Bagi sebagian kalangan intelektual di Barat, ada semacam klaim yang agak menggelitik dan berlebihan terhadap tradisi intelektual Islam, khusus dalam tradisi filsafat Islam di dunia Islam yang puncaknya ada di tangan Ibnu Rusyd, sebagaimana tulisan yang publis beberapa waktu lalu. Klaim kalau kematian Ibnu Rusyd berarti rasionalisme Islam ikut mati.

Klaim tersebut bisa saja benar, tetapi kalau melihat fase baru dari tradisi filsafat Islam yang ada di Persia dan wilayah Islam bagian Timur lainnya tak benar sama sekali. Di wilayah-wilayah Islam bagian Barat itu sendiri ada seorang tokoh filosuf sekaligus sufi penting lainnya setelah Ibnu Rusyd, namanya Abd al-Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr, atau lebih dikenal sebagai Ibnu Sab’in.

Ibnu Sab’in dikenal sebagai seorang sufi filosofis Andalusia kelahiran Valle De Ricote, Murcia tahun 614 H 1217 M dengan gelar Quth al-Din (Qutub Agama). Yang menarik dari Ibnu Sab’in ini selain pemikirannya adalah tentang perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan rintangan mulai dari Murcia hingga ke kota Mekkah.

Ketika masih di Murcia, Ibnu Sab’in pernah ajak berdebat tentang pemikiran filsafat Aristoteles oleh Kaisar Frederick II (1194-1250 M), tetapi jawaban yang diberikan membuatnya diusir karena dianggap sebagai filosuf. Di Tunisia pandangan Ibnu Sab’in ditentang oleh Abu Bakr ibn Khalil al-Sukuni, seorang faqih. Di Afrika Utara dan Mesir pemikirannya ditentang keras oleh al-Qasthalani karena dianggap mengandung ajaran ateisme.

Di masa tuanya Ibnu Sab’in menetap di Mekkah sebagai tempat peristirahatan terakhir sekitar tahun 669/1279. Maka khayal keadaan kematiannya hingga kini masih menjadi mesteri.

Ada beberapa kalangan mengatakan kalau Ibnu Sab’in dipaksa untuk melakukan bunuh diri. Ada yang mengatakan kalau Ibnu Sab’in bunuh diri di depan Ka’bah karena mengalami ektase penyatuan, sementara yang lain mengatakan kalau Ibnu Sab’in meninggal karena diracun.

Konon katanya, sebelum meninggal Ibnu Sab’in mendirikan suatu tarikat bernama tarikat al-Sab’iniyah. Dan, yang menarik dari tarikatnya, memiliki silsilah kepada filosof besar seperti, Hermes, Socrates, Plato, Aristoteles, Iskandar Agung, al-Hallaj, al-Niffari, al-Habsyi, Qadhab al-Ban, al-Asyudzi, al-Suhrawardi al-Maqtul, ibn al-Faridh, al-Qisi, Ibnu Massrah, Ibnu Tufayl, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, abu Maydan al-Tilimsani, Ibn al-Arabi, al-Harrani, Adi ibn Musafir dan terakhir Ibnu Sab’in sendiri. Ini didasarkan pengakuan salah satu murid Ibnu Sab’in; al-Syusytari.

Tarikat yang didirikan Ibnu Sab’in sangat menarik karena bisa mengambarkan suatu tarekat dengan corak sinkritisme yang memadukan berbagai macam aliran baik itu bercorak Islam, Yunani, atau Timur sekalipun. Sayangnya tarikat Ibnu Sab’in ini bertahan hingga masa Ibnu Taymiyah yang begitu tampak jelas menolaknya. Hal ini bisa dilihat dari karya Ibnu Taimiyah, al-Masail al-Iskandariyah fi al-Radd ‘ala al-Malahidah al-Ittihadiyah al-Sab’iniyah.

Terlepas dari itu, secara defitif Ibnu Sab’in lebih cenderung pro terhadap pemikiran teologi Syiah, terutama ketika menjelaskan pandangannya tentang “transendensi kesatuan wujud” atau bahasa tasawuf sebagai al-Wahdat al-Muthlaqah. Pada suatu kesempatan kelak penulis akan menguraikan apa itu al-Wahdat al-Muthlaqah dalam pandangan Ibnu Sab’in.

Penting untuk diuraikan, karena padangan Ibnu Sab’in ini banyak mendapatkan tantangan dari kalangan tokoh-tokoh eksoterisme agamawan baik, di Maghrib maupun di Timur. Bahkan konon, di kota Mekkah sendiri Ibnu Sab’in banyak mendapat serangan dari berbagai tempat yang didukung langsung penguasa.

Sebagai seorang filosof sekaligus seorang sufi dan pengikut Ordo Syawadhiyyah pengetahuan filsafat dan sufisme yang didapat Ibnu Sab’in bertemu sufi besar Andalusia dari Seville, Abu Abd Allah al-Syawdhi dimana saat itu dikenal sebagai filosof dan sufi yang berbakat pada filsafat dan sufisme.

