OPINI – Tulisan ini saya awali dengan sebuah pertanyaan dari seorang kawan ketika kami makan bersama di sebuah warung kopi. Kebetulan saya memang suka “ngopi” (ngobrol penuh inspirasi). Di tengah obrolan, ia bertanya, “Pak, artikel Bapak sudah masuk Scopus?” Saya balik bertanya, “Mengapa bukan, ‘Isu riset Bapak yang terakhir apa?’ atau ‘Apa gagasan besar yang sedang Bapak kembangkan?'”

Beberapa tahun terakhir, saya memang sering mendengar pertanyaan seperti itu. Menariknya, hampir tidak pernah ada yang bertanya, “Pak, penelitian Bapak memecahkan persoalan apa?” atau “Pak, teori baru apa yang Bapak tawarkan?” Pertanyaannya hampir selalu sama: “Sudah Scopus belum?”

Saya tidak menyalahkan orang yang bertanya demikian. Sebab, memang begitulah ekosistem akademik kita dibentuk. Lama-kelamaan, pertanyaan itu terdengar sangat normal. Padahal, kalau direnungkan lebih dalam, ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara kita memahami ilmu.

Saya membayangkan, seandainya Imam al-Ghazali tiba-tiba hadir di sebuah kampus pada abad ke-21. Beliau bertanya kepada seorang dosen, “Apa yang sedang Anda teliti?” Dosen itu menjawab, “Belum tahu, Prof. Yang penting Scopus dulu.” Saya kira al-Ghazali akan diam beberapa saat. Mungkin bukan karena tidak mengerti, tetapi karena sedang berusaha memahami logika yang baru: bagaimana mungkin kendaraan berubah menjadi tujuan perjalanan?

Ketika Google Maps Menjadi Tujuan Wisata

Izinkan saya memberi contoh sederhana. Google Maps adalah alat yang luar biasa. Hampir setiap hari kita menggunakannya. Namun, bayangkan ada seseorang berkata, “Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil sampai di Google Maps.” Tentu kita akan tertawa, sebab Google Maps bukan tujuan, melainkan hanya penunjuk jalan.

Begitu pula tiket pesawat. Tidak ada orang membeli tiket Jakarta–Tokyo, lalu memajangnya di ruang tamu sambil berkata, “Inilah puncak perjalanan saya.” Tiket hanyalah sarana, sedangkan tujuannya adalah Tokyo.

Anehnya, dalam dunia akademik kita sering melakukan hal yang sama. Publikasi berubah menjadi tujuan. Scopus berubah menjadi cita-cita. Padahal, keduanya hanyalah kendaraan menuju sesuatu yang jauh lebih besar, yakni lahirnya ilmu yang bermutu dan bermanfaat.

Kesalahan Berpikir yang Sangat Halus

Dalam usul fikih kita mengenal konsep yang sangat mendasar bahwa wasā’il berbeda dengan maqāṣid. Sarana tidak sama dengan tujuan. Sendok bukan makanan. Perahu bukan seberang sungai. Ijazah bukan ilmu. Demikian pula Scopus bukan ilmu. Scopus hanyalah wasīlah.

Masalah muncul ketika wasīlah diperlakukan sebagai maqṣad. Di sinilah letak kesalahan epistemologis yang sering tidak kita sadari. Dalam filsafat, keadaan seperti ini disebut category mistake, yaitu kekeliruan menempatkan sesuatu pada kategori yang keliru. Yang seharusnya menjadi alat diperlakukan sebagai substansi, sedangkan yang semestinya membantu pencarian ilmu justru mengambil alih posisi ilmu itu sendiri.

Jangan-jangan Kita Sedang Menyembah Angka?

Kalimat ini mungkin terdengar agak provokatif. Namun, mari kita renungkan. Hari ini yang sering ditanyakan adalah: berapa artikel, berapa sitasi, berapa H-index, berapa Q1, atau berapa impact factor. Semua itu memang penting.

Namun, saya hampir tidak pernah mendengar rapat yang bertanya, “Apakah penelitian kita membuat petani hidup lebih baik?” atau “Apakah teori yang kita lahirkan mengubah cara dunia memahami Al-Qur’an?”

Padahal universitas didirikan bukan untuk menghasilkan angka, melainkan untuk menghasilkan pengetahuan. Angka hanyalah bayangannya. Ironisnya, kita justru sering mengejar bayangan sambil melupakan bendanya.

