Beberapa waktu lalu, saat baca, mengikuti dan nimbrung di media sosial terkait polemik gaji pokok dosen dan ada yang membandingkannya dengan Jepang dan beberapa negara maju lain yang gaji dosennya tinggi, muncul komentar, “Banyak dosen bergelar doktor di Indonesia itu bidangnya adalah ilmu agama baik dari kampus semisal PTKIN atau PTKIS, yang kontribusinya terhadap industri bisa dibilang nol.” Dosen di Jepang dan Singapura misalnya, gajinya tinggi karena berkontribusi menghasilkan lulusannya yang cakap di Industri. Lucunya, polemik ini agak jauh melebar sehingga dunia Pesantren termasuk para kyai dan bu nyai ikut terseret-seret diperbincangkan (baca: dijelek-jelekkan).
Bacain komen-komen itu, diri ini tersenyum dan termenung. Barangkali, kita memang sedang mengalami krisis cara pandang. Pertanyaannya adalah sejak kapan kontribusi ilmu pengetahuan hanya diukur dari industri? Kalau benar demikian, maka filsafat tidak berguna. Sejarah tidak berfaedah. Sastra tidak manfaat. Pendidikan tidak penting. Psikologi tidak berpengaruh. Hukum pun tidak berguna. Bahkan… ekonomi pun tidak akan berguna kalau tidak ada etika yang mengarahkannya. Ironisnya, justru ketika krisis moral terjadi, korupsi merajalela, kekerasan meningkat, keluarga rapuh, intoleransi merebak, orang-orang akan bertanya, “Mana sih peran pendidikan agama?” Lho? Bukankah tadi katanya kontribusinya nol? Kita sering lupa bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh insinyur. Peradaban juga dibangun oleh guru, ahli bahasa, sejarawan, sastrawan, filosof, oleh ulama dan pendidik. Oleh karena merekalah yang membentuk cara manusia berpikir, bukan sekadar cara manusia memproduksi barang.
Kita Insyaa Allah sepakat bahwa setiap bidang ilmu perlu menunjukkan relevansinya terhadap persoalan bangsadan negara. Tetapi mengukur seluruh nilai sebuah disiplin ilmu hanya dari kontribusinya terhadap industri adalah cara berpikir yang terlalu sempit alias Cherry Picking (sebuah kesalahan logika/sesat pikir di mana seseorang secara selektif hanya memilih dan menyajikan data atau bukti yang mendukung argumennya, sementara dengan sengaja mengabaikan atau menyembunyikan bukti penting lain yang justru bertentangan dengan posisinya. Hal ini membuat argumen terlihat sangat kuat dan meyakinkan, padahal kenyataannya menyesatkan karena gambaran yang disajikan tidak utuh.)
Industry creates wealth. Civilization creates meaning (Industri memang menciptakan sarana bahkan kekayaan, namun peradabanlah yang menciptakan maknanya). Sejarah pun acapkali menunjukkan, sebuah bangsa bisa bertahan tanpa pabrik canggih. Tetapi belum pernah ada yang bertahan lama jika mereka kehilangan adab, moral, ilmu, dan karakter (loss of adab, meminjam istilah Prof. SMN. al-Attas dalam bukunya Islam and Secularism). Bisa jadi, inilah masalah terbesar pendidikan kita di era kiwari ini. Sebab loss of adab bisa membawa kepada kekacauan dan kerusakan ilmu (confussion and corruption of knowledge), hilangnya keadilan (loss of justice) dan munculnya para pemimpin palsu (false leaders).
Kita terlalu sibuk menghitung market value, sampai lupa bertanya tentang human value. Padahal tujuan pendidikan bukan hanya mencetak manusia yang produktif, tetapi juga manusia yang beradab. Industri maju sekalipun, tapi kalau mental pejabatnya korup (bahkan mudah menjilat) kayak di suatu negara, akan jauh dari keberkahan. Para doktor agama, khususnya para ulama yang dianggap tidak berkontribusi itu mungkin tidak mendesain pabrik atau menciptakan chip semikonduktor. Tapi mereka mengajar ribuan santri dan mahasiswa, membimbing masyarakat, menjadi rujukan saat terjadi konflik keluarga, menyelesaikan sengketa waris, mengurus jenazah, mengisi mimbar-mimbar dakwah, serta—yang sering luput dari perhitungan statistik—mengangkat tangan mereka di sepertiga malam, mendoakan negeri ini. Mungkin hal ini memang tidak tercatat dalam laporan industri. Tetapi dalam pandangan seorang mukmin, kita tidak pernah diajarkan meremehkan doa orang-orang saleh. Sebab bisa jadi, keberkahan yang masih Allah limpahkan kepada negeri ini datang melalui doa-doa yang bahkan tidak pernah masuk ke dalam tabel ekonomi. Tidak semua kontribusi bisa diukur dengan rupiah. Tidak semua manfaat bisa dihitung dengan grafik dan tidak semua yang tak terlihat berarti tidak bernilai.
Oh ya, ngomong-ngomong selain berkontribusi dalam pembentukan moral dan kehidupan sosial, para doktor ilmu agama alias moslem scholar ini, terlebih yang ada perguruan tinggi keagamaan juga terus menunjukkan kapasitas intelektual, akademik dan kontribusinya bagi negara. Hal ini terlihat dari capaian dua kampus UIN di Indonesia yang berhasil menempati Top 10 Universitas Terbaik di Indonesia versi Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027 lho; UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menempati urutan ke-2 setelah Universitas Indonesia (1st) dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menempati urutan ke-7 setelah Universitas Airlangga (6th). Ini masih secuil dari banyaknya kontribusi para doktor agama di Indonesia. Perguruan Tinggi Islam Swasta pun tak kalah membanggakan. Beberapa waktu yang lalu, Universitas Darussalam Gontor menorehkan prestasi membanggakan pada kancah Internasional karena dua mahasiswanya berhasil meraih juara dalam ajang bergengsi perlombaan kaligrafi internasional yang diselenggarakan oleh Research Centre for Islamic History, Art and Culture (IRCICA) di Istanbul, Turki. Alhamdulillah.
Terkait pesantren, sebagai seorang santri (dan selamanya akan tetap santri), kami akui memang tidak sedikit alumninya yang banyak cela, jauh daripada mengaku punya kontribusi. Kami sadari, banyak kejahatan yang terjadi melibatkan tokoh agama. Kami paham kekeliruan yang ada namun kami mohon agar kami bisa dinilai secara adil dan selayaknya, karena jujur dari sanubari ini kami sampaikan bahwa sejelek-jeleknya narasi yang ada di luar sana, fakta akan orientasi akhirat yang ada di pesantren itu, kami jamin jauh lebih banyak, hanya memang tidak/kurang terekspos saja.
Selain itu, Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya beragama dan paham bahwa kehidupan dunia hanya sekadar untuk “mampir ngombe”, kehidupan akhiratlah (surga) yang abadi, sangat tidak tepat disamakan dengan Jepang, Singapura, Amerika dan negara maju lainnya dalam menilai kinerja seseorang dari kinerja fisik dan pemikiran duniawi di lapangan. Namun, walau tidak tepat disamakan, paling tidak keduanya bisa diseimbangkan. Para doktor di bidang teknis dan non teknis (termasuk doktor ilmu agama) diberi penghargaan yang sama.
Karenanya, mari saling sayang, saling menghargai dan saling menghormati. Bukankah ini merupakan ejawantah akan sifat Tuhan? Kalau bukan kita sesama umat Islam, siapa lagi yang akan memperjuangkan?
Muhammad Fajar Adyatama, Pengajar di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda
