Menonton film Agak Laen 2: Menyala Pantiku! tak membutuhkan ekspektasi. Filmnya pasti lucu. Benar saja, film ini benar-benar mengocok perut. Dengan komedi yang lebih kuat, akting yang lebih matang, sinematografi yang rapi, serta cerita misteri penuh kejutan, film ini berhasil menjadi paket hiburan yang lengkap. Penonton dapat tertawa, tegang, dan tersentuh manis dalam satu rangkaian cerita.

Film ini merupakan cerita baru, bukan sekuel maupun prekuel dari Agak Laen pertama. Hanya para aktornya saja yang sama. Berlatar di sebuah panti jompo yang penuh intrik, film ini menghadirkan alur cerita baru yang lucu, lebih cerdas, lebih berani, dan lebih jujur.

Bagi saya, film ini mengalami peningkatan yang signifikan dibanding film pertamanya. Jika pada film pertama humor terasa hanya sebagai tempelan—sekadar mengandalkan komedian—dengan beberapa aktor yang berjalan kaku, maka di film ini semuanya terasa lebih cair, lebih rapi, dengan alur misteri yang makin tajam serta produksi yang semakin matang. Para pemain terasa begitu natural.

Detektif polisi bodoh yang diperankan Bene, Jegel, Boris, dan Oki menggambarkan realitas di Indonesia. Mereka bukan sekadar lulusan bocah SMA yang diseragamkan lalu diberi bedil dan borgol, tetapi benar-benar digambarkan bodoh dalam banyak hal. Buktinya, mereka kerap gagal, bahkan merugikan banyak pihak, hingga akhirnya (mau) dipecat.

Namun atasan mereka yang sama bodohnya justru memberikan kepercayaan kembali kepada empat sekawan detektif polisi itu. Akhirnya, mereka diberi satu kesempatan dalam sebuah misi memecahkan kasus pembunuhan anak seorang wali kota, yang ditengarai berada di sebuah panti jompo milik orang Batak. Mereka memanfaatkan identitas ke-Batakan dan menyamar menjadi sepasang suami-istri penghuni panti (Boris dan Oki) serta pelayan panti jompo (Bene dan Jegel).

Kekonyolan hingga kekacauan pun kembali terjadi. Misi yang supermudah itu gagal lagi.

Adegan paling kocak adalah ketika Boris dan Oki disuruh berciuman sekadar untuk mengenang mendiang orang tua pemilik panti. Namun tak kalah lucu saat mereka mengambil koper berisi uang—milik Koh Acim yang telah meninggal—yang diletakkan di bawah pohon besar, tepat di depan masjid. Agar tidak dicurigai, mereka harus menyamar menjadi jemaah masjid. Karena Bene dan Boris (yang beragama Kristen) mengenakan pakaian ala habib dan gus Jawa (kata Jegel cosplay Walisongo), mereka justru diminta memberikan tausiyah. Tangan mereka pun dicium oleh jemaah layaknya gus-gusan di Jawa.

Bene tampil bertausiyah:

“Babi itu haram! Jangan dimakan ya, nggak baik.”

Saudaraku, perlu diketahui bahwa halal dan haram itu bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal harta. Harta yang haram adalah pemutus hubungan antara manusia dengan Allah. Maka dari itu, saudaraku, mari kita selalu meneliti sumber rezeki kita. Jangan pernah sekalipun menafkahi keluarga dengan harta yang haram. Ketika hari kiamat tiba, Allah akan menanyakan empat hal kepada kita: pertama, umur—untuk apa saja digunakan; kedua, jasadnya; ketiga, ilmunya; dan terakhir, hartanya—dari mana ia didapatkan dan untuk apa saja ia dibelanjakan.

Adegan ini adalah golden scene. Tak hanya lucu, komedinya juga menyisipkan satir sosial: mulai dari tekanan hidup orang dewasa, stres pekerjaan, hingga kritik terhadap makanan, agamawan, dan lembaga pemerintahan. Semuanya disampaikan melalui dialog yang cerdas dan ringan.

Twistnya, mereka ternyata tidak benar-benar mengambil uang haram tersebut. Mereka teringat tausiyah Bene bahwa halal-haram harta dilihat dari cara mendapatkan dan bagaimana membelanjakannya. Uang berjuta-juta itu akhirnya diserahkan untuk membangun panti, padahal keempat sekawan itu sangat membutuhkannya.

Dari satir komedi film ini: mereka barangkali justru lebih jujur daripada sebagian agamawan hari ini. Kita sering melihat para agamawan menyuruh umatnya qanaah dan mencari berkah dengan penderitaan dan kemiskinan yang diderita, sementara sang agamawan sendiri hidup hedon (tidak dilarang kaya)—mengendarai mobil mewah untuk berceramah ke wilayah miskin—tanpa peduli pada kondisi sosial di sekitarnya.

Ilmu agama kerap dipakai sebagai dalil berlapis, tetapi dalil itu hanya untuk melanggengkan posisi.

Bagaimana mungkin dalil agama diecer kepada ribuan umat, tetapi pada saat yang sama sang agamawan justru menjadi pengecer uang—menyalurkan sogokan dari bohir ke rumah-rumah warga—sekadar menjadi tim sukses pasangan calon tiap lima tahunan?

Kita jangan heran jika hari-hari ini santri mendebat kiai, atau sesama kiai bertengkar sekadar memperubutkan “sesuatu”.

Komedi dalam film ini sangat satir dan relatable dengan kondisi umat muslim terbesar di dunia. Yang sebenarnya hilang bukanlah Fajar, melainkan otoritas dan moral agamawan yang hobi seksisme, harta, jabatan, dan validasi.

Komentar