Goodhart Sudah Mengingatkan Kita

Seorang ekonom Inggris, Charles Goodhart, pernah mengemukakan hukum yang sangat terkenal:

“When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure.”

Artinya, ketika ukuran berubah menjadi target, ukuran itu kehilangan maknanya.

Persis seperti timbangan badan. Kalau seseorang hanya mengejar angka timbangan, ia bisa saja tidak makan selama seminggu. Angkanya memang turun, tetapi kesehatannya ikut menurun.

Begitu pula publikasi ilmiah. Kalau yang dikejar hanya jumlah artikel, yang lahir bisa jadi bukan ilmu, melainkan industri produksi artikel. Maka muncullah berbagai fenomena: artikel dipotong-potong agar menjadi banyak, tema dipilih semata-mata karena mudah diterima jurnal, sitasi saling dipertukarkan, bahkan jurnal predator tumbuh subur karena kecemasan para akademisi.

Lucunya, semua orang tahu praktik seperti ini tidak ideal. Namun, hampir semua merasa harus ikut bermain.

Dari Ilmuwan Menjadi Buruh Akademik

Di sinilah saya mulai merasa prihatin. Sedikit demi sedikit dosen berubah. Dahulu orang bertanya, “Apa yang benar?” Kini yang lebih sering ditanyakan justru, “Apa yang disukai reviewer?” Dahulu membaca kitab untuk mencari inspirasi, sekarang membaca template jurnal. Dahulu berdiskusi tentang gagasan, sekarang berdiskusi tentang similarity index.

Saya tidak sedang meremehkan pentingnya format. Namun, kalau kita menghabiskan tiga hari memperbaiki margin, sementara hanya tiga jam memikirkan gagasan, bukankah ada sesuatu yang terbalik?

Lama-kelamaan dosen tidak lagi merasa sebagai ilmuwan. Ia merasa seperti pekerja pabrik yang harus memenuhi target produksi setiap tahun. Yang berubah bukan hanya perilaku, melainkan cara berpikir.

Mengembalikan Scopus ke Tempatnya

Saya perlu menegaskan satu hal. Tulisan ini bukan ajakan anti-Scopus. Saya sendiri menulis di jurnal bereputasi internasional. Scopus penting, bahkan sangat penting. Namun, ia harus tetap ditempatkan sebagai alat atau sarana (wasīlah), bukan tujuan (maqṣad).

Dalam perspektif Tafsir Maqāṣidī, tujuan ilmu jauh lebih luhur daripada sekadar menghasilkan publikasi. Tujuan ilmu adalah menghadirkan keadilan, membangun kemanusiaan, menumbuhkan moderasi, memperluas kemaslahatan, dan melahirkan kebijaksanaan.

Kalau publikasi membantu mencapai tujuan tersebut, maka Scopus adalah wasīlah yang sangat baik. Akan tetapi, jika publikasi justru membuat dosen kehilangan keberanian berpikir, kehilangan kreativitas, bahkan kehilangan kebebasan akademik, maka sudah saatnya kita melakukan koreksi. Bukan terhadap Scopus, melainkan terhadap cara berpikir kita.

Penutup: Universitas atau Pabrik Artikel?

Suatu ketika seorang mahasiswa bertanya kepada saya, “Pak, apa indikator universitas yang hebat?”

Saya menjawab, “Universitas yang hebat bukan hanya melahirkan banyak artikel, tetapi melahirkan banyak pertanyaan besar.”

Sebab artikel bisa dilupakan. Angka sitasi bisa berubah. Peringkat dunia bisa naik turun. Akan tetapi, gagasan besar akan hidup jauh melampaui umur penulisnya.

Al-Ghazali tidak pernah memiliki Scopus. Ibnu Khaldun tidak pernah memiliki H-index. Fazlur Rahman tidak pernah mengejar Q1. Namun, dunia tetap membaca mereka hingga hari ini. Mengapa? Karena sejarah tidak mengabadikan angka. Sejarah mengabadikan gagasan.

Maka, jika kita ingin membangun universitas yang benar-benar besar, janganlah menjadikan Scopus sebagai singgasana tertinggi ilmu pengetahuan. Biarkan ia tetap menjadi kendaraan yang mengantarkan kita menuju tujuan yang lebih mulia: lahirnya ilmu yang mencerahkan, memanusiakan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi peradaban.

Sebab ketika wasā’il naik takhta menjadi maqāṣid, yang hilang bukan sekadar arah penelitian, melainkan jiwa universitas itu sendiri.

Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

Komentar