning Fina saat beliau mendampingi Gus Yusuf takziyah atas wafatnya Kiai Sahal Mahfudh. Kemudian, kami bertemu kembali saat Ning Fina dan Gus Yusuf takziyah kepada paklek saya, KH Habibulloh Zaini, Lirboyo.

Garwo Gus Zulfa Mustofa. Saya pertama kali kenal dengan Ibu Ulfatin (garwo Gus Zulfa) pada saat kami berada dalam satu rombongan ziarah ke Uzbekistan. Ibu Ulfa adalah orang asli Kajen/Bulumanis, Pati. Namun, meski demikian, kami memang jarang bertemu.

Hal ini karena suami-suami kami punya kebiasaan berbagi peran dengan istri, terutama saat beraktivitas organisasi, sehingga tidak setiap waktu kami harus pergi bersama-sama.

Garwo Gus Salam. Gus Salam adalah saudara mindoan saya dari jalur Lirboyo (nenek kami adalah saudara kandung). Sedangkan suami saya memanggil Gus Salam dengan sebutan “paklek” dari jalur Denanyar-Tambakberas.

Beberapa kali saat ziarah ke makam KH Bisri Syansuri, kami juga bersilaturahim ke ndalem kasepuhan Pesantren Denanyar, tempat Gus Salam menerima banyak tamu. Saat ini saya adalah follower IG Ning Naili (garwo Gus Salam). Semoga lain waktu, saya juga dapat berkesempatan berbincang dengan beliau.

Saat ini hasil Muktamar NU telah memilih Gus Kikin sebagai nahkoda. Tentu ada banyak rasa kecewa, terutama bagi calon yang tak terpilih dan juga bagi para pendukungnya.

Kami para istri pasti juga punya kadar kecewa sendiri-sendiri. Namun, apa pun itu, kita juga semestinya menyadari bahwa setiap muktamar—empat kali saya mengikutinya—pasti ada catatan-catatan hitam-putih-abu-abu yang menyakitkan apabila ditelisik lebih dalam. Baik Muktamar Makassar, Jombang, Lampung, maupun Jombang, semuanya mengandung duka-luka, terutama bagi pihak yang kalah.

Sudahi “tradisi lali” bahwa saat pernah menang, orang-orang memilih memaklumi segala kecurangan. Sedangkan saat kalah, orang-orang yang sama seolah menjadi pihak suci yang melupakan kecurangan yang dulu pernah diaminkan. Saatnya hari ini sama-sama beristighfar. Karena siapa tahu, ternyata bukan hanya pihak lain yang zalim, namun pada waktu yang lain, kita juga pernah berbuat zalim kepada pihak lain.

Tantangan perjalanan kita sebagai Nahdliyin terbentang luas ke depan. Semoga Allah mengampuni kekhilafan kita, baik secara personal maupun secara organisasi. Semoga Allah menuntun organisasi para ulama ini menjadi lebih baik dan kembali pada khittah perjuangan para muassisnya. Amin.

Tutik Nurul Janah
Kajen, 2 September 2026