RESENSI – Cukup lama saya menunggu disertasi ini dibuka “gemboknya” oleh perpustakaan kampus penerbitnya. Terlebih, beberapa pengkaji Ibn Taymiyyah menyarankan untuk membacanya. Menurut mereka, disertasi ini tidak berhenti pada pertanyaan simplistik yang sering kali muncul: apakah ISIS dipengaruhi Ibn Taymiyyah? Namun, pertanyaan tersebut diuji melalui satu doktrin tertentu; al-amr bi al-ma‘rūf wa al-nahy ‘an al-munkar, atau dalam bahasa penulisnya Commanding Right and Forbidding Wrong (CRFW).

Disertasi berjudul Commanding Right and Forbidding Wrong (CRFW): A Critical Evaluation of the Use of Ibn Taymiyya in the Ideology of ISIS, ditulis oleh Mohammed Alruwaili di Department of History, University of Sheffield, pada tahun 2022.

Pertanyaan utama yang menjadi landasan disertasi ini adalah: sejauh mana ISIS benar-benar mengikuti pemikiran Ibn Taymiyyah ketika menggunakan CRFW sebagai dasar teologis dan politik? Alruwaili menolak dua posisi ekstrem. Ia tidak menerima anggapan bahwa ISIS hanyalah kelanjutan langsung Ibn Taymiyyah, tetapi juga tidak serta-merta menerima pembelaan sederhana bahwa ISIS mis-reading/mis-quoting Ibn Taymiyyah.

Menurutnya, terdapat titik-titik kontinuitas, khususnya dalam persoalan īmān, amal, tawḥīd, shirk, dan beberapa konsekuensi sosialnya. Namun, pada banyak aspek lainnya, ISIS memilih, mengubah, mengabaikan, atau menginstrumentalisasi pemikiran Ibn Taymiyyah. Karena itu, kesimpulan besarnya adalah bahwa ISIS tidak bisa disimpulkan sebagai penerus sejati ideologi Ibn Taymiyyah. Hubungan ISIS-Ibn Taymiyyah bersifat selektif, tidak seragam, dan sangat ditentukan oleh kebutuhan politik ISIS.

Disertasi terdiri dari Pendahuluan, tiga bab utama, dan Kesimpulan. Bab I membahas Ibn Taymiyyah, Bab II membahas ISIS, dan Bab III membandingkan keduanya. Dalam membahas Ibn Taymiyyah, sumber primer yang digunakan adalah Majmū‘ al-Fatāwā, al-Istiqāmah, Risālah fī al-Ḥisbah, al-Siyāsah al-Shar‘iyyah, dan sejumlah karya lain yang berkaitan dengan CRFW.

Untuk pembahasan ISIS, menurut saya, ini yang menarik: sumber primernya tidak hanya menggunakan majalah Dabiq dan Rumiyah, tetapi juga surat kabar Arab al-Naba’. Alruwaili melihat Dabiq dan Rumiyah sebagai komunikasi eksternal kepada audiens non-Arab, sementara al-Naba’ lebih merepresentasikan pesan internal kepada masyarakat Arab dan anggota ISIS. Kenapa menarik? Karena banyak penelitian ISIS sebelumnya terlalu bergantung pada Dabiq. Alruwaili menunjukkan bahwa perbedaan audiens juga menghasilkan perbedaan cara ISIS menyampaikan doktrinnya.

Untuk membuat perbandingan sistematis di Bab III, ia mengambil kerangka yang digunakan Michael Cook dalam membahas CRFW-nya Mu‘tazilah. Kerangka yang sama kemudian diterapkan kepada Ibn Taymiyyah dan ISIS, lalu digunakan untuk membandingkan keduanya.

