RESENSI – Al-Risālah al-Qubruṣiyyah[1] adalah salah satu karya Ibn Taimiyyah yang seringkali dibaca sebagai karya apologetika atau polemik Muslim-Kristen semata.

Bila kita menggunakan perspektif dan konteks historis dan politik saat itu, surat itu bisa dibaca sebagai permohonan diplomatik, yaitu usaha Ibn Taimiyyah untuk membujuk seorang penguasa/otoritas Kristen di Siprus agar membebaskan, memperlakukan secara manusiawi, atau setidaknya tidak memaksa konversi para tawanan Muslim.

Dengan kata lain, polemik teologis dalam surat itu bukan bagian terpisah dari tujuan praktisnya. Polemik, nasihat, pujian, ancaman moral, dan ajakan etis dipakai sebagai satu strategi retoris untuk mencapai tujuan konkret; menolong tawanan Muslim di Siprus.

Dalam artikelnya,[2] Bori mengkritik kecenderungan studi sebelumnya yang membaca surat ini terutama sebagai teks apologetika Islam terhadap Kristen.

Pembacaan seperti itu membuat dua bagian surat tampak terpisah; pertama, bagian polemik teologis terhadap Kristen dan Yahudi; kedua, bagian permintaan perlakuan baik bagi tawanan Muslim. Menurut Bori, pemisahan ini keliru karena justru kedua bagian itu membentuk satu kesatuan retoris.

Bagi Bori, surat ini harus dilihat sebagai teks yang memadukan polemik lintas agama dengan tujuan diplomatik-praktis. Dengan pendekatan ini, Ibn Taimiyyah tidak hanya tampak sebagai polemikus keras, tetapi juga sebagai mediator yang cakap, mampu menyesuaikan bahasa, argumen, dan strategi dengan lawan bicaranya.

Surat ini kemungkinan ditulis sekitar 1303–1304, setelah kekalahan Mongol di Marj al-Ṣuffar pada April 1303 dan sebelum wafatnya Ghāzān Khān pada Mei 1304. Konteksnya adalah krisis politik-militer akibat invasi Mongol ke Suriah dan keterlibatan pasukan Frank dari Siprus dalam penyerangan, perampasan, dan penawanan penduduk Muslim.

Para tawanan Muslim yang dibicarakan dalam surat kemungkinan berasal dari wilayah Mamluk dan dibawa ke Siprus melalui serangan-serangan Frank. Keberadaan tawanan Muslim dari wilayah Mamluk di Siprus pada awal abad ke-14 memang didukung oleh berbagai sumber, termasuk surat Ibn Taimiyyah sendiri.

Identitas Penerima Surat

Sebelumnya, penerima surat sering diidentifikasi sebagai John II of Jubayl atau bahkan secara umum disebut “raja Siprus”. Bori menunjukkan bahwa identifikasi ini bermasalah. Raja Siprus saat itu adalah Henry II of Lusignan, bukan sosok yang cocok dengan sebutan Arab srjwān. Selain itu, jika Ibn Taimiyyah menulis kepada raja resmi Siprus, gaya gelar yang digunakan kemungkinan akan lebih formal.

Bori menguatkan kemungkinan bahwa penerima surat adalah Grand Master Ordo Hospitaller, yaitu pemimpin tertinggi Ordo Saint John di Siprus. Ini masuk akal karena ia adalah figur militer sekaligus religius, cocok dengan gambaran Ibn Taimiyyah tentang penerima surat sebagai tokoh besar, religius, dikelilingi para saudara, sahabat, pejabat, dan orang-orang berilmu.

Menurut Bori, surat Ibn Taimiyyah memiliki dua bagian besar. Pertama, bagian polemik teologis. Ibn Taimiyyah menegaskan superioritas Islam, menguraikan sejarah kenabian, menempatkan Muhammad sebagai penutup para nabi, dan menjadikan Islam sebagai agama yang menyempurnakan unsur kebenaran dalam tradisi sebelumnya. Ia juga mengkritik Kristen dan Yahudi, terutama dalam soal Trinitas, penyimpangan doktrinal, inovasi ritual, dan kerusakan praktik keagamaan.

Kedua, bagian permintaan praktis. Ibn Taimiyyah meminta agar para tawanan Muslim di Siprus diperlakukan baik, dibantu pembebasannya, dan tidak dipaksa berpindah agama. Permintaan ini tidak berdiri sendiri, tetapi dibangun dari bagian pertama: karena agama yang benar adalah yang mendekatkan manusia kepada Tuhan, maka memperlakukan tawanan dengan baik adalah tindakan etis-religius yang sesuai dengan ajaran para nabi, termasuk Yesus.