Kalau mengacu pada tarikat yang memiliki silsilah pada filosof dan sufi besar dapat dikatakan Ibnu Sab’in memiliki pengetahuan secara ekstensif dan tradisi dikenal baik di kalangan sufi-sufi klasik dari Bagdad dan Khurasan. Misalnya, al-Junayd, al-Hallaj, Abu Bayazid dan al-Ghazali, sebagai guru-guru awal dari kalangan sufi di Andalusia seperti, Ibnu Massrah, Ibn Qasi dan ibn Arabi, yang seperti Ibnu Sab’in lahir di Murcia, pindah ke Afrika Utara dan Mesir, serta berakhir di kota Mekkah.

Selain itu, Ibnu Sab’in juga mempelajari pemikiran-pemikiran filosof Timur seperti al-Farabi dan Ibnu Sina, serta filosof berkebangsaan Spanyol seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Tufyl, serta Ibnu Rusyd, dan juga pemikiran Suhrawardi dengan klasifikasi dan kecaman yang sering kali menyertai para filosuf dan sufi awal.

Meski mengenal banyak pemikiran para filosuf dan sufi, Ibnu Sab’in adalah pengikut doktrin “keesaan absolute” dimana dalam pandangannya hanya wujud Allah dan sama sekali bukan yang lain. Pandagannya ini sebagai kritik atas para pemikir Islam awal yang dianggapnya tak memiliki jangkauan luas pada “kesatuan absolute”.

Menarik untuk dicatatan dari Ibnu Sab’in juga adalah pengetahuan ekstensif tentang agama selain agama Islam seperti, Yudaisme, Kristen dan Hinduisme, Zoroastrianisme, serta filsafat Yunani termasuk Hermeticisme. Lebih dari itu, Ibnu Sab’in juga dianggap sebagai mahaguru dalam bidang ilmu-ilmu perlambangan, terutama tentang makna batin huruf-huruf dan kata.

Budd al-Arif adalah karya satu-satunya Ibnu Sab’in yang sampai pada kita. Karya ini dimulai dengan ulasan logika dan diakhiri metafisika serta dianggap sintesis ajaran-ajaran metafisikanya yang sulit dicerna dan seringkali mengandung kalimat-kalimat kabbalistik, maknanya tak mudah dimengerti. Meski begitu, karyanya ini lebih banyak berpengaruh di kalangan sarjana Barat.

Melalui karya ini, Ibnu Sab’in memberikan jawaban atas empat pernyataan filosofis Kaisar Frederik II yang berakhir pengusiran dari Murcia. Budd al-Arif diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi terkenal di kalangan kaum Skolastik Barat modern.

Sebagai wakil terakhir dari tradisi intelektual filsafat Islam dari Maghrib, Andalusia, Ibnu Sab’in telah mencatat sintesis antara praktek kehidupan spiritual dan doktrin intelektual pertama setelah Ibnu Massrah yang berpegang teguh pada kemurnian ajaran Islam di tanah Andalusia.

Tak mengherankan, kalau ada yang mensejajarkan pemikiran Ibnu Sab’in dengan pemikir besar seperti, Suhrawardi dan ibn al-Arabi sebagai guru spiritual Islam yang mengkombinasikan kemurnian jiwa dengan kesempurnaan intelektual sehingga menciptakan sintesis antara kehidupan spiritual dan pemikiran spekulatif, antara sufisme dan filsafat Islam.

Sekali lagi, sebagian kalangan intelektual Barat boleh saja mengklaim bahwa tradisi filsafat Islam mati seiring kematian Ibnu Rusyd sebagai simbol dari rasionalisme Islam. Akan tetapi, kalangan intelektual Barat juga mesti melihat dalam tradisi filsafat Islam di Spanyol sebagai suatu rasionalisme murni Aristotelian yang memiliki pengaruh besar yang kagumi dan ditakuti.

Kunjungan Ibnu Sab’in ke Timur dan meninggal di kota Mekkah sebagai jantung umat Islam bisa jadi adalah sebagai simbol perkawinan pengetahuan yang dapat mengubah dan memancarkan praktek spiritual dengan membuka hati yang disambut hangat sebagai pengetahuan. Cahaya tradis integral filsafat Islam adalah sintesis antara praktek sufisme dan fislafat sebagai metafisika dan makrifat dalam pemikiran Ibnu Sab’in bisa jadi pesan sentaral.

Pada akhirnya, jika dengan perjalanan Ibnu Sab’in ke kota Mekkah cahaya filsafat Islam mengecil di wilayah Islam di Andalusia, dan memancarkan sinar benderang di wilayah Timur Islam maka harus dibaca sebagai bagian dari sunnatullah, bahwa mahatari tak akan selamanya bersinar terang di Barat dan sebaliknya.