CRFW dan Ibn Taymiyyah

Alruwaili tidak membaca CRFW semata sebagai persoalan fikih sosial. Ia menghubungkannya dengan teologi Ibn Taymiyyah, termasuk persoalan kalām Allāh, amr dan nahy, īmān dan amal, serta tawḥīd. Ibn Taymiyyah memberikan pembahasan konseptual yang cukup kompleks tentang amr, nahy, ma‘rūf, dan munkar. Salah satu contohnya adalah pandangannya bahwa melaksanakan perintah secara normatif lebih utama daripada sekadar meninggalkan larangan, sebuah pandangan yang oleh Alruwaili dibandingkan dengan Imām Aḥmad Ḥanbal.

Dalam disertasi ini, Ibn Taymiyyah pada dasarnya memandang CRFW sebagai farḍ kifāyah. Namun, apabila tidak ada orang lain yang melaksanakannya, kewajiban itu dapat berubah menjadi kewajiban individual bagi orang yang memiliki kemampuan. Faktor qudrah/ability sangat penting. Di sinilah kemudian negara mendapat peran penting. Negara mempunyai kekuasaan yang tidak dimiliki individu biasa. Menurut Ibn Taymiyyah, syarat untuk mengambil peran ini antara lain pengetahuan yang memadai mengenai benar dan salah, ketakwaan, kelembutan, kesabaran, kemampuan bertindak, dan pertimbangan terhadap akibat tindakan. Yang paling penting adalah prinsip bahwa menghilangkan suatu kemungkaran tidak boleh menghasilkan kemungkaran yang lebih besar. Ibn Taymiyyah memiliki kecenderungan kuat untuk menimbang manfaat dan kerusakan.

Ibn Taymiyyah menerima tiga tingkatan klasik CRFW: hati, lisan, dan tangan. Pengingkaran dengan hati berlaku bagi semua orang. Penggunaan lisan dan, terutama, tangan bergantung pada kemampuan dan otoritas. Semakin “berat” tindakan tersebut, semakin kuat pula kebutuhan terhadap otoritas politik.

Ibn Taymiyyah memberikan ruang besar kepada negara dan muḥtasib. Misalnya, muḥtasib dapat mengawasi salat, moralitas publik, perdagangan, kejujuran, dan, dalam batas tertentu, menerapkan hukuman. Namun, tindakan seperti pembunuhan bukan kewenangan biasa muḥtasib, melainkan otoritas politik yang lebih tinggi. Jadi, CRFW pada Ibn Taymiyyah tidak sama dengan izin terbuka bagi setiap Muslim untuk menggunakan kekerasan.

CRFW dalam Ideologi ISIS

Perbedaan pertama sudah terlihat pada level konseptual. ISIS tidak terlalu tertarik membangun teori sistematis mengenai amr, nahy, ma‘rūf, dan munkar. ISIS langsung menekankan ḥisbah sebagai praktik. Dalam al-Naba’, ḥisbah didefinisikan sebagai otoritas keagamaan yang menyuruh kebaikan ketika ditinggalkan dan mencegah kemungkaran ketika dilakukan. Dengan demikian, CRFW berubah dari konsep teologis-etis menjadi perangkat pemerintahan.

Temuan menarik dalam bab ini adalah transformasi posisi ISIS. Pada masa awal pembentukan “negara”, ISIS menekankan CRFW sebagai kewajiban individual. Alruwaili berpendapat bahwa hal itu membantu proses cepat “pembersihan” masyarakat sekaligus mobilisasi anggota. Ketika kekuasaan teritorial ISIS melemah, organisasi itu kemudian mengadopsi posisi yang lebih dekat dengan Ibn Taymiyyah: CRFW sebagai kewajiban kolektif. Alruwaili menafsirkan perubahan ini bukan sebagai transformasi teologis murni, melainkan sebagai strategi komunikasi dan adaptasi politik.

Bahkan, audiens menjadi faktor. Al-Naba’ sebagai media internal membicarakan kewajiban CRFW secara lebih eksplisit, sedangkan Dabiq lebih banyak membangun gambaran ISIS sebagai masyarakat Islam ideal yang menarik bagi calon migran dan petempur asing.