Ummatan Wasaṭan

Bagian penting dari argumentasi Ibn Taimiyyah adalah konsep Islam sebagai ummatan wasaṭan, komunitas jalan tengah. Islam, dalam konstruksi Ibn Taimiyyah, bukan sekadar menolak Yahudi dan Kristen, tetapi mengambil unsur kebenaran parsial dari keduanya dan menyatukannya dalam kebenaran yang utuh.

Islam menggabungkan ketegasan hukum Musa dan kasih sayang Yesus dalam kesempurnaan risalah Muhammad. Di sini terlihat strategi retoris Ibn Taimiyyah. Ia mengkritik Kristen, tetapi tidak menolak Yesus. Sebaliknya, ia menjadikan Yesus sebagai titik temu moral untuk menekan penerima surat; jika benar mengikuti ajaran Yesus tentang kasih, rahmat, dan kebaikan, maka tawanan Muslim harus diperlakukan dengan baik.

Bori juga menyoroti tokoh Abū al-‘Abbās, pembawa surat dan perantara lapangan. Ia pernah menjadi tawanan di Siprus, berhasil menebus dirinya dengan susah payah, lalu memberi informasi kepada Ibn Taimiyyah tentang kondisi tawanan Muslim di sana. Ia juga menyampaikan kepada Ibn Taimiyyah bahwa penerima surat adalah orang yang religius, mencintai ilmu, dan memiliki sifat-sifat baik.

Informasi dari Abū al-‘Abbās inilah yang membantu menjelaskan mengapa surat Ibn Taimiyyah memakai bahasa religius yang kuat sekaligus penuh pujian. Ibn Taimiyyah sedang berbicara kepada figur yang ia anggap akan tersentuh oleh argumen keagamaan, nasihat moral, dan imbauan etis.

Salah satu konsep kunci al-Qubrusịyyah adalah nasīḥah (nasihat). Ibn Taimiyyah membingkai suratnya sebagai nasihat tulus untuk kebaikan penerima surat, bukan hanya untuk kepentingan kaum Muslim. Nasihat itu disebut sebagai hadiah terbaik; bukan hadiah material, tetapi hadiah spiritual berupa pembicaraan tentang ilmu, agama, dan apa yang mendekatkan seseorang kepada Allah.

Konsep nasihat ini penting karena menjadi penghubung antara polemik teologis dan permintaan praktis. Ibn Taimiyyah tidak sekadar menyerang doktrin Kristen, tetapi menyusun argumentasi bahwa kebaikan kepada tawanan adalah bagian dari jalan keselamatan, baik menurut Islam maupun menurut ajaran etis Yesus.

Al-Qubruṣiyyah memiliki korelasi dengan pengalaman Ibn Taimiyyah sebelumnya ketika bernegosiasi dengan Mongol saat pendudukan Damaskus. Ibn Taimiyyah pernah terlibat dalam upaya menghentikan penjarahan, membebaskan tawanan, dan mewakili masyarakat sipil ketika otoritas Mamluk tidak efektif melindungi kota.

Dalam negosiasi dengan jenderal Mongol Mulay, misalnya, Ibn Taimiyyah menyesuaikan pembicaraan dengan latar keagamaan lawan bicaranya. Ia memahami sikap simpatik Mulay terhadap Syi‘ah, lalu memakai isu sejarah Ḥusain dan Umayyah untuk meredakan kemarahan Mulay terhadap penduduk Suriah. Ini menunjukkan bahwa Ibn Taimiyyah bukan hanya seorang polemikus, tetapi juga negosiator yang mampu membaca psikologi dan afiliasi lawan bicara.

Ibn Taimiyyah juga menjadikan diplomasi Nabi Muhammad sebagai model. Ia merujuk pada interaksi Nabi dengan delegasi Kristen Najrān, juga surat-surat Nabi kepada Heraclius dan Negus. Dalam kerangka ini, surat kepada otoritas Kristen di Siprus diposisikan sebagai kelanjutan dari model komunikasi profetik; tegas dalam doktrin, tetapi diarahkan kepada persuasi dan kebaikan.

Unsur keras (tegas) dalam surat ini tidak harus dibaca sebagai kegagalan diplomasi. Pada masa itu, korespondensi lintas kekuasaan memang sering memakai bahasa teologis, ideologis, bahkan bernada ancaman. Jadi, ketegasan Ibn Taimiyyah masih berada dalam budaya komunikasi politik-keagamaan abad pertengahan.

Di bagian akhir surat, Ibn Taimiyyah mempertanyakan legitimasi perang Kristen terhadap Muslim. Ia berargumen bahwa Yesus dan para rasul tidak pernah memerintahkan perang terhadap Muslim. Karena itu, penumpahan darah Muslim, penawanan perempuan dan anak-anak, serta penahanan warga sipil dipandang bertentangan dengan nilai agama, hukum, dan kebijakan politik yang benar.

Ibn Taimiyyah juga memakai argumen timbal balik; tawanan Kristen di wilayah Mamluk umumnya diperlakukan dengan baik, maka penerima surat seharusnya memperlakukan tawanan Muslim dengan kebaikan serupa. Di sini tampak gabungan antara argumen moral, religius, politik, dan diplomatik.

Tujuan konkret surat dirumuskan dengan jelas, Ibn Taimiyyah menginginkan dua hal; Pertama, agar penerima surat mengenal kebenaran agama, menyembah Allah sebagaimana diperintahkan, dan mengikuti ajaran para nabi. Kedua, agar ia membantu tawanan Muslim di Siprus; memperlakukan mereka dengan baik, memerintahkan bawahannya berbuat baik kepada mereka, dan membantu proses pembebasan mereka. Para tawanan itu digambarkan sebagai orang-orang miskin dan lemah, bukan tawanan bernilai tinggi yang mudah ditebus. Karena itu, pembebasan mereka menjadi tindakan kebaikan yang bernilai duniawi dan ukhrawi.

Al-Risālah al-qubrusiyyah adalah teks diplomatik-religius yang cerdas secara retoris di zamannya. Ia dimulai dengan retorika perbedaan agama, tetapi berakhir dengan retorika konvergensi etis. Surat itu dimulai dengan konfrontasi teologis, lalu diarahkan menuju kerja sama kemanusiaan. Yesus menjadi figur sentral; mula-mula sebagai nabi yang memberi kabar tentang Muhammad, lalu sebagai simbol kasih, rahmat, dan kebaikan.

Pembacaan yang hanya melihat surat ini sebagai polemik Muslim-Kristen dianggap tidak memadai. Ibn Taimiyyah dalam al-Qubruṣiyyah memakai teologi, polemik, pujian, ancaman, dan nasihat sebagai perangkat persuasi. Tujuannya utamanya bukan untuk mengislamkan penerima surat, tetapi membuka jalan mediasi untuk memperbaiki nasib tawanan Muslim.

Al-Ṣafadī bersaksi bahwa usaha Ibn Taimiyyah mungkin berhasil; tekanan terhadap tawanan disebut berkurang, bahkan dikatakan sebuah masjid dibangun untuk mereka. Kesaksian ini penting karena menjadi satu-satunya indikasi yang diketahui tentang kemungkinan hasil positif dari surat tersebut.

Al-Risālah al-Qubrusiyyah bukan sekadar bukti kerasnya polemik Ibn Taimiyyah terhadap Kristen. Tapi juga contoh bagaimana Ibn Taimiyyah memakai bahasa teologis yang tegas untuk tujuan praktis dan kemanusiaan; membujuk otoritas Kristen di Siprus agar menolong tawanan Muslim.

Ibn Taimiyyah tidak hanya tampil dalam wajah polemik, tetapi juga aktor diplomatik, mediator, dan negosiator yang mampu menggabungkan doktrin, etika, persuasi, dan kepentingan politik secara strategis.

 

Bahan Bacaan

Bori, Caterina. “Taymiyyan Diplomacy, or ‘What Brings One Close to God’: Revisiting Ibn Taymiyya’s Letter to a Christian Lord in Cyprus.” Islam and Christian–Muslim Relations 36, no. 4 (October 2, 2025): 305–28. https://doi.org/10.1080/09596410.2026.2626187.

Ibn Taimiyyah, Aḥmad ibn ’Abd al Ḥalīm. Al-Risālah Al-Qubruṣiyyah. Al-Manṣūrah: Dār al-Lu’lu’ah, 2022.

Michot, Yahya. Ibn Taymiyya: Lettre a Un Roi Croisé (Al-Risâlat Al-Qubruṣiyya. Louvain-la-Neuve: Bruylant-Academia, 1995.

[1] Yahya Michot, Ibn Taymiyya: Lettre a Un Roi Croisé (Al-Risâlat Al-Qubruṣiyya (Louvain-la-Neuve: Bruylant-Academia, 1995); Aḥmad ibn ’Abd al Ḥalīm Ibn Taimiyyah, Al-Risālah Al-Qubruṣiyyah (Al-Manṣūrah: Dār al-Lu’lu’ah, 2022).

[2] Caterina Bori, “Taymiyyan Diplomacy, or ‘What Brings One Close to God’: Revisiting Ibn Taymiyya’s Letter to a Christian Lord in Cyprus,” Islam and Christian–Muslim Relations 36, no. 4 (October 2, 2025): 305–28, https://doi.org/10.1080/09596410.2026.2626187.

Komentar