Buku yang ada di tangan saya ini berjudul “Irfan va Honar dar Dore-ye Modern” atau “Tasawuf dan Seni di Era Modern”. Buku setebal 507 halaman ini tidak sangaja saya temukan saat sedang jalan-jalan di sebuah toko buku. Tulisan di buku ini cukup mudah untuk dicerna karena berupa kumpulan artikel karya Shahram Pezouki yang dimuat di berbagai jurnal tentang isu-isu penting dalam dunia tasawuf.

Nama Shahram Pezouki merupakan sosok yang cukup unik dan keluar dari meanstream banyak pemikir Iran hari ini. Pezouki sendiri saat ini menjadi ketua di departeman Agama dan Mistisme pada lembaga independen “Iranian Institute of Philosophy (IRIP)”, sebuah lembaga yang pernah didirikan oleh Sayyed Hossein Nasr pada tahun 1974.

Beberapa nama seperti: William Chittick, Henry Corbin, Toshihiko Izutsu, pernah datang dan bekerjasama dengan lembaga ini. Sampai hari ini, lembaga IRIP menjadi tempat ‘menterang’ berkumpulnya banyak pemikir independen yang jauh dari hiruk pikuk politik praktis. Meski latar studi Pezouki adalah filsafat, namun ia memiliki ketertarikan kuat pada ranah tasawuf, ia juga menulis buku “Sejarah dan Geografi Tasawuf.

Baru membaca beberapa halaman saja buku ini, saya merasa sedang diajak untuk berselancar pada samudra kekayaan dunia tasawuf yang tak berbatas. Pandangan Pezouki memang melampaui batas negara, mazhab, bahkan agama. Namun seperti Nasr, ia tetap mempertahankan pijakan tradisonalisme.

Yang menarik dalam buku ini, tidak hanya berputar-putar pada pandangan teoritis, tetapi mengupasnya dari hulu ke hilir, termasuk membahas bagaimana relevansi tasawuf dalam dunia modern. Isu-isu teoritik yang ditawarkan pun cukup berani dan progresif, seperti meninjau kembali makna “Wilayat” yang acapkali ditafsirkan secara sempit dan amat lokal.

Isu lain yang cukup menarik, Pezouki menjelaskan kontribusi tasawuf dan irfan dalam perkembangan filsafat Islam. Filsafat yang selama ini diyakini sebagai induk lahirnya banyak disiplin ilmu, ternyata juga berhutang pada rukun-rukun tasawuf.

Sejujurnya, saya memang belum menuntaskan seluruh isi buku, saya hanya akan coba meng-highlight gagasan utama sekaligus yang kerap menjadi pertanyaan, apakah tasawuf berkontribusi dalam kemajuan? Tentu, dalam ruang terbatas ini saya tidak akan menjawab secara panjang lebar.

Saya kira, jawaban pertanyaan di atas bisa mulai ditelusuri dengan melihat makna “Tafakur” dalam buku ini. Kata Pezouki sembari mengaminkan pendapat Sabestari, Tafakur bukan hanya sebuah proses berpikir dan merenung yang temporal, tapi Tafakur adalah perjalanan suluk. Bagaimana perjalanan panjang kita dari mahkluk menuju Tuhan, sampai pada tingkatan di mana kita sebagai cermin Tuhan untuk kembali pada makhluk, dan dalam cermin makhluk melihat Tuhan. Sehingga keindahan dan keesaan Tuhan bisa kita saksikan dalam keragaman wujud di alam.

Pandangan ini, dapat diturunkan dalam laku dan pedoman hidup. Sehingga dalam posisi apapun seseorang, baik sebagai seniman, penulis, guru, atau lainnya sejatinya sedang menjalani laku suluk. Menurut Pezouki, inilah spirit yang hilang dalam dunia modern yang perlu kembali dihidupkan.

Di bagian akhir, ditempatkan sebuah artikel berjudul “Tarikat Maknawi dan Seni Islam” yang sepertinya juga menjadi inspirasi judul buku ini. Di sinilah kita disuguhkan jejak-jejak antropologis pertalian antara seni dan sufistik di dunia Islam. Dalam konteks Persia, Pezouki menunjukkan sampai akhir dinasti Qajar (akhir abad 19) banyak seniman besar yang juga seorang ahli tarikat.

Misalnya, pembangunan interior di masjid Masjid Jami Isfahan (yang kini masuk situs budaya UNESCO) juga hasil kerja sama antara guru dan murid dalam sebuah lingkaran tarikat. Sebuah puisi pujian dari murid untuk sang guru spiritual ditemukan di salah satu sudut dindingnya. Begitu juga seni oleh raga tradisional “Zoorkhaneh” yang sampai hari ini masih bisa dijumpai di berbagai wilayah Iran. Seni olah raga ini digerakkan oleh lagu pujian terhadap Sayidina Ali. Tentu banyak lagi jejak-jejak antropologis lainnya, seperti dalam karya sastra seperti puisi, ataupun dalam seni rupa seperti: karpet, lukisan, juga kaligrafi.

Dalam konteks Indonesia, jejak-jejak antropologis pertalian antara seni-budaya dan dunia sufistik, tentu bisa kita temukan secara lebih luas dan beragam melalui seni pewayangan, hingga artefak masjid di berbagai daerah. Dari seni batik, hingga lagu-lagu rakyat yang penuh nuansa spiritual, seperti lagu: Lir Ilir. Sampai kata teman Irani saya yang berulang-ulang mendengarkan lagu ini: “Kalau saya waktu itu juga terlahir di Indonesia dan mendengarkan lagu ini, tentu saya akan menerima Islam dengan bahagia”

Begitu juga, saya amat meyakini, konsep Pancasila sendiri dengan lambang Garudanya yang khas adalah karya besar yang berangkat dari nilia-nilai sufistik dan proses “tafakur”mewakili berbagai budaya dan pemahaman masyarakat Indonesia yang beragam menuju pada entitas Ilahiyah yang satu. Selamat Hari lahirnya Pancasila.