ISIS membedakan antara Muslim biasa dan lembaga ḥisbah. Individu biasa hanya sebatas memberi nasihat; apabila pelanggaran dianggap serius, perkara diserahkan kepada ḥisbah. ISIS bahkan membentuk unit perempuan al-Khansā’ khusus untuk mengawasi perempuan. CRFW bukan lagi sekadar kewajiban moral individual. Ia menjadi bagian dari administrasi negara. Lembaga ḥisbah menjadi instrumen pembentukan masyarakat, kontrol sosial, legitimasi agama, dan pemaksaan identitas.

ISIS menghubungkan CRFW dengan sangat banyak hal: tawḥīd–shirk, riddah, Sufi, Syiah, makam dan situs keagamaan, bid‘ah, jāhiliyyah, ḥākimiyyah, ḥudūd, merokok, musik, percampuran gender, pakaian perempuan, dan seterusnya. Akibatnya, CRFW menjadi perangkat pengaturan perilaku masyarakat, tetapi juga menentukan siapa yang dianggap sebagai Muslim yang benar dan siapa yang dikeluarkan dari komunitas.

Ibn Taymiyyah vs. ISIS

Perbedaan pada masalah pemerintahan sangat jelas. Ibn Taymiyyah cenderung menerima pemerintahan yang tidak sempurna demi menghindari kerusakan (maḍārāt) akibat pemberontakan, sedangkan ISIS membangun legitimasi dengan mendelegitimasi pemerintahan Muslim yang ada dan menggantikannya. ISIS juga menjadikan khilāfah sebagai lingkungan ideal, bahkan syarat, untuk pelaksanaan CRFW, sementara Ibn Taymiyyah tidak menjadikan restorasi khilāfah sebagai prasyarat.

Disertasi ini kemudian menyimpulkan bahwa ISIS mengikuti Ibn Taymiyyah hanya pada wilayah tertentu, meninggalkannya pada wilayah lain, dan mengembangkan sebagian gagasannya menjadi sesuatu yang jauh lebih politis. Kontinuitasnya terletak pada doktrin īmān-amal dan tawḥīd-shirk. Alruwaili menganggap kedua isu tersebut menyediakan fondasi teologis yang kemudian dapat digunakan ISIS untuk membuat batas antara iman dan kufur.

Sebaliknya, kontinuitas menjadi hilang, atau setidaknya lemah, pada isu pemerintahan, pemberontakan, khilāfah, perkara khilāfiyyah, pertimbangan maṣlaḥah-mafsadah, dan implementasi ḥisbah. Di luar masalah īmān dan tawḥīd, penggunaan Ibn Taymiyyah oleh ISIS dalam banyak hal disebut dalam disertasi ini bersifat opportunistic and deliberate willful misuse.

Sayangnya, saat membahas hubungan Ibn Taymiyyah dan tasawuf, disertasi ini terkesan simplistik. Ia menggunakan kategori seperti war against Sufism, Syiah, atau Mu‘tazilah secara sangat luas. Ini problematis, khususnya untuk Ibn Taymiyyah. Sikap Ibn Taymiyyah terhadap tasawuf tidak dapat direduksi menjadi penolakan terhadap tasawuf.

Perlu dibedakan antara kritik terhadap praktik ziarah tertentu, kultus wali, ittiḥād/ḥulūl, samā‘, dan tarekat, dengan penerimaannya terhadap sejumlah tokoh dan aspek tasawuf (baca buku Tasawuf Salafi untuk detailnya). Generalisasi semacam ini melemahkan presisi sejarah intelektual Ibn Taymiyyah.

‘Alā kulli ḥāl, disertasi ini bagus dan penting, terutama dalam tiga hal: rekonstruksi CRFW Ibn Taymiyyah, pemanfaatan sumber internal ISIS seperti al-Naba’, dan pembuktian bahwa hubungan ISIS-Ibn Taymiyyah tidak dapat dijelaskan dengan model kontinuitas langsung.