OPINI – Malam itu, dengan wajah yang dipenuhi kantuk serta lelah, aku memaksa diri untuk tetap hadir di majelis Kiai Toha. Bersama para begundal lainnya, aku menyimak guru kami itu membacakan kitab Fafirru Ila Allah. Kitab ini menjelaskan mengenai tanda-tanda dan runtutan hari kiamat, karya Kiai Mundzir Nadzir, yang ditulis dalam bahasa Jawa khas Jawa Timur-an dan bertuliskan aksara Pegon.

Di dalamnya juga tertera ramalan-ramalan Pakeming Tanah Jawi yang dimulai dari peristiwa penombakan Gunung Tidar oleh Syekh Subakir, selain tentu saja genealogi manusia sedari zaman Nabi Adam a.s.

Lebih dari sekadar aktivitas membaca dan mengkaji kitab, rasa-rasanya aku menangkap hal lain dari Kiai Toha. Beliau sedang mengajari kami—para berandal—tentang sanad keilmuan sekaligus ketawadhuan.

Bagaimana tidak, di saat para kiai lain bergulat dengan aksara-aksara Arab gundul yang membutuhkan skill Nahwu-Shorof tingkat master, beliau dengan penuh kepercayaan diri memilih mengkaji kitab klasik nan domestik. Benar saja, dalam suatu pembahasan, beliau berujar terkait alasannya mengkaji kitab Fafirru Ila Allah tersebut.

“Supayane gampang dimangerteni sapa wae, wong awam. Besok kalau sudah di masyarakat, bisa disampaikan dan mudah diterima,” tutur beliau menjelaskan alasan memilih kitab berbahasa Jawa sebagai materi kajian.

Kiai Toha membaca sendiri kitab tersebut sejak bagian muqaddimah (pembuka). Dengan gamblang, beliau mengupas satu demi satu kalamul mushannif di bagian pengantar tersebut. Wawasan beliau soal logika dan tafsir benar-benar tampak terang-benderang. Pun, beliau juga dengan lihainya mengorelasikan kalimat-kalimat tersebut dengan realitas post-modern hari ini. Melalui pendekatan reflektif, beliau mengkritik fenomena post-modern yang kian diselimuti jubah hangat materialisme.

“Kitab niki ngelingke awakdewe supayane ora ndonya terus sing diburu,” tegas Kiai Toha.

Sekilas, materialisme post-modern yang dibahasakan Kiai Toha dengan istilah jaman sakniki membuat manusia cenderung kosong dari jiwa kerohanian akibat sibuk memburu materi fisik: harta benda, pangkat, jabatan, kedudukan, serta kekuasaan.

Padahal, menurutnya, manusia tak bisa sekadar bergelut dengan urusan-urusan tersebut. Apalagi, substansi esensial dari semua itu hanyalah selingan-selingan (tarwih) atas kebutuhan materi sesungguhnya yang tak lain hanyalah makanan dan hubungan seksual.

“Wong urip iku jane gur mangan karo jima’. Liyane kui namung selingan tok,” jelas beliau.

Secara runtut, terasa adanya isyarat Kiai Toha yang juga mengkritik fenomena kompetisi antarumat manusia yang kian tak keruan. Bahkan, dalam hal-hal sepele nan remeh, manusia harus merelakan harga dirinya terenggut demi memenuhi hasrat nafsunya sendiri. Tak jarang, kebutuhan berkompetisi itu membuat manusia mengorbankan identitas spiritualnya dengan pembahasaan beliau: edan kelangan iman, ora edan ora kumanan.

Mirisnya, kecenderungan tersebut seakan didukung oleh sistem yang berjalan hari ini, terutama politik pemerintahan. Beliau memberi contoh saat terjadinya pandemi beberapa tahun lalu. Beragam larangan yang diproduksi pemerintah sejatinya turut menggerus mentalitas spiritual umat. Selain itu, sisi egoisme dan individualisme masing-masing kian meruncing dan menajam, terutama dalam ‘lomba’ memenuhi kebutuhan hidup.

“Bandhane dadi pengeran, nabine jarit,” imbuh beliau.

Malam itu, nadi berasa seolah tersetrum. Kritik dan kajian Kiai Toha benar-benar terasa mengalir bersama aliran darah yang menuju otak dan sanubari. Betapa kondisi post-modern hari ini memang kian menuntut ketercukupan (surplus) materi. Sementara itu, jiwa dan naluri kita kosong melompong dari ruh-ruh kemanusiaan, spiritualitas, serta kepekaan sosial.

Kita tercebur dalam hasrat saling mengalahkan, mengasorkan, serta menjegal satu sama lain demi merengkuh impian individual kita dalam hal karier, pendidikan, serta kepemilikan properti. Kita lupa bahwa sejatinya semua itu tak benar-benar kita butuhkan. Sayangnya, kita kadung terjejali dengan ide-ide post-modern yang edan dan kebablasan.

Kajian Kiai Toha mengingatkan kita pada nasihat almarhum almaghfurlah Kiai Maimoen Zubair, Pengasuh Pesantren Al Anwar, Sarang. Saat masih sugeng, beliau berujar begini, “‘Alaikum bi sukut wa mulazamatil buyut.” Secara harfiah, makna kalimat ini ialah perintah untuk memperbanyak diam dan menetapkan diri di rumah.

Kalimat hikmah tersebut juga dapat dimaknai secara lebih luas, terutama dalam konteks post-modernisme. Bahwasanya, di zaman yang serba penuh dengan kompetisi, dominasi teknologi, serta materialisme ini, alangkah baiknya bila kita lebih banyak menahan diri (diam) sembari berkontemplasi atas realitas yang terjadi. Keterburu-buruan kita dalam merespons dan mengikuti arus zaman hanya akan menyorok kita pada kekosongan jiwa, nurani, dan spiritualitas.