Ada dua tokoh yang sejak kecil sering saya dengar kisahnya dari orang tua: Pak Habibie dan Pak Quraish Shihab. Keduanya berdarah Bugis. Itu pula sebabnya saya mengenal dan merasa dekat dengan mereka. Jika digabungkan, Pak Habibie adalah manifestasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), sedangkan Pak Quraish merupakan ejawantah Iman dan Takwa (IMTAQ)—dua singkatan yang populer pada era Orde Baru.
Keduanya mempunyai kedekatan, bukan hanya secara geografis, tetapi juga keilmuan, meski dari dua rumpun yang berbeda. Ketika Pak Habibie baru saja wafat, di acara Mata Najwa yang diampu oleh anaknya, Pak Quraish mengatakan dengan mata berkaca-kaca bahwa kalau ada yang paling berjasa dalam upaya melahirkan Tafsir Al-Mishbah, satu di antara yang penting itu adalah Pak Habibie. Bahkan nama beliau juga disebutkan dalam kata pengantar tafsir.
Kalau Tafsir Al-Azhar Buya Hamka selesai karena peran Bung Karno yang ‘mengasingkan’ Hamka di penjara. Maka Peran Pak Habibie adalah ‘mengasingkan’ Pak Quraish menjadi Duta Besar Mesir. Di sana, beliau bisa seharian berkontemplasi di perpustakaan Al-Azhar menulis kitab tafsir.
Kini, dari dua tokoh itu, yang masih membersamai kita adalah Quraish Shihab. Beliau adalah ulama yang disegani, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. Hampir seluruh karya beliau, termasuk Tafsir Al-Mishbah, saya koleksi. Terlebih karena pada akhirnya saya mengikuti jejaknya dengan belajar di jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Ulang Tahun dan Renungan tentang Generasi
Melalui konten Instagram Najwa Shihab, saya mengetahui bahwa hari ini beliau berulang tahun. Ada kalimat yang begitu menyentuh: “Selamat ulang tahun, Abi. Semoga pagi-pagi itu masih panjang. Semoga kursi itu selalu menunggu.”
Kalimat tersebut terasa sangat bermakna di usia beliau yang kian senja. Lebih miris lagi ketika ketokohan dan keilmuan beliau mulai terasa asing di telinga sebagian anak muda. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menjadi surveyor LAKPESDAM PBNU yang meneliti keterpengaruhan penceramah kondang di kalangan anak muda Yogyakarta. Berdasarkan puluhan mahasiswa yang saat itu saya jumpai, sedikit di antara mereka yang memilih Pak Quraish sebagai tokoh idolanya. Nama beliau kalah pamor dengan ustaz muda yang good looking and good public speaking di media sosial.
Hari ini, kita lebih senang membaca kutipan motivasi singkat daripada berjibaku menyelami untaian kata dalam ratusan buku yang beliau tulis. Kita lebih nyaman menyimak video satu menit daripada mendengarkan dialog beliau bersama Gus Baha’ di YouTube yang berdurasi lebih dari satu jam.
Saya sering merasa malu ketika mendengar cerita kawan-kawan yang aktif di Pusat Studi Al-Qur’an. Bahkan pada usia beliau sekarang, beliau tidak pernah berhenti membaca dan menulis setiap hari. Soal produktivitas, yang muda kalah. Soal keilmuan, apalagi. Barangkali kita hanya unggul dalam intensitas menggulir layar media sosial.
Menulis sebagai Cara Mengada
Ketika membandingkan diri dengan produktivitas para begawan negeri seperti Nurcholish Madjid, Hamka, Jalaluddin Rakhmat, dan kini masih menyaksikan Pak Quraish Shihab, saya teringat potongan puisi D. Zawawi Imron:
Tuhan, aku malu pada-Mu
Kalau hari-hariku selalu membisu
Hari-hari tanggal tanpa harkat pada diriku
Kan lebih baik seandainya dulu
Aku gugur ikut kencingnya ibu?
Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda: M. Quraish Shihab, beliau menegaskan:
“Saya merasa tidak hidup kalau tidak menulis. Saya sangat nyaman di depan komputer, dan saya tidak pernah kehabisan ide.”
Jika meminjam istilah filsuf René Descartes, Pak Quraish seolah telah sampai pada taraf: aku menulis, maka aku ada. Menulis bagi beliau bukan lagi demi popularitas atau kekayaan, melainkan sebagai cara untuk tetap hidup. Semangat inilah yang perlu diteladani generasi muda.
Menulis dan membaca adalah dua gerak yang seirama. Seseorang tidak akan mampu menulis dengan baik tanpa gemar membaca. Sayangnya, hari ini kita kerap dimanjakan teknologi. Proses membaca dan menulis yang kompleks sering kali diserahkan kepada akal imitasi. Kegelisahan ini juga pernah beliau sampaikan saat mengisi pengajian rutin yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia setiap tahun.
Akal, Hati, dan Keseimbangan
Dalam satu kesempatan, beliau menegaskan bahwa hati pun berpikir. Dengan kata lain, yang berpikir bukan hanya akal, tetapi juga hati. Hal ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an: lahum quluub laa yafqahuuna bihaa—mereka memiliki hati, tetapi tidak memahaminya.
Dimensi hati inilah, menurut Pak Quraish, yang tidak dimiliki mesin. Mesin hanya dapat berpikir berdasarkan data yang dimasukkan, tanpa rasa dalam tindakannya. Manusia memiliki rasa sekaligus akal pikiran. Beliau kerap mengilustrasikan pentingnya peran akal dan hati melalui tongkat yang digunakan sehari-hari: pegangan tongkat yang lembut adalah hati, sedangkan ujungnya yang kasar menyentuh tanah adalah akal. Ketika hati memegang dan menuntun akal, saat itulah kita dapat berjalan seimbang.
Wejangan itu menjadi oase bagi anak muda yang tengah menjalani kehidupan hari ini. Inilah salah satu kelebihan Pak Quraish. Meski berasal dari generasi baby boomers, beliau tetap mau belajar dan merespons isu-isu kontemporer. Hal itu tergambar dalam dua karya beliau tiga tahun silam, Seksualitas & Interaksi: Pendidikan dari Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah serta Islam & Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an Menyangkut Pemeliharaan Lingkungan.
Buku pertama lahir dari kegelisahan atas pergaulan anak muda yang kian melampaui batas, ditambah minimnya pendidikan seks di tengah maraknya kekerasan seksual. Buku kedua berangkat dari keprihatinan melihat kerusakan alam yang semakin nyata. Spirit khalifah fil ardh terasa menjauh dari kenyataan akibat kerusakan tersebut. Dua isu ini masih jarang dibahas agamawan, tetapi Pak Quraish justru tampil di barisan terdepan.
Akhlak di Atas Nasab
Satu hal lain yang membuat beliau layak dijadikan panutan adalah sikap keterbukaan dan egalitarianisme yang dijunjung tinggi. Meski berdarah Arab dan memiliki garis keturunan Nabi, beliau enggan dipanggil habib—gelar yang hari ini kerap diperdebatkan dan bahkan diperebutkan.
Dalam buku Kisah-kisah dalam Al-Qur’an: Makna dan Hikmah, beliau menegaskan:
“Banyak di antara mereka yang lupa bahwa garis keturunan kepada Nabi atau orang baik-baik baru bermanfaat dan bernilai bila mengikuti jejak kebaikan mereka dalam keberagamaan dan akhlak, sebagaimana yang mereka ajarkan dan terapkan. Di sisi lain, siapa yang mengikuti Nabi dan orang baik, kendati tidak segaris keturunan, maka bisa saja memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah Swt.”
Pernyataan ini menekankan keutamaan akhlak dibanding nasab. Bukan berarti nasab tidak penting, tetapi menghormati seseorang semata-mata karena keturunan tanpa melihat moralitasnya bukan hanya bertentangan dengan ajaran agama, melainkan juga dengan akal sehat.
Begitu banyak keteladanan yang beliau wariskan bagi generasi muda. Kehadiran beliau masih sangat dibutuhkan, terutama di tengah carut-marut kondisi bangsa. Karena itu, di usia 82 tahun ini, saya hanya bisa berdoa:
“Selamat ulang tahun, Abi. Sehat selalu. Semoga buku-buku itu terus berdatangan. Semoga YouTube itu masih menghadirkan senyummu